nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cinderella Syndrome, Kondisi yang Mengungkung Perempuan Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 25 April 2019 15:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 25 612 2047966 cinderella-syndrome-kondisi-yang-mengungkung-perempuan-indonesia-yVmhNjBS60.jpg Ilustrasi sedih (Foto: Buzzsouh Aficas)

PENDIDIKAN pondasi utama dalam kemajuan suatu bangsa. Semakin baik kualitas pendidikan yang diperoleh masyarakat, maka akan semakin baik pula persentase kesejahteraan negara tersebut.

Namun dalam perkembangannya, akses pendidikan di beberapa negara, termasuk Indonesia, cenderung eksklusif atau hanya dapat dinikmati oleh penduduk di kota-kota besar. Selain itu, perkembangan pendidikan di Indonesia sendiri dinilai belum merata.

Masih banyak kaum perempuan yang belum mendapatkan akses pendidikan layak. Padahal, merekalah yang memiliki peranan besar dalam mengubah nasib bangsa menjadi lebih baik.

Baca Juga: Carina Linn, Perawat Seksi yang Doyan Foto Bikinian

Menurut pandangan Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Jawa Barat dan Penggerak Sekoper Cinta, Atalia Praratya Kamil, perkembangan perempuan dari masa ke masa sebetulnya jauh lebih baik. Namun, masih banyak kendala yang dihadapi oleh pemerintah maupun kaum perempuan itu sendiri.

Salah satu kendala yang paling nyata adalah munculnya Cinderella Syndrome yang melanda kaum perempuan Indonesia. Secara harfiah, Cinderella Syndrome adalah sebuah situasi yang membuat mereka (perempuan) merasa terkungkung tidak mau bergerak kemana-mana, apalagi mengembangkan potensi diri. Kondisi ini juga terjadi pada masa R.A. Kartini.

 

“Jadi mereka berpikir bahwa hidup mereka hanya untuk urusan domestik, menunggu laki-laki berkuda untuk melamar dll. Akhirnya, mereka tidak mau keluar dari apa yang biasa mereka lakukan. Ada ketakutan untuk keluar dari zona nyaman dengan level apapun,” tutur Atalia saat ditemui Okezone, di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu 24 April 2019.

Atalia mengatakan, pada masa itu, Cinderella Syndrome hampir terjadi kepada seluruh perempuan Indonesia. Tanpa disadari, kondisi inilah yang kemudian membuat kasus-kasus kekerasan di dalam rumah tangga menjadi hal yang tabu dan dianggap biasa.

Namun, berkat perjuangan R.A. Kartini yang kala itu rajin membaca buku, serta berkorespondesi dengan orang lain, Cinderella Syndrome akhirnya bisa ditekan.

”Dengan menambah wawasan, Ibu Kartini bisa berkorespondesi dengan orang lain, membuka cakrawala wawasannya, sehingga dia bisa berpikir out of the box. Ini yang ingin saya tekan kan, bahwa pendidikan sebetulnya bisa menyadarkan para perempuan yang mengalami Cinderella Syndrome,” terangnya.

Dalam arti lain, pendidikan menjadi sangat penting bagi kaum perempuan, tidak hanya untuk mengembangkan potensi diri dan mengambil keputusan sesuai dengan keinginannya, tetapi juga untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka agar menjadi lebih baik.

 

Minimal perempuan harus memiliki wawasan yang luas. Menurutnya, anak-anak yang hebat adalah mereka yang lebih baik pintar, dan secara ekonomi mumpuni dari orang tuanya.

“Oleh karenanya, tanpa mengurangi peran perempuan dalam keluarga, dan tanpa mengecilkan kodrat perempuan, perempuan itu tetap harus berwawasan. Jadi ketika dia memilih satu langkah, itu merupakan hasil pemikiran dia, bahwa inilah langkah terbaik untuk dirinya keluarga, termasuk untuk lingkungan,” tegas Atalia.

 Baca Juga: Mantap Berhijab, Intip 5 Gaya Dinda Hauw yang Bikin Hati Adem

“Saya harap perempuan-perempuan Indonesia tidak pernah lelah untuk terus menggali diri, mengkaji diri, termasuk juga untuk mencari ilmu sebanyak-banyak,” tutupnya.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini