nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tetap Sayang Meski Pasangan Selingkuh? Psikolog: Kondisi Ini seperti Lingkaran Setan!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 19 April 2019 14:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 19 196 2045525 tetap-sayang-meski-pasangan-selingkuh-psikolog-kondisi-ini-seperti-lingkaran-setan-dO3aaCiwl0.jpg Tetap setia kepada pasangan yang selingkuh? (Foto:Ist)

COBA Anda sadari sekarang, sudah sejauh mana hubungan percintaan Anda dengan si doi. Jika salah satu dari Anda ada yang merasa tidak seimbang, maka sebaiknya bicarakan dan jangan takut untuk melakukannya.

Sebab, dalam hubungan percintaan, tentu kebahagiaan harus bisa dirasakan keduanya. Tidak bisa hanya si pria yang bahagia sementara itu si perempuan menahan tangis tiap malam, pun sebaliknya. Sikap egois seperti ini sebaiknya diminimalisir dan jangan pernah mau menang sendiri.

Selain masalah itu, mungkin Anda juga familiar dengan beberapa orang yang memiliki masalah ini; Sudah sering disakitin, tapi tetap cinta dan tidak mau melepaskan. Lantas, tahukah Anda kenapa sikap ini bisa muncul?

Psikolog Meity Arianty menjelaskan kalau kondisi seperti ini tidak terjadi secara instan. Apa yang dialami seseorang dengan kasus seperti itu disebut dengan fenomena Stockholm Syndrome.

"Kondisi ini terjadi saat Anda yang sering disakiti merasa mampu memaafkan dan setelah itu Anda malah tidak bisa keluar dari keadaan tersebut. Anda juga memilih pasrah, sekali pun di awal Anda merasa marah, kesal, hingga merasa direndahkan," papar Psikolog Mei pada Okezone melalui pesan singkat, Jumat (10/4/2019).

Nah, saat Anda merasa tidak bisa berbuat apa-apa, Anda malah terbiasa dengan keadaan seperti itu hingga akhirnya Anda menerima kondisi tersebut sebagai bagian dari hidup Anda.

Menurut Psikolog Mei, kondisi ini banyak dialami remaja atau dewasa muda di mana dia memiliki pacar yang posesif bahkan sampai abusif. Jadi, awalnya dia melarang Anda bertemu dengan teman-teman Anda, dia tidak memperbolehkan Anda keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain, sangat membatasi Anda, hingga akhirnya Anda tidak memiliki siapa-siapa selain dia.

Di titik ini, saat dia memperlakukan Anda seeenaknya, kasar, dan bersikap sangat menyakiti Anda, dia akan minta maaf dengan alasan tidak ingin kehilangan Anda, bahkan beberapa orang ada yang samapi sujud nangis-nangis agar dimaafkan.

"Saya nilai, awal Anda akan memaklumi, tapi lama kelamaan Anda jadi kasihan. Setelah itu, timbul lah rasa empati, merasa dia patut dikasihani dan nggak seharusnya dihukum. Anda jadi merasa tidak adil apabila Anda marah, bahkan meninggalkan dia. Saat itulah Anda merasa dia "sakit" dan membutuhkan pertolongan, sehingga Anda harus bersamanya untuk membantunya," ungkapnya.

Psikolog Mei melanjutkan, tanpa sadar hal ini jadi kayak lingkaran setan, karena tidak ada penyelesaiannya. Malah, yang ada Anda terjebak dalam situasi tersebut dan tidak bisa menjauh., bukan begitu?

Baca Juga:

Menantu Jokowi, Selvi Ananda Pakai Selop Mahal saat Nyoblos, Berapa Harganya?

Pangeran Harry Marah Dengar Ucapan William Tentang Meghan Markle, Kenapa Ya?

Lantas, upaya terbaik seperti apa yang bisa dilakukan, terkhusus pada mereka yang bucin di mana akal dan hati tidak lagi sinkron?

Nah, saat seseorang sudah dalam tahapan ini, Psikolog Mei menjelaskan, biasanya dia tidak meminta mereka untuk berhenti dan mengajak mereka realistis, karena upaya itu tidak mungkin dilakukan dalam kondisi ini. Nggak akan ada gunanya ngobrol dengan orang yang mabok, kan?

"Jadi, yang aku lakukan adalah bertanya seberapa besar sayang kamu ke dia? Apa kamu bahagia selama ini menjalin cinta dengannya? Masih kuat bersamanya dengan perilaku dia sejauh ini? Kalau dia bilang; sayang banget, aku kadang bahagia, kadang nggak dan aku sebenarnya udah gak kuat tapi nggak tahu juga harus berbuat apa - aku biasanya bilang, kamu tahu apa yang terbaik untuk diri kamu sendiri, kamu yang bisa mutusin apa jalan terbaik untuk hidup kamu. Kalau kamu masih kuat, jalanilah semampumu kalau itu yang kamu rasa baik, tapi kalau lelah, berhentilah," terangnya.

Psikolog Mei menegaskan di sini, hal yang penting itu adalah diri Anda berbahagia. Dan, berdasar pengalamannya selama ini menangani kasus seperti ini, kliennya akan menangis dan bilang; Aku mau berhenti tapi nggak tahu caranya, barulah Psikolog Mei masuk untuk membantu. Tentu penanganan yang diberikan tergantung bagaimana kondisi si klien. Setiap masalah punya penanganannya sendiri dan ini tergantung dari individu-nya itu juga. Sangat subjektif.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini