nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Duka Nurul, Meninggal Setelah Melahirkan Gara-Gara Preeklampsia

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 15 April 2019 20:32 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 15 481 2043859 kisah-duka-nurul-meninggal-setelah-melahirkan-gara-gara-preeklampsia-Yr9Hv2gQYb.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Kelahiran anak selalu menjadi momen yang membahagiakan bagi pasangan suami istri. Terlebih jika itu adalah anak pertama. Namun, situasi berbeda dirasakan oleh Farabi Firdausy, warga Jakarta.

Di satu sisi, dia merasa bahagia karena buah hati pertamanya lahir dalam kondisi sehat. Namun di sisi lain, dia harus merasakan kehilangan karena istri tercintanya meninggal tak lama setelah melahirkan.

Kepada Okezone, Farabi menceritakan peristiwa yang dialaminya. Di usia kandungan 37 minggu, sang istri mengalami demam tinggi. Di hari pertama demam, almarhumah istrinya yang bernama Nurul Isnindianingsih langsung dibawa ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata perempuan berusia 26 tahun itu positif terkena demam berdarah dengue (DBD) sehingga harus menjalani rawat inap.

“Tapi sudah empat hari (dirawat), dengan segala penanganan maksimal plus transfusi trombosit, kondisi istri saya terus melemah. Ternyata setelah dicek istri saya ada preeklampsia,” ujar Farabi saat dihubungi melalui pesan singkat, Senin (15/4/2019).

pasokan nutrisi pada janin menjadi terganggu karena preeklampsia membuat plasenta menjadi abnormal.

(Ilustrasi melahirkan)

 Baca Juga: 5 Potret Ayu Ting Ting Pakai Hijab saat Liburan di Turki, Bikin Adem Lihatnya

Preeklampsia memang lebih mungkin terjadi pada kehamilan pertama. Dalam kondisi sehat, biasanya ibu hamil yang mengalami preeklampsia akan melahirkan lebih cepat dari perkiraan waktu. Hal ini dilakukan guna mencegah komplikasi serius pada ibu dan janin dalam kandungan. Terlebih pasokan nutrisi pada janin menjadi terganggu karena preeklampsia membuat plasenta menjadi abnormal.

Akan tetapi, pada saat almarhumah Nurul diketahui mengalami preeklampsia, kondisinya tidak memungkinkan untuk segera menjalani operasi melahirkan. Menurut dokter yang menangani, preeklampsia yang dialami oleh almarhumah tergolong berat dan ketika itu trombositnya sangat rendah.

Dihadapkan pada situasi yang sulit, almarhumah Nurul tidak bisa berpikir terlalu banyak. Belum lagi kondisi psikologisnya turut terpengaruh. Sementara Farabi berpikir agar operasi caesar dijalankan ketika kondisi sang istri sudah benar-benar kuat. “Tapi tiba-tiba istri saya kejang yang merupakan efek preeklampsia sehingga sudah enggak ada pilihan selain operasi,” imbuhnya.

Semula operasi berjalan lancar dan dokter yang menangani juga merasa senang karena baik ibu maupun bayi berhasil diselamatkan. Hasil pemeriksaan setelah operasi caesar juga menunjukkan kondisi nafas dan jantung ibu maupun bayi terbilang bagus. Selain itu, kekhawatiran akan pendarahan berlebih saat operasi juga tidak terjadi.

 Baca Juga: Kenali Penyebab Mimisan, seperti yang Dialami Aurel Hermansyah

Pada saat itu, tentunya tidak pernah terlintas atau terbayangkan dalam benak Farabi jika sang istri akan meninggalkannya untuk selama-lamanya. Namun nyatanya takdir berkata lain. Ketika dini hari, kondisi almarhumah Nurul mulai menurun. Dirinya mengalami komplikasi dari preeklampsia yang mengarah ke HELPP Syndrome.

“Organ istri saya banyak yang kena karena itu. Kurang dari 24 jam setelah operasi, istri saya berpulang,” ujar Farabi.

Kepergian sang istri tentu meninggalkan duka mendalam bagi pria berusia 27 tahun itu. Melalui curahan di media sosial, Farabi mengatakan jika peristiwa ini menjadikannya pribadi yang lebih baik dan kuat. Terlebih dengan kehadiran Archie Nugho Firdausy, buah cintanya dan almarhumah Nurul yang lahir pada 31 Maret 2019 lalu.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini