nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Luba Laya, Lontong Nikmat Khas Dayak Lundayeh di Festival Crossborder Nunukan

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Sabtu 20 April 2019 14:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 20 298 2045846 luba-laya-lontong-nikmat-khas-dayak-lundayeh-di-festival-crossborder-nunukan-ldL7evs6oh.jpg Ilustrasi. Foto: Instagram

NUNUKAN - Sepertinya tak ada habisnya membicarakan kuliner nusantara. Selalu saja ada makanan unik dan nikmat di setiap daerah Indonesia. Beruntunglah wisatawan yang berkunjung ke Festival Crossborder Nunukan yang digelar 27-28 April 2019. Sebab wisatawan dapat mencicipi Luba Laya, kuliner khas Suku Dayak Lundayeh yang dijamin mengoyang lidah.

"Soal kuliner Kalimantan itu sangat kaya, referensinya banyak. Inilah salah satu tujuan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Festival Crossborder. Kami ingin mengangkat juga kekayaan kuliner di Kalimantan sehingga makin dikenal wisatawan," ujar Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Adella Raung, Jumat (19/4/2019).

Luba Laya sendiri bentuknya sepintas seperti lontong. Namum ini bukan lontong sembarang lontong. Kuliner khas suku Dayak Nunukan ini beda rasanya karena terbuat dari beras organik, beras Adan Krayan. Hal tersebut membuat rasanya lebih gurih dan sedikit manis dibanding dengan lontong biasa.

Biasanya Luba Laya ini dibungkus menggunakan daun itip, sejenis pohon pisang-pisangan yang biasanya ditanam untuk taman. Hal ini untuk mendapatkan bau harum yang khas. Namun bisa juga dibungkus dengan daun pisang tanpa mengurangi rasa dari kuliner tersebut.

Kuliner ini paling enak disantap dengan telu atau biter. Bisa juga dinikmati dengan Dorma dan Soto. Rasanya dijamin nagih.

Menurut Adella, nikmatnya berbagai kuliner Kalimantan seperti Luba Laya kini menjadi buruan wisatawan. Khususnya wisatawan asal Malaysia dan Brunei Darussalam. Bahkan mereka rela berburu kuliner hingga ke Pontianak melewati Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nunukan.

"Potensi ini tentu bisa dimaksimalkan. Pengembangan destinasi kuliner di Nunukan dapat menjadi opsi untuk mendorong pengembangan perekonomian masyarakat. Opsi-opsi ini yang kita dorong lewat Festival Crossborder yang rutin kita gelar di Nunukan," terang Adella.

Terpisah, Kabid Pemasaran Area III Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Sapto Haryono menuturkan, kuliner menjadi sarana efektif menjaring wisatawan negeri tetangga. Apalagi lidah wisatawan Malaysia dan Brunei Darussalam sangat familiar dengan rasa kuliner di Kalimanta. Karena pada dasarnya masyarakatnya masih sama-sama rumpun Melayu.

"Kemasyuran kuliner Nunukan di negeri jiran sudah melegenda. Seperti beras Adan dari Krayan. Kalau mau makan nasi yang enak warga negara tetangga rela membayar mahal beras Adan. Makanya Sultan Brunei pun sangat menyukainya. Dari sini perlahan kita masuk," ujar Sapto.

Bagi Menteri Pariwisata Arief Yahya kuliner menjadi cara paling cepat, paling efektif, dan paling halus untuk melakukan penetrasi pasar wisatawan. Contohnya wisatawan Malaysia dan Brunei yang rela menempuh perjalanan jauh ke Pontianak hanya untuk berwisata kuliner.

"Itulah keunggulan kuliner kita. Siapa pun pasti terpikat. Kelezatan kuliner Indonesia sudah mendunia. Nah yang masih penasaran akan kelezatan kuliner khas Kalimantan silahkan datang ke Festival Crossborder Nunukan. Nanti akan ada bazzar kuliner juga disana," pungkas Menteri asal Banyuwangi itu.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini