nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Sri Utami, Perempuan Jawa yang Menikah dengan Laki-Laki Betawi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 11 Mei 2019 15:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 11 196 2054392 curhat-sri-utami-yang-orang-jawa-menikah-dengan-laki-laki-betawi-3Xxp6zf6Ev.jpg Menikah beda suku rumah tangga Sri Utami tetap harmonis (Foto : Istimewa)

Beredar luas persepsi di mana ada beberapa suku di Indonesia yang dianggap tidak bisa harmonis jika mereka menjalin hubungan serius, termasuk menikah. Salah satunya yang paling banyak diamini ialah Jawa-Betawi.

Kedua suku ini dianggap seperti minyak dan air, tidak bisa bersatu dan jika dipaksakan sampai menikah, hubungan tidak akan sehat dan berakhir pada perpisahan. Hal tersebut didasari dari karakter dari setiap suku tersebut. Betawi dianggap keras dan 'ceplas ceplos', sedangkan Jawa dianggap patuh pada mereka yang dituakan dan penuh tata krama.

Ketidaksamaan ini yang membuat masyarakaf menilai kalau orang Jawa dan orang Betawi tak bisa membangun rumah tangga. Tapi, persepsi ini tak dirasakan sama sekali Sri Utami. Perempuan berusia 63 tahun asal Pacitan, Jawa Timur, ini menjalin hubungan sehidup semati dengan suaminya, Jaelani, yang merupakan anak Betawi asli.

Sri menjelaskan kalau persepsi di masyarakat yang menilai orang Jawa dan orang Betawi tak bisa bersatu itu adalah salah besar. Persepsi itu tidak berlaku dalam hidupnya. Menjalin hubungan selama 25 tahun dengan Jaelani, Sri mengaku tak pernah sekali pun mereka berantem atau sekadar cekcok.

info

Menurutnya, itu karena sifat suami yang sangat sabar dan penuh kasih sayang. Ya, pria Betawi itu ternyata tak seperti pria Betawi kebanyakan yang dianggap 'ceplas ceplos' dan kadang sulit diatur. Pada Okezone, Sri menceritakan awal mula benih cinta itu muncul dan bagaimana akhirnya dia yakin dengan pria Betawi yang sudah 7 tahun hidup tenang bersama dengan Allah SWT.

"Kita itu teman satu kantor. Jadi setiap hari ketemu. Jemputannya sama, istirahatnya bareng, makan siangnya bareng. Ya, dari sana akhirnya saya kenal sosok Jaelani ini dan ternyata dia memang tidak seperti kebanyakan pria Betawi yang dicap masyarakat," katanya kepada Okezone melalui sambungan telepon, Jumat (10/5/2019).

nikah beda suku

Hal yang membuat dia yakin menjatuhkan pilihan pada pria Betawi ini ialah kesabaran yang dimiliki sangat luar biasa. Selama menjalani biduk rumah tangga, Sri mengaku tak pernah sekali pun dia mendapat marah dari suaminya. Tak pernah ada kata-kata kasar yang keluar dari mulut Jaelani selama mereka menikah. "Dia sangat penyayang," sambungnya sedikit lirih.

Bahkan, beberapa tahun setelah meninggalnya sang suami, Sri sadar ada pria yang kagum padanya dan ingin memilikinya. Tapi, satu hal yang membuat dia menolak semua pria yang datang padahanta ialah apakah sifatnya sama seperti sosok pria Betawi yang merupakan ayah dari dua anak tersebut.

Lika-liku rumah tangga tapi tetap dia alami. Salah satu momen yang cukup diingat sampai sekarang ialah saat Sri diminta untuk menetap bersama mertuanya. Satu atap. Hal ini diakui Sri sempat membuat adik-adiknya kecewa. Sebab, keluarganya ingin Sri bisa menetap di luar rumah mertuanya. Tapi Sri pikir itu bukan pilihan yang bijak.

"Saya mengiyakan untuk ikut suami menetap bersama orangtuanya di Jakarta. Kami tinggal satu apa hingga akhirnya di saat anak pertama mulai besar, saya dan suami membangun rumah percis di samping rumah mertua saya," paparnya.

Hal ini pun sesuai dengan permintaan mertuanya. Jadi, Sri melanjutkan, dalam budaya keluarga suami, anak pertama itu mesti tinggal tak jauh dari keluarga. Dan kebetulan suami Sri ini anak pertama, jadi mereka akhirnya membangun "gubuk" di samping rumah mertuanya.

"Saya pikir lagi, untuk apa saya mempertahankan ego jika memang ini juga untuk kebaikan banyak orang. Saya pun senang dan bahagia bisa tinggal berdekatan dengan mertua. Alhamdulillahnya, saya yang orang Jawa ini bisa sangat mudah membaur dengan lingkungan baru dan saat diminta hidup bareng mertua, ya, bukan masalah bagi saya. Saya yakin juga saya mampu," ujar Sri.

sri

Sosok ibu-ibu periang tersebut coba menjelaskan hal yang terdengar unik dan pernyataannya ini membantah kalau pria Betawi itu semuanya sama.

"Suami saya itu nggak doyan sama sayur asem dan sayur kacang panjang. Padahal bisa dibilang itu makanan khas Betawi," ungkapnya sedikit tertawa. Fakta ini juga yang memperkuat keyakinan dia kalau memang semua orang itu berbeda, sekali pun dia berasal dari suatu suku yang sama.

Tidak ada kesulitan dalam membaur

Sri menjelaskan kalau dirinya tidak mengalami masalah berarti saat harus menyatu dengan keluarga Betawi. Menurutnya, itu karena dia sudah "melalang buana".

"Saya anaknya fleksibel. Saya sudah banyak ketemu dengan orang banyak sebelum menikah dan itu yang membuat saya sekarang terbuka dan bisa dibilang gampang cocok dengan siapa saja. Saat pertama kali ke Jakarta, saya tinggal sama pakde di asrama Polisi dan di sana juga saya belajar kultur berbeda," ungkapnya.

nikah beda suku

Dengan bekal itu juga akhirnya sama semakin bisa membaur saat bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta dan akhirnya bertemu dengan suami. Dan uniknya lagi, meski pun suami Betawi, tapi ternyata dia Betawi Modern yang keluarganya tak juga menggunakan bahasa sehari-hari seperti keluarga Betawi kebanyakan. Hal ini yang membuat dia tak begitu banyak berusaha dalam menyatukan suku yang berbeda ini.

Sri punya sedikit wejangan untuk Anda yang menjalani hubungan beda suku.

"Tujuan berumah tangga adalah bersatu dan mau memecahkan masalah bersama-sama. Tapi, kalau kita yakin mampu, monggo, mengambil keputusan sendiri, tapi dengan syarat kita yakin mampu dan bisa menyelesaikan masalah itu sendiri, bukan malah menambah masalah baru. Jadi, di mata suami, perempuan itu luar biasa," tambahnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini