nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ibu Hamil Sering Stres, Mental Anaknya Jadi Lebih Tangguh?

Gurais Alhaddad, Jurnalis · Jum'at 03 Mei 2019 05:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 02 481 2050671 ibu-hamil-sering-stres-mental-anaknya-jadi-lebih-tangguh-EXox3sGWND.jpg Ibu hamil stres (Foto: Dailymail)

Seringkali perempuan yang sedang hamil mudah terkena stres, misalnya karena pikiran yang tidak menentu. Stres saat hamil mungkin sangat normal dialami oleh para calon ibu. Tapi tahukah Anda dampak yang akan terjadi pada anak-anak yang ibunya stres pada saat mengandung mereka?

Salah satu dampaknya adalah anak akan tumbuh menjadi lebih tangguh secara mental seperti yang dilansir dari Dailymail pada, Jumat (03/05/2019).

Penelitian baru menunjukan anak-anak yang ibunya mengalami stres saat mengandung mereka dapat tumbuh menjadi lebih tangguh secara mental. Ditemukan bahwa masalah kejiwaan lebih jarang terjadi pada anak-anak yang lahir dalam komunitas kekerasan tinggi di mana sang ibu menderita tekanan mental dan fisik selama kehamilannya.

Para peneliti menyarankan anak-anak yang terpapar stres di dalam rahim mengembangkan mekanisme perlindungan alami yang membuat mereka lebih tangguh saat mereka tumbuh dewasa. Anak-anak tampaknya lebih tangguh ketika berada di lingkungan stres tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang ibunya tidak mengalami masalah yang sama saat hamil. Tetapi satu kritikus mengingatkan kepada ibu bahwa hal tersebut bisa merusak perkembangan otak bayi, berpotensi mempengaruhi bagaimana fungsinya setelah lahir.

Para ilmuwan dari Universitas Linkoping di Swedia menganalisis 120 ibu dan 120 anak-anak mereka di lingkungan yang sulit di Brasil di mana kekerasan geng dan kekerasan dalam rumah tangga marak terjadi. Sementara para ibu sering menunjukkan tanda-tanda depresi, PTSD dan kecemasan setelah pelecehan, anak-anak mereka tumbuh dengan kemampuan untuk 'mematikan respons stres'.

Dr. Daniel Natt, salah satu penulis utama penelitian ini, mengatakan: “Anak-anak yang diwawancarai menunjukkan konsekuensi kejiwaan yang lebih rendah dari stres prenatal daripada yang dilaporkan berulang kali dari populasi yang kurang kejam.”

“Hanya ketika IPV ibu terjadi baik selama dan setelah kehamilan, masalah kejiwaan ini kurang parah. Dengan demikian, komponen prenatal tampaknya telah berperan di sini,” Lanjut Dr.Daniel.

Temuan itu bertentangan dengan penelitian bertahun-tahun yang menyatakan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu yang stres mengembangkan masalah perilaku dan bahkan autisme. Penelitian pada hewan di masa lalu telah menunjukkan stres pranatal mengarah pada perubahan perilaku pada keturunan yang membuat mereka lebih siap untuk bertahan hidup di lingkungan yang mengancam.

Dr Natt menambahkan: "Pada hewan, dalam beberapa keadaan paparan ibu hamil ke predator mengarah pada perubahan perilaku dan molekuler pada keturunannya, yang bermanfaat dalam lingkungan yang kaya predator tetapi tidak sebaliknya."

Selain melakukan wawancara, peneliti mengumpulkan sampel air liur dari 240 peserta. Mereka menguji air liur untuk metilasi DNA, sejenis perubahan genetik yang mengubah cara gen diekspresikan tanpa memodifikasi kode genetik. Berdasarkan studi sebelumnya, metilasi DNA diyakini terlibat dalam membentuk ketahanan psikiatris setelah stres awal kehidupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang ibunya menderita stres prenatal mampu mematikan respons stres lebih cepat.

Dr Natt mengatakan: “Kami mengamati bahwa beberapa gen stres yang terkenal, seperti reseptor glukokortikoid dan protein penekannya, FKBP51, yang keduanya mengatur salah satu hormon stres terpenting kami, kortisol, adalah di antara yang paling termetilasi. Yang mengejutkan, cara gen-gen ini dimetilasi memberi kesan kepada kita bahwa anak-anak yang mengalami stres pranatal memiliki kemampuan yang ditingkatkan untuk menghentikan respons stres."

Dr Natt menyerukan agar temuan-temuan tersebut diteliti dengan cermat oleh orang lain karena mungkin ada 'banyak interpretasi hasil'.

Dia menambahkan: “Salah satu interpretasi hasil adalah bahwa ibu yang stres entah bagaimana mempersiapkan anak mereka untuk lingkungan yang penuh kekerasan. Secara pribadi saya skeptis dengan interpretasi ini. Saya lebih suka percaya bahwa kekerasan selama kehamilan mengarah, seperti yang ditunjukkan oleh banyak penelitian, pada perkembangan otak yang suboptimal. Misalnya, stres prenatal telah dikaitkan dengan perilaku asosial dan risiko lebih tinggi untuk gangguan spektrum autisme."

Temuan ini telah dipublikasikan di Frontiers in Genetics yang diulas dengan ketat.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini