nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cut Mini Salut terhadap Griya PMI Peduli

Senin 06 Mei 2019 17:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 06 481 2052230 cut-mini-salut-terhadap-griya-pmi-peduli-bZHajiy5ZZ.jpg

TANPA mengenakan masker apalagi sarung tangan, Cut Mini melangkah pasti memasuki area Griya PMI Peduli, tempat perawatan orang dengan gangguan mental kejiwaan atau ODMK yang berlokasi di kawasan Mojosongo, Jebres, Solo, Jawat Tengah, Jumat (26/04) lalu.

Senyumnya mengembang dan langsung menyapa para penghuni di griya ini. Sang aktris senior bahkan tak segan bersalaman, bersentuhan dan berinteraksi dengan mereka, yang oleh masyarakat pada umumnya disebut ; orang gila.

Sejak berdiri Juni 2012 silam, Griya PMI Peduli yang didirikan oleh PMI Cabang Solo atau Surakarta ini telah merawat tidak kurang dari 100 penderita gangguan kejiwaan. Mereka ditempatkan di dua bangsal yang berbeda, bangsal ODMK wanita di bagian depan kanan gedung, sedangkan para ODMK pria ditempatkan di bangsal lebih besar di bagian tengah dikelilingi tembok tinggi dan jendela yang terbuat dari teralis besi.

Sama sekali, tidak terlihat jijik atau ngeri ketika ia berada di tengah-tengah mereka. Aktris berdarah Aceh ini bahkan mengobrol santai dengan warga di tempat itu yang mungkin bagi sebagian orang cukup mengerikan berada di tengah-tengah orang yang tidak sehat secara mental.

Wanita yang telah menyabet beragam penghargaan sebagai aktris terbaik ini tampak dengan seksama mendengarkan seorang ODMK yang menunjukkan kebolehan mengaji, “wah pintar yaaa bisa mengaji,” pujinya. Cut Mini yang siang itu ditemani Triana Rahmawati, Founder Griya Schizofren, yakni komunitas anak-anak muda peduli penderita ODMK bermain bersama di tengah bangsal.

Dibantu para relawan, mereka tampak akrab sambil menggambar dan bernyanyi bersama dalam suasana penuh keceriaan. “Boleh gambar ikan lele gak,” kata salah seorang dari mereka sambil memulai menggambar dengan crayon yang di atas sehelai kertas HVS. “Oh boleh dong, yuk kita gambar,” terik cahaya matahari, kungkungan tembok tinggi dan aroma kurang sedap dari para ODMK nyatanya tidak mengurangi keceriaan mereka siang itu.

Di sela-sela kedatangannya, Cut Mini berbincang dengan Wanto S.Km, Kasi Griya Peduli, dr. Arina Hidayat Kabag Yansos PMI Solo dan perawat, MujtahidA.Md.Kep. Kepada ketiga orang ini, Ibu Cut, begitu ia akrab disapa menyatakan rasa simpati sekaligus salut terhadap perjuangan para pengurus Griya PMI Peduli.

“Mengurus orang lain dengan kondisi seperti ini (mengalami gangguan jiwa) tidaklah mudah. Pasti, butuh ekstra sabar, ekstra ikhlas, kalau saja tidak disertai mental yang kuat, kesabaran yang luas dan kebesaran hati. Ini semua tentu tidak akan terjadi,” tuturnya dengan suara bergetar karena haru. 

Menanggapi hal itu, Mujtahid sang perawat mengatakan bahwa apa yang dilakukannya semata-mata demi memanusiakan mereka, “Kami ingin memanusikan manusia yang tidak dimanusiakan oleh manusia, menjadi seusatu yang biasa sehingga langkah kami ini bisa juga diikuti yang lain,” tutur pria lulusan akademi keperawatan ini.

Sementara dr. Arina Hidayat mengatakan, bahwa apa yang ia lakukan di bidang kemanusiaan ini, tidak lepas dari pesan orang tuanya agar tidak menjadi dokter yang hanya berorientasi materi. “Dawuh (pesan) dari bapak saya, ketika kamu menjadi dokter kamu jangan jadi dokter yang materilisitis. Jadilah dokter yang berjiwa sosial yang mau membantu, jadi kata kata bapak saya itu yag saya pegang sampai sekarang,” kenang wanita berkacamata ini.

Ketulusan para pengurus Griya PMI Solo ini memang bukan sekedar lip service, setiap harinya dengan penuh kesabaran merawat para penderita gangguan kejiwaan yang mereka ambil dari jalanan. “Kami Di Solo banyak sekali penderita gangguan kejiwaan, kami keliling dan kami bujuk untuk bersedia di bawa ke sini. Kondisi mereka di jalanan sangat memprihatinkan ya, ada yang dalam kondisi kurang makan, penyakit kronis,” jelas Wanto.

Lebih lanjut, Wanto menjelaskan, dengan perawatan intensif yang mereka lakukan tidak sedikit warga griya yang akhirnya pulih kembali kesehatan mentalnya. “Ketika awal berdiri 7 tahun lalu, warga griya hanya 6 orang, sekarang 98 orang. Sempat mencapai lebih dari 100 orang, tapi kami sudah pulangkan ke rumah masing-masing karena mentalnya sudah pulih. Bahkan ada yang pulang ke Palembang dan Kalimantan,” terangnya.

Di Griya PMI Peduli, selain menjalani terapi pengobatan, para ODMK ini juga menjalani terapi untuk mengembalikan ingatan, “Warga di sini, kami berikan terapi pengobatan dan perawatan komprehensif secara medis tetapi jugaterapi komunikasi untuk memulihkan ingatannya. Kalau sudah ingat, kami kemudian contact keluarganya,” jelas dr Arina.

Untuk diketahui, PMI Solo merupakan satu-satunya lembaga Palang Merah di Indonesia yang mendirikan tempat penampungan yang merawat para penderita gangguan kejiwaan maupun lansia. Tidak hanya itu, Griya PMI Peduli maupuan Girya Bahagia yang berada dibawah naungan PMI Solo ini juga tidak mendapatkan subsidi dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Selama ini mereka mengandalkan operasional para warga griya dari donasi masyarakat.

Fakta ini membuat Cut Mini kembali menyatakan rasa salutnya dan berharap langkah mulia ini diikuti PMI Cabang lainnya di Indonesia. “Hanya PMI Soloyang mau terlibat membantu mereka, menyelamatkan mereka, tanpa dilirik pun (bantuan subsidi ABPD), kalian bisa survive dan itu hebat, “ mendapat pujian seperti itu, ketiga orang yang mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan ini pun mengatakan, keinginan mereka hanyalah melihat para ODMK yang merka rawat kembali pulih kesehatan mentalnya. “Rasa lelahnya terbayar ketika mereka bisa kita ajak komunikasi,” tutur ketiganya serempak. 

Saat ini, Griya PMI Peduli yang berada di bawah naungan PMI Cabang Solo merawat 98 penderita di antaranya 55 pria dan 43 wanita serta 27 lansia yang terdiri dari 11 pria dan 16 wanita yang ditempatkan secara terpisah di Griya Bahagia.

Selain mendirikan Griya Peduli dan Griya Bahagia, PMI Solo juga menjalankan program Dompet Kemanusiaan yang memberikan bantuan pengobatan bagi masyarakat miskin yang tidak tercover BPJS. Bantuan berupa alat penunjang kesehatan seperti kursi roda hingga menanggung biaya operasi.

Para pengurus Griya Peduli pun merasa senang dengan kunjungan Cut Mini. Mereka berharap kunjungan seperti ini dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk memberikan donasi. “Kami seneng banget karena dengan mesosialisasikan PMI Solo dan Griya PMI Peduli ke masyarakat dapat merangsang masyarakat untuk berdonasi,” tutur Arina.

Wanita berkerudung ini juga memastikan bahwa donasi dari masyarakat sepenuhnya akan dikembalikan kepada masyarakat. “Jangak khawatir, kami tidak digaji dari masyarakat. Donasi masyarakat bukan operasional gaji saya, gaji kami. Khusus bantuan dari masyarakat kami salurkan 100 persen untuk kebutuhan para warga griya. Tidak kami kami ambil sepeser pun, bahkan setengah peser pun gak ada untuk kami. Jadi, 100 persen untuk mereka,” ucapnya.

Sebelum berpamitan, Cut Mini menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Wanto, dr. Arina dan Mujtahid dan segenap pengurus Griya yang telah bersusah payah mengurus para ODMK dan lansia yang berada di tempat ini.

Wanita berusia 45 tahun yang terlihat lebih muda dari usianya itu pun mengajak masyarakat untuk menyalurkan donasi sebagai bentuk kepedulian terhadap para penghuni girya. Masyarakat bisa menyalurkan donasinya dengan cara langsung datang ke Griya PMI Solo atau melalui rekening Griya PMI Peduli Bank Mandiri Syariah no Rek 703-962-1597.

Sebelum meninggalkan Griya, pemilik nama lengkap Cut Mini Theo itumenulis, “Mereka yang hebat dan mereka yang peduli.” Ia juga tak lupa membubuhkan tanda tangannya. (Yaomi)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini