nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Uno Dinikahi Pria Jerman: Tanpa Kata, Tanpa Suara, Aku Memahaminya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 17 April 2019 01:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 16 612 2044330 kisah-uno-dinikahi-pria-jerman-tanpa-kata-tanpa-suara-aku-memahaminya-s2MYH7EZpb.jpg Pernikahan beda bangsa Uno Kartika dengan pria Jerman (Foto:Ig)

CINDERELLA bertemu dengan pangerannya di acara kebangsawanan, Putri Salju bertemu pangerannya di hutan, dan masih banyak lagi putri negeri dongeng yang bertemu pujaan hatinya dengan cara yang beragam. Semuanya pun kemudian hidup dengan bahagia.

Kisah negeri dongeng ini mengajarkan kita kalau jodoh bisa datang dari mana saja. Tidak hanya itu, jodoh juga bisa datang kapan pun tanpa memandang ekonomi atau juga siapa Anda di dunia ini. Begitu rahasianya malah Anda tidak bisa memprediksi kapan momen bahagia itu datang.

Bicara mengenai jodoh, kisah Uno Kartika ini mungkin bisa menjadi contoh lain dari kisah negeri dongeng. Gadis yang satu ini bertemu dengan kekasihnya dari aplikasi kencan dan tidak ada yang tahu kalau pria berdarah Jerman itu akan jadi teman hidupnya sekarang.

Ya, Uno menceritakan kalau dirinya dan sang suami, Kay, bertemu melalui Tinder. Semua terjadi tanpa direncana dan niat awal mengenal sosok pria bule tersebut sebatas untuk memperdalam bahasa Inggris. Alasan kebanyakan orang Indonesia juga kenapa mau berteman dengan bule.

Uno berkenalan dengan Kay setelah setahunan menjomblo. Dengan niat memperdalam bahasa Inggris, akhirnya dia setuju untuk mencari orang asing di Tinder. Semesta ternyata tidak memberikan respon yang setimpal, dia malah bertemu dengan bule Jerman, yang mana notabene kurang lancar juga berbahasa Inggris.

Baca Juga:

Tampilan Seksi Gisella Anastasia yang Bikin Gagal Fokus!

"Tapi, he's better than me, jadi bagus lah buat practice juga," terang Uno sedikit guyon. Obrolan Okezone dan Uno semakin dalam. Kami membahas lebih lanjut bagaimana semesta mempersatukan mereka. Uno menjelaskan, itu semua karena waktu. Ya, semakin lama kedekatan di antara mereka terbangun. Sekali lagi, dengan bahasa di antara mereka yang sebetulnya kurang oke. Tapi, mereka tetap menguatkan dan sampai akhirnya si bule mengutarakan janji. Ya, janji untuk mau menjalin hubungan yang lebih serius dengannya.

"Setelah 1,5 bulan chatting, kami ketemuan. Singkat cerita, kami pacaran dan dia bilang mau serius di bulan keduanya. Ya, dari situ aku mulai kenalin ke orangtua dan keluarga besar. Aku sering ajak dia di acara keluarga. Sempat ada sikap skeptis, tapi semua luluh dengan berjalannya waktu," papar Uno.

Pertemuan dengan Keluarga

Ini mungkin momen paling penting dalam hubungan beda benua. Bagaimana pun orangtua mesti tahu siapa sosok yang bakal selalu ada di samping anaknya kelak, terlebih jika itu anak perempuan. Orangtua ingin tahu nanti anaknya akan hidup seperti apa dan bagaimana kelanjutan hidupnya.

Sikap skeptis ini pun muncul di keluarga Uno. Dia menjelaskan, perbedaan budaya, keluarga, lalu masa depan menjadi kendala paling nyata di hubungan beda benua ini.

Namun, Uno menceritakan, dia dan pasangannya coba untuk melerai semua masalah yang menghadang. Niat mereka sudah bulat untuk menikah dan apapun rintangannya, siap mereka hadapi.

"Rintangan paling jelas di sini ialah agama. Tapi, kami akhirnya belajar agama lebih dalam lagi dan Alhamdulillah, suami masuk Islam dan mau menjadi imam aku seumur hidup. Ini luar biasa buat aku dan itu juga yang membuat aku mantap mau dipinang suamiku sekarang," ungkap Uno.

Kembali ke masalah pertemuan keluarga. Momen itu terjadi dengan perasaan campur aduk. Uno tahu betul, dia membawa seorang pria yang dia harap bisa menjadi imam hidupnya di masa depan. Dia sadar betul, sosok pria ini juga yang nantinya akan menemani dia dalam suka maupun duka. Satu keinginan dia saat menghadap kedua orangtua, "Aku berharap keluargaku merestui dan Alhamdulillah semua setuju," singkatnya.

Perkenalan dengan keluarga dianggap Uno juga sebagai momen 'deg-degan' yang tak biasa. Uno mempertemukan sang suami ke depan kedua orangtuanya saat si pria bersedia mengantarkannya pulang. Dari sana muncul obrolan dan akhirnya sepakat untuk ketemu.

 

Pertemuan demi pertemuan pun terus dilakukan Uno untuk mempertebal bonding orangtuanya dengan sang pria. Itu kenapa, sambung Uno, dirinya sering mengajak sang pria bule itu pergi makan bersama dengan kedua orangtua dan adiknya.

"Aku juga kadang ngajak suami aku ke acara ulang tahun atau lebaran bareng di rumah. Dari pertemuan itu semua akhirnya orangtua aku open," katanya.

Opennya keluarga Uno juga tak lepas dari adanya pengalaman di keluarga besarnya yang menikah dengan bule juga. Uno mengaku, tante dan sepupunya juga ada yang menikah dengan orang asing. Mereka menikah dengan orang Amerika Serikat dan Belanda.

"Jadi sebetulnya tidak begitu asing banget di keluarga aku. Tapi, syarat orangtua pokoknya agama harus sama. Jadi, ya, kami sama-sama belajar Islam dan dia jadi muslim ikut dengan saya," papar Uno.

Terkait dengan pendalaman agama Islam, Uno mengaku kalau dirinya meminta bantuan dari beberapa ustadz untuk memberikan bekal pendalaman agama. Ini semua dia lakukan juga karena Uno sadar agama Islam-nya pun belum begitu baik dan tentu agar apa yan dipelajari benar dan sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Bahasa jadi masalah terbesar

Kendala paling besar dari hubungan dengan orang asing adalah bahasa. Tentu, budaya dan kebiasaan juga menjadi hal lain yang tak bisa ditutupi juga. Tapi, bahasa adalah hal keseharian dan jika ini tidak bisa dipecahkan, mau jadi apa hubungan pernikahan nantinya?

Uno sadar betul, bahasa Jermannya kurang begitu baik dan bahasa Inggris di antara mereka pun tidak begitu nattive. Tapi, kendala itu kemudian luntur karena cinta. Percaya atau tidak, Uno menjelaskan kalau dirinya pernah dalam satu fase di mana dia sulit menjelaskannya dalam bahasa Inggris dan suaminya pun sulit membantunya. Tapi, karena bahasa cinta di antara keduanya, masalah itu bisa diatasi.

"Kami komunikasi bukan dengan bahasa ibu masing-masing. Tapi, lama-lama kan tahu kepribadian, kebiasaan, jadi tanpa bahasa juga tahu apa yang dimaksud, kadang-kadang. Tapi, ini jadi tempat kami belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi," papar Uno.

Dia juga mengaku kalau sekarang ini sedang belajar bahasa Jerman, selain untuk memenuhi syarat pembuatan visa, itu juga dilakukan untuk komunikasi di antara mereka dan orang-orang yang ada di sekitar mereka.

 

Baca Juga:

Meme-Meme Master Chef Indonesia yang Bikin Ngakak, Chef Juna Jadi Bulan-Bulanan

"Kalau ada kesulitan komunikasi, kami coba pelan-pelan untuk tahu apa yang dimaksud. Jadi, misal aku nggak tahu kata yang dimaksud untuk ngejelasin, harus ganti dengan kalimat atau kata lain yang udah diketahui. Harus sabar emang. Kadang-kadang kami juga tidak sabaran, apalagi kalau lagi butuh cepat. Tapi, kembali lagi, itu semua jadi bahan pelajaran kita berdua dan melatih kesabaran," papar Uno.

Dalam suasana hati bahagia, Uno menjelaskan kalau dirinya kini merasa sempurna. Dia menjalani hidup dengan orang yang menurutnya tepat. Pernikahan mereka pun tak begitu banyak masalah, hanya masalah kecil-kecil. Pernikahan mereka pun dianggap sebagai hadiah paling manis dari Tuhan.

"Pernikahan kami ini adalah wadah kami berdua belajar untuk jadi manusia yang lebih baik lagi dan berpikiran lebih terbuka. Banyak hal baru yang kami dapatkan dan dari itu semua kami belajar mengenai hidup. Dari suamiku juga aku belajar bagaimana sikap toleransi dan mencintai kedamaian," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini