nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Punya Ciri Khas Tersendiri, Ini Motif Kain Tenun dari Nagekeo NTT

Harisah Chamil, Jurnalis · Jum'at 12 April 2019 23:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 12 194 2042873 punya-ciri-khas-tersendiri-ini-motif-kain-tenun-dari-nagekeo-ntt-OnCnZ3VpLR.jpg Kain Tenun (Foto: Istimewa)

INDONESIA memiliki aneka kekayaan yang beragam. Salah satunya adalah kain nusantara yakni tenun. Setiap daerah memiliki ciri khas tenun tersendiri, termasuk kabupaten NTT.

Di kabupaten Nagekeo misalnya lebih identik dengan kain tenun kombinasi warna hitam dan kuning. Lembar di bagian depan berwarna hitam, sedangkan di bagian belakang berwarna kuning keemasan.

Kombinasi warna mencolok inilah yang membuat tenun asal Nagekeo lebih mudah diingat dibandingkan tenun ikat dari daerah lainnya.

Masing-masing berbeda tergantung desa penghasilnya. Beda desa memiliki beda motif dan status sosial. Hal ini juga biasanya tergantung dengan motif dibalik kain tenun itu sendiri," ujar Julie Sutrisno Laiskodat selaku Ketua Dekranasda NTT di sela-sela Soft Launching Festival Literasi Nagekeo, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, belum lama ini.

Baca Juga: Kain Tenun Etnik Melenggang Lagi di Negeri Kincir Angin

Kain Tenun

Julie menambahkan, kain tenun merupakan salah satu mata pencaharian penduduk di NTT. Pasalnya menenun tidak memiliki musim layaknya pekerjaan utama lainnya seperti bertani.

Permintaan akan tenun sendiri cukup besar karena kain ini digunakan untuk perayaan suka maupun duka.

"Saya melihat tenun bukan hanya budaya saja tapi juga meningkatkan perekonomian NTT. Sekitar 80 persen penduduk bekerja sebagai petani tapi ada musimnya. Nah menenun ini tanpa musim kalau sekarang penenun menjadikan ini sebagai pekerjaan sambilan," imbuh pemilik butik LeViCo ini.

Julie mengatakan bahwa Dekranasda berusaha membantu para pengrajin tenun untuk bisa berkarya dengan memberikan bantuan modal benang dan upaya pemasaran. Sehingga, kata Julie, pengrajin tak perlu repot-repot untuk menjualnya.

Mereka tidak punya modal atau alat. Pangsa pasar tidak tahu harus dibawa ke mana. Itu yang sedang kami beri solusi. Jadi Dekranasda memberi tempat, memberi modal benang setelah itu mereka jual kembali ke kami. Mereka tidak harus mikir pangsa pasarnya," ujar Julie.

Perempuan yang baru saja menerima piagam penghargaan tokoh 'Pelopor Literasi Tenun Ikat Nagekeo NTT' oleh Bupati Nagekeo di Perpustakaan Nasional ini mengaku bahwa mempromosikan kain tenun Nagekeo memiliki beberapa tantangan.

Menurutnya kini banyak industri yang menjual kain tenun printing. Hal ini kata dia bisa mematikan upaya pengrajin tenun ikat asal Nagekeo.

"Kami punya kendala masalah sekarang motif kami telah diprinting begitu merajalela itu yang mematikan pengrajin kami. Itu yang sedang kami cari solusinya, karena pengrajin membuat kain tenun butuh waktu lama, namun untuk kain printing bisa menggunakan mesin," tandasnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini