nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nikmatnya Bubur Ase, Kuliner Langka Betawi

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 22 April 2019 04:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 21 298 2046216 nikmatnya-bubur-ase-kuliner-langka-betawi-NPkSw4QlL4.jpg Bubur Ase Khas Betawi (Foto: Cookpad)

MENIKMATI sajian bubur jamak dilakukan oleh warga Jakarta dan sekitarnya untuk mengganjal perut di pagi hari. Padahal, bubur nasi berkaldu yang topping -nya kebanyakan berupa suwiran daging ayam, kedelai, emping, seledri, bawang goreng, dan kerupuk itu bukanlah menu asli Betawi.

Bubur khas Betawi justru memiliki topping berbeda dan yang disayangkan, keberadaannya kini kian langka. Kelangkaan ini bisa terlihat dari minimnya pedagang bubur khas Betawi yang dinamakan bubur ase.

Konon, di seantero Jakarta, pedagang bubur ase jumlahnya cuma tiga orang. Sebagian pedagang itu malah pernah mengalami kondisi di mana ia hanya bisa berjualan berdasarkan pesanan, lantaran terbentur keterbatasan modal.

Padahal, penikmat bubur ini masih ada dan kerap mencarinya. Satu dari segelintir pedagang bubur ase adalah Siska Irianti. Siska merupakan putri Bu Neh, kreator sekaligus pendiri warung Bubur Ase Bu Neh.

Warung yang terletak di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, itu sudah ada sejak 1968. Beberapa bulan lalu Bu Neh wafat dan usaha ini diteruskan oleh sang anak.

Siska bercerita, awal terciptanya bubur ase adalah ketika almarhum Bu Neh melakukan uji coba membuat menu dengan memadukan bubur nasi dengan kuah semur.

Untuk menambah cita rasa, Bu Neh lantas memasukkan beberapa ingredient lain seperti semur daging dan tahu serta asinan yang berisi lobak, sawi, mentimun, dan taoge. Lazimnya asinan, sayur-mayur tersebut dibumbui gula dan cuka untuk menjadikannya terasa lebih segar. “Jadi resepnya memang ibu saya yang bikin. Awalnya beliau membuat bubur nasi, lalu dikuahi dengan kuah semur.

Ternyata menurut beliau enak. Semurnya berupa semur daging dan tahu. Daging dan tahu ikut dicampur ke dalam bubur, kuahnya memakai kuah semur tadi,” beber Siska, yang didapuk menjadi salah satu partisipan dalam ajang kuliner terbesar Festival Jajanan Bango di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam perkembangannya, bubur ase yang merupakan kependekan dari kata “asinan” dan “semur” juga memasukkan kacang tanah goreng, emping, dan kerupuk ke dalamnya.

Rasanya? Nanonano alias campur-campur. Ada manis-gu rih dari kuah semur, asam dari asinan, plus asin dari em ping dan kerupuknya. Kalau mau pedas, tinggal tambahkan sambal.

Berhubung topping -nya banyak, satu porsi bubur ase dijamin bisa langsung membuat perut kenyang. Bubur ase cocok dinikmati kapan saja. Namun, menurut Siska, permintaan akan bubur ini biasanya meningkat pada bulan Ramadan.

“Nggak tahu kenapa bubur ase laku keras kalau pas bulan puasa. Mungkin karena bubur ini ada asinannya, kan segar tuh. Cocok menjadi menu berbuka,” ujar Siska.

Siska menambahkan, beberapa waktu lalu, warung Bubur Ase Bu Neh sempat vakum berjualan lantaran Bu Neh dan sang suami sakit dan anak-anaknya harus lebih fokus mengurusi mereka.

Alhasil, operasional warung jadi terbengkalai se hingga berimbas pada minimnya pemasukan. Itu sebabnya, keluarga Siska sempat mengalami fase di mana mereka hanya bisa berjualan bubur ketika ada pesanan.

Baca Juga : Para Perempuan Tangguh dalam Alquran, Tak Semua Berhati Mulia

Beruntung, makin ke sini warung Bubur Ase Bu Neh bisa kembali berkembang. Apa lagi setelah salah satu produsen kecap memberi mereka tambahan modal demi keberlangsungan usaha ini. Siska jadi kian bersemangat untuk mengembangkan wa rung yang diwariskan oleh orang tuanya.

Walau hingga kini warung tersebut masih mengambil tempat berjualan di teras rumah Bu Neh yang berada di gang sempit. Tertarik mencoba bubur ase besutan Bu Neh? Siapkan kocek Rp15.000 untuk mendapatkan satu porsi bubur legendaris ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini