Konsumsi Susu di Indonesia Masih di Bawah Vietnam, Bagaimana Mengatasinya?

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Selasa 07 Mei 2019 22:25 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 07 481 2052787 konsumsi-susu-di-indonesia-masih-di-bawah-vietnam-bagaimana-mengatasinya-poVG1xgcGR.jpg Ilustrasi (Foto: CBS)

Susu menjadi salah satu menu sehat yang dianjurkan dikonsumsi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan gizi. Namun di Indonesia, angka konsumsi susu masih rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2017, konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 16,5 liter/kapita/tahun dari target 20 liter per kapita per tahun. Konsumsi ini merupakan yang terendah di Asia Tenggara dengan Brunei Darussalam yang mencapai 129.1 liter, Malaysia dengan 50.9 liter, Singapura sebanyak 46.1 liter. Bahkan angka tersebut masih jauh lebih sedikit dibandingkan Vietnam yang berada di angka 20.1 liter susu per kapita per tahun.

Meski dalam kehidupan masyarakat modern susu menjadi salah satu minuman wajib di kehidupan sehari-hari, nyatanya tak membuat angka konsumsi susu di Indonesia meningkat di antara negara-negara lain. Menurut Dekan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Husmy Yurmiati Ir., M.S., salah satu penyebabnya adalah mitos seputar susu.

Baca Juga: Kinerja Otak Menurun karena Pakai GPS Berlebihan, Benarkah?

Beberapa mitos susu yang mungkin sering didengar masyarakat adalah susu hanya untuk anak-anak dan susu menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Profesor Husmy mengatakan, mitos-mitos seputar susu itu harus dihilangkan.

 

"Mitos seputar susu harus dihilangkan lewat praktik minum susu disertai riset tentang perilaku minum susu. Pemahaman gizi yang keliru ini akan mengakibatkan tidak terpenuhinya asupan gizi sesuai dengan kebutuhan. Padahal susu merupakan salah satu asupan gizi yang memenuhi segala kebutuhan tubuh," ujar Prof. Husmy dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (7/5/2019).

Selain itu, lanjutnya, dengan meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap susu akan menciptakan domino efek yang baik terhadap industri. Produksi susu nasional yang baru bisa mencukupi 20% kebutuhan pasar bisa semakin ditingkatkan karena adanya permintaan nyata dari masyarakat.

 Baca Juga: Ibu Menyusui Berpuasa, Bagaimana Caranya Agar ASI Tetap Lancar?

Dalam rangka menyambut Hari Susu Sedunia yang diperingati setiap 1 Juni, Frisian Flag Indonesia (FFI) menggandeng Universitas Brawijaya, Universitas Padjadjaran serta berbagai sekolah dasar untuk menyebarkan manfaat susu melalui sosialisasi atau edukasi.

 

"Kami berkomitmen untuk berperan aktif membantu pemerintah membangun keluarga kuat Indonesia. Saat ini, salah satu fokus FFI adalah membantu pemerintah memerangi stunting yang masih diderita oleh sebagian anak-anak Indonesia dengan penyebaran informasi berbasis ilmiah kepada mahasiwa, pemberian susu dan pembangunan fasilitas olahraga kepada anak-anak sekolah dasar. Kerjasama ini bukan dilandasi oleh 'Apa yang bisa kami lakukan untuk mereka' tetapi pada 'Apa yang bisa kita lakukan bersama untuk satu sama lain,'” ujar Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia Andrew F. Saputro.

Andrew melanjutkan, masih banyak kendala yang ditemukan dalam mempopulerkan susu sebagai minuman sehat. Pada umumnya, pola makan sehari-hari orang Indonesia belum memenuhi gizi seimbang. Gizi seimbang diartikan sebagai ragam bahan makanan yang berkualitas, jumlah dan proporsi yang sesuai sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Hasil studi SEANUTS (South East Asian Nutrition Survey) yang diinisiasi oleh Fries-landCampina tahun 2012 terhadap lebih dari 16.000 anak usia 6 bulan – 12 tahun, menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia mengalami berbagai permasalahan terkait dengan kesehatan dan gizi, seperti gaya hidup kurang aktif, malnutrisi, kekurangan vitamin D serta gangguan pertumbuhan fisik atau stunting. Hal ini bisa dicegah dengan konsumsi susu yang rutin.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini