nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Membedah Esensi Paket Perjalanan Berkonsep Instagram yang Lagi Hits di Bali

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 26 April 2019 08:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 25 406 2048125 membedah-esensi-paket-perjalanan-berkonsep-instagram-yang-lagi-hits-di-bali-zMA8zGtALU.jpg Wisata Bali (Foto: Lonelyplanet)

PULAU Dewata Bali telah lama menarik perhatian wisatawan lokal maupun dunia. Pesona pemandangan alam nan indah yang dibalut dengan keunikan budaya lokal, menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia.

Nama Bali sendiri pertama kali dipromosikan oleh biro pariwisata Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1914. Barulah pada tahun 1970-an, para wisatawan Australia berbondong-bondong menyambangi Bali setelah terpikat oleh pesonanya.

Ada beberapa alasan yang membuat wisatawan Australia menjatuhkan pilihan mereka untuk berlibur di Bali. Selain ingin menyaksikan langsung pemandangan gunung vulkanik, sawah bertingkat, mereka juga tertarik untuk menjajal langsung sensasi berselancar di pulau tersebut.

 Baca Juga: Gaya Menawan si Cantik Nazanin Boniadi, Pemeran Zahra di Film Hotel Mumbai

Namun seiring berkembangnya zaman, para petualang Antipodean ini jumlahnya kalah telak dengan jumlah wisatawan asal China. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan China memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tahun 2018 lalu, Bali menyambut kedatangan lebih dari 1,4 juta wisatawan China. Jumlah ini berhasil mengalahkan jumlah wisatawan Australia dengan total kunjungan sekitar 1,2 juta wisatawan pada periode yang sama.

Peningkatan jumlah wisatawan ini tidak terlepas dari strategi promosi yang diluncurkan oleh beberapa agen perjalanan. Menyadari bahwa teknologi dan media sosial kini telah menjadi bagian dari gaya hidup kaum urban maupun milenial, beberapa agen perjalanan mulai menawarkan konsep wisata yang dirancang hanya untuk mendapatkan 'gambar-gambar sempurna' atau lebih dikenal dengan istilah, instagramable.

 

Sebut saja platform pemesanan online The Bali Bible. Mereka menawarkan paket tur senilai Rp1,3 juta dengan berbagai fasilitas pendukung. Selama kurang lebih 10 jam, para wisatawan atau influencer pemula akan diajak mengunjungi lima lokasi paling ikonik di Pulau Dewata Bali antara lain, Pura Lempuyang Luhur, kawasan persawahan Ubud, Bali Swing, dan masih banyak lagi. Paket ini terbilang laris, mengingat The Bali Bible sendiri memiliki lebih dari 925.000 follower di Instagram.

Selain itu, agen pemesanan tur online, Viator, yang kebetulan berada di bawah naungan TripAdvisor, juga ikut terjun menawarkan paket-paket tur berkonsep 'Bali Instagram Tour'. Destinasi yang disambangi kurang lebih mirip dengan yang ditawarkan oleh The Bali Bible.

Sebetulnya masih banyak agen-agen tur yang menjual paket yang serupa. Namun jika ditelisik lebih lanjut, tidak ada satu pun tur-tur ini yang menawarkan orisinalitas. Masing-masing mengikuti rute yang hampir identik dan memberi sedikit waktu bagi wisatawan untuk menikmati lingkungan dan suasana di Bali.

 

Sebagai gambaran, hasil kalkulasi Google Maps, paket yang ditawarkan The Bali Bible setidaknya menghabiskan waktu perjalanan sekitar 40 menit untuk mengunjungi setiap objek wisata. Dalam arti lain, wisatawan hanya memiliki waktu sekitar 80 menit dari rentang waktu 10 jam untuk menikmati 5 objek wisata tersebut. Menurut laporan Destinations Known, para wisatawan maupun influencer amatir itu menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengambil satu gambar yang sempurna!

Sebuah pertanyaan menggelitik pun mulai dilontarkan para pemerhati wisata, apakah paket perjalan seperti ini jauh lebih baik dibanding rombongan wisatawan China yang kerap memenuhi berbagai objek wisata? Selidik punya selidik, tujuan dari kedua konsep perjalanan itu sebetulnya sama-sama hanya mengincar foto yang elok dipandang mata.

Perbedaan yang mendasar hanya menyangkut esensi di media sosial. Sebuah survey yang dilakukan oleh WeSwap sepanjang 2018 lalu menemukan bahwa, 31% wisatawan milenial berlibur hanya untuk pamer di media sosial. Bahkan, 21% di antara mereka enggan mengunjungi sebuah objek wisata jika mereka dilarang mengambil gambar dan mengunggah ke media sosial.

Photography dan travelling memang sangat berkaitan, namun kebangkitan platform-platform media sosial justru menjadikan kedua elemen penting ini semakin terikat satu sama lain.

 

Sementara itu, The Bali Bible mengklaim bahwa paket perjalanan yang mereka tawarkan akan memberi kenangan tak terlupakan bagi wisatawan. Namun, berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Experimental Social Psychology, sebuah kenangan atau momen tertentu menjadi kurang spesial jika didokumentasikan dan dibagikan ke khalayak umum.

 Baca Juga: Mantap Berhijab, Intip 5 Gaya Dinda Hauw yang Bikin Hati Adem

Oleh karena itu, jika dalam waktu dekat ini Anda berencana berlibur ke Bali atau tempat lain, pertimbangkanlah sebelum mengambil paket perjalanan dengan iming-iming instagramable. Berpetuanglah sesuai dengan intuisi dan hati Anda, toh jika tersesat di suatu tempat, momen seperti inilah yang akan mendewasakan diri Anda. Demikian dilansir Okezone dari AsiaOne, Jumat (26/4/2019).

(dno)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini