nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Caleg Gagal Lalu Alami Gangguan Mental, Psikolog: Itu seperti Bisul Pecah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 17 April 2019 14:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 17 196 2044614 fenomena-caleg-gagal-lalu-jadi-gila-psikolog-itu-seperti-bisul-pecah-iBq08AnDjG.jpg Fenomena caleg gila (Foto: Nothern Star)

PEMILU menawarkan banyak rasa. Mulai dari optimisme, semangat berdemokrasi, hingga kekecewaan paling dalam. Emosi semacam ini akan Anda rasakan mulai dari hari ini, tepat di momen penyoblosan, Rabu 17 April 2019.

Banyak harapan yang diinginkan masyarakat untuk Indonesia di masa depan. Mimpi menjadi bangsa yang lebih maju tak pernah putus dipanjatkan pada Sang Maha Esa. Begitu juga mimpi para calon legislatif yang ingin mendapatkan titel di negara ini. Melakukan tugas mulai, menjadi penyambung lidah rakyat pada mimpi mereka di negara ini.

 BACA JUGA : Jokowi-Ma'ruf Amin Konsisten Berbusana Serba Putih di Pemilu 2019

Namun, yang namanya Pemilu tetap saja akan ada menang dan kalah. Tidak bisa semua calon kemudian menang dan berbahagia. Akan ada pihak yang kecewa, hingga mereka depresi karena mimpi yang tak tercapai. Hal ini juga yang ternyata membuat fenomena caleg depresi setiap tahun Pemilu akan ada.

Fenomena ini dianggap Psikolog Meity Arianty mirip dengan bisul pecah! Saat para caleg memupuk harapan begitu besar, angan-angan di depan mata, hingga pengharapan banyak orang padanya, sirnah begitu saja seperti bisul yang sudah lama ada di kulit dan pecah seketika dalam hitungan menit. Sakit? Tentunya.

"Depresi bisa terjadi karena akumulasi stres yang tak lagi bisa terbendung. Proses ini dimulai dari saat mereka memutuskan untuk nyaleg, perjuangan secara fisik; bagaimana dia menggerakkan orang-orang, mengumpulkan uang untuk kampanye, bahkan mungkin pinjam uang demi perjuangannya. Belum lagi beban psikologis yang sangat lelah, setiap hari kampanye dan memiliki harapan besar dan mimpi untuk bisa jadi nyata, sementara itu semua bisa saja lenyap di momen nyoblos hari ini. Jika gagal, itu seperti bisul pecah yang ada di tubuh," papar Psikolog Mei pada Okezone melalui pesan singkat, Rabu (17/4/2019).

 

Karena perasaan kecewa yang teramat itu seseorang bisa menjadi depresi dan bisa saja sampai menyebabkan dirinya tak bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia imajinasinya. Ini tentu sulit diterima, tetapi jika Anda tetap sadar akan saat ini, itu bisa menahan pikiran lepas kendali hingga menyebabkan halusinasi atau juga depresi.

Maka dari itu, Psikolog Mei menyatankan untuk para caleg untuk tetap sadar, karena kesadaran adalah hal yang sangat penting terkait dengan penerimaan. Sebab, penerimaan bisa muncul ketika Anda sadar akan suatu hal. Sikap sadar ini seperti penahan Anda untuk lepas dari dunia nyata.

"Logikanya, kalau dia sadar bahwa sedang berjuang artinya dia harus memegang 2 hal ini; menang dan kalah. Dua hal ini harus masuk dalam proses kesadaran dan penerimaan dia," terangnya.

Nah, dengan sadar dan menghadirkan penerimaan dalam diri, ini akan membuat seseorang merasa legowo atau ikhlas menerima ketika dia tak mendapatkan apa yang diharapkannya. Selain itu, dia juga tidak akan stres sampai berakibat pada depresi.

"Kesal sejenak, kecewa, sedih, marah sejenak, itu semua nggak apa-apa dilakukan, manusiawi. Tapi tidak berlarut dan berkepanjangan yang ujungnya membuat dia tidak mau menerima kenyataan. Hal ini juga yang membuat seseorang stress atau bahkan depresi," tegasnya.

Psikolog Mei menambahkan, selain sadar dan memunculkan penerimaan dalam diri, dukungan dan semangat dari orang terdekat juga bisa menjadi upaya untuk menekan depresi ini. Karwna itu, peran keluarga sangat diperlukan di sini. Semangat dan dukungan jangan pernah putus diberikan.

"Keluarga yang paling berpengaruh dalam hal ini, karena yang dibutuhkan oleh caleg yang gagal adalah dukungan. Saat keluarga dan orang-orang terdekatnya memberikan dukungan dan semangat, biasanya akan cukup membantu," tambahnya.

Walau menurut Psikolog Mei, sebenarnya saat caleg yang gagal harus menelan kepahitan tidak terpilih, maka yang dia butuhkan adalah ketenangan. Ya, mereka hanya butuh tenang!

 BACA JUGA : Jari Masih Ungu karena Tinta Pemilu, Wudhu Sah Gak Ya?

"Mereka itu harus tenang sesaat dan mencoba menerima dulu apa yg terjadi, nggak usah lakukan hal lain dan menurut saya dia nggak akan butuh apa-apa selain tenang dan diam sejenak untuk menerima kondisi dan keadaan yang terjadi. Saya yakin ini akan membantunya untuk dapat berpikir lebih sehat, apa yang harus dilakukan selanjutnya," papar Psikolog Mei.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini