nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah Perawan dan Perjaka Terus Meningkat, Masa Depan Jepang Mengkhawatirkan

Amanda Rahmadianti Syafira, Jurnalis · Senin 06 Mei 2019 15:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 06 612 2052039 jumlah-perawan-dan-perjaka-terus-meningkat-masa-depan-jepang-mengkhawatirkan-PsfuBJefuP.jpg Perawan dan Perawan (Foto: Jepang)

BERHUBUNGAN seks sangatlah jarang terjadi, setidaknya untuk orang dewasa yang lebih muda di Jepang. Sebuah analisis baru dan terperinci dari data kesuburan nasional menemukan bahwa proporsi orang dewasa di Jepang terus meningkat.

Dilansir dari Forbes, Senin (6/5/2019). Untuk wanita antara usia 18 sampai 39, sebanyak 24,6 persen adalah perawan pada tahun 2015, naik dari 21,7 persen pada tahun 1992. Di kalangan pria usia yang sama, persentase tanpa pengalaman seksual meningkat dari 20 persen menjadi 25,8 persen.

 BACA JUGA : Meme Kocak Chef Juna saat Nilai Masakan, Bacanya Geli Sendiri

Kecenderungan ke arah kurang seks juga terjadi pada 6,2 persen wanita dan 8,8 persen pria berusia 30 hingga 34 tahun dalam survei tahun 1987. Angka-angka itu melonjak menjadi 11,9 persen dan 12,7 persen pada tahun 2015. Antara usia 35 sampai 39, 4 persen wanita dan 5,5 persen pria melaporkan tidak memiliki pengalaman seks pada tahun 1992. Pada 2015 angkanya meningkat menjadi 8,9 persen dan 9,5 persen.

Data tersebut berasal dari Survei Kesuburan Nasional Lembaga Riset Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang, yang berlangsung setiap lima tahun sekali dan melibatkan antara 11.553 dan 17.859 orang dewasa berusia 18 hingga 39. Analisis ini diterbitkan dalam jurnal BMC Public Health.

 

Analisis data mengungkapkan bahwa pria yang memiliki penghasilan rendah juga 10 hingga 20 kali lebih mungkin menjadi perjaka daripada mereka yang berpenghasilan tinggi.

Akibat fenomena ini menjadikan Jepang memiliki salah satu angka kelahiran terendah di dunia dan merupakan rumah bagi populasi orang yang sudah menua, dengan survei terbaru menemukan 34,6 juta orang Jepang berusia di atas 65 tahun.

Namun terlepas dari itu, pemerintah sedang berupaya untuk meningkatkan jumlah pernikahan dan anak-anak, namun hasil survei dari Institut Nasional Kependudukan dan Penelitian Jaminan Sosial, tidak menunjukan hasil yang diinginkan.

Dilansir dari CNN, Senin (6/5/2019). Nancy Snow, seorang profesor diplomasi publik dari Universitas Kyoto Studi Luar Negeri, mengatakan kepada CNN bahwa perubahan norma sosial dan ekonomi berkontribusi pada penurunan hubungan antara pria dan wanita.

"Pria membuat sekitar sepertiga dari apa yang mereka buat selama tahun-tahun untuk mendongkrak ekonomi Jepang di tahun 1980-an. Rasa percaya diri beberapa pria terkait dengan gaji mereka dan mereka merasa terancam oleh wanita yang memberdayakan diri mereka sendiri," kata Snow.

Dia menjelaskan bahwa penurunan pendapatan, membuat pria di Jepang merasa kurang percaya diri dalam menarik wanita Jepang yang semakin sukses, yang telah terbiasa menghasilkan uang sendiri dan menempatkan diri sebagai yang utama.

Tampilan Jokowi Tarawih Pertama di Masjid Jenderal Besar Soedirman Bogor, Netizen: Adem Banget!

“Ada banyak wanita profesional dengan pendapatan yang sangat tinggi, sehingga mereka berpikir bahwa pernikahan mungkin tidak akan menguntungkan untuknya," kata Snow.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini