nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kuatkan Potensi Wisata, Bali Bakal Kembangkan Health Tourism

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 30 April 2019 23:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 30 481 2050035 kuatkan-potensi-wisata-bali-bakal-kembangkan-health-tourism-mNRrgQLZ2b.jpg Wisata Kesehatan di Bali (Foto: BALI)

FASILITAS kesehatan di tempat destinasi wisata harus terus ditingkatkan. Hal ini bisa membuat wisatawan lebih nyaman dan tenang saat berlibur. Provinsi Bali saat ini merupakan destinasi wisata utama bagi wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan Nusantara (wisnus).

Untuk mempertahankan agar wisata di Bali tetap nomor satu, fasilitas penunjang lainnya harus terus dikembangkan dan diperbaiki, salah satunya fasilitas kesehatan. Fasilitas tersebut adalah salah satu elemen penting karena tidak hanya berguna bagi masyarakat lokal Bali, tetapi juga para wisman.

Untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan pada wisatawan, Pemerintah Daerah Bali saat ini tengah menyusun peraturan tentang kesehatan pariwisata (health tourism ) dan akan dilaksanakan secara terpadu. Direktur Utama RSUD Bali Mandara dr Gede Bagus Darmayasa M Repro menyontohkan, di Bali banyak usaha spa yang tersebar, tetapi belum terintegrasi.

 BACA JUGA : 5 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Menghormati Perempuan

Di rumah sakit juga sudah ada pelayanan fetomaternal, hiperbarik, dan layanan kanker terpadu. “Untuk memadukan semua layanan kesehatan ini memang kami sedang buat perda, misalnya spa, mereka tersebar dan tidak terintegrasi, tetapi sudah ada izin usaha,” kata dr Gede dalam rangkaian acara kunjungan lapangan tematik Kementerian Kesehatan di Denpasar, Bali.

Dia menuturkan, penyusunan regulasi penting dilakukan untuk membuat satu jejaring yang kuat terkait layanan kesehatan pariwisata. Dengan begitu, berbagai layanan kesehatan yang berhubungan dengan kepariwisataan harus dipastikan dasar hukumnya. “Sedang disusun regulasinya tahun ini. Nantinya mereka akan menjadi satu sistem layanan yang baik, termasuk layanan informasi dan marketting,” ujar dr Gede.

 

Upaya lain untuk memaksimalkan penyelenggaraan health tourism adalah dengan memaksimalkan fungsi rumah sakit. RSUD Bali Mandara yang sedang menargetkan akreditasi internasional itu konsen juga pada health tourism. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya mengatakan, pelayanan kesehatan tradisional di Bali, seperti spa, adalah layanan spa terbaik di Asia.

Pihaknya tengah mempersiapkan pula layanan dasar di puskesmas di wilayah wisata. “Ini semua memerlukan waktu, kami harapkan masyarakat juga berperan dalam pelaksanaan regulasi ini,” ucap dr Ketut. Menanggapi beberapa program dan pengembangan kesehatan di Provinsi Bali, Menteri Kesehatan RI Prof Nila F Moeloek mengapresiasi langkah yang telah dibuat, terutama angka stunting yang sudah semakin baik, walau harus terus mendapat perhatian dan perbaikan.

“Terutama beberapa penyakit yang masih bertahan di tengah masyarakat Bali, seperti rabies. Ternyata masyarakat Bali tetap mencintai anjing, tapi lebih mencintai manusia sehingga berusaha menyehatkan manusia bebas dari rabies. Selamat untuk Bali,” ujar Prof Nila. Menurutnya, jika kita sehat, pandai, dan sejahtera, masyarakat akan produktif. Sebaliknya kalau masyarakat sakit, akan menjadi lemah dan tidak berdaya. Prof Nila juga mengajak semua pihak bersinergi membangun kesehatan yang berorientasi kepada masyarakat.

 

Sementara itu, dalam kunjungannya ke Bali, Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek juga mengunjungi fasilitas produksi alat diagnostik Rapid Test PT Kimia Farma. Pada kunjungan tersebut, Menkes memberikan dukungan penuh pada produksi alat kesehatan dalam negeri. “Produksi alat kesehatan dalam negeri merupakan kemajuan yang kita inginkan. Kita tidak perlu lagi impor untuk alat kesehatan. Dengan adanya rapid test ini, berbagai penyakit dapat diketahui dengan cepat,” papar Prof Nila. PT Kimia Farma baru memproduksi lima jenis alat rapid test , yakni tes kehamilan (hCG test), tes hepatitis (HBsAg test), tes sifilis, tes malaria, dan tes dengue (IgG/IgM test).

 BACA JUGA : Viral 2 Wanita Cantik Kehabisan Tiket Avengers, Netizen: Otak Dijual Buat Perawatan Wajah?

“Ini karya anak kita sendiri. Masalah nyamuk (DBD) sulit, tapi kalau diagnosis dengan cepat, kita obatinya cepat. Kementerian Kesehatan terus mendukung produsen alat kesehatan dalam negeri. Saat ini produksi lokal alat kesehatan untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit sudah lebih dari 50%. Diharapkan ke depannya akan lebih banyak lagi produk alat kesehatan dalam negeri buatan anak bangsa,” paparnya.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini