nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tradisi Unik Menikah Perempuan Lamongan, Padang Rasa Jawa

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 11 Mei 2019 21:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 11 196 2054464 tradisi-unik-menikah-perempuan-lamongan-padang-rasa-jawa-q6udnHQjxN.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

DI banyak kebudayaan, umumnya sebelum menikah seorang lelaki akan datang ke rumah perempuan untuk melamar. Tapi di Lamongan, Jawa Timur justru kebalikannya, karena perempuanlah yang melamar calon suaminya.

Tradisi di Lamogan ini sama dengan di Padang atau Minang, seorang lelaki bahkan dibeli perempuan sebelum naik pelaminan. Tradisi pernikahan tersebut dikenal dengan istilah Japuik yang masih dilaksanakan oleh masyarakat yang menetap di sana.

Nah, di daerah Lamongan juga ada tradisi unik yaitu lelaki juga dilamar perempuan. Ada satu penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan Antropologi FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), tertarik melakukan penelitian tentang tradisi tersebut.

Baca Juga: Menikah dengan Bule, Apa Enaknya?

Studi yang dilakukan oleh mahasiswa Antropologi FISIP UNAIR bernama Luluk Oktavia, Yusuf Bilal Abdillah, Biandro Wisnuyana, Dyah Bratajaya Wisnu Puteri, dan Selvi Nur An Nisaa Permata, tersebut tertuang dalam proposal berjudul “Menguak Tradisi Lamaran (Calon Mempelai Wanita Terhadap Calon Mempelai Pria) di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur”.

Ketua Penelitian Luluk Oktavia mengatakan, setiap daerah punya adat-istiadat yang berbeda-beda yang menarik dipelajari. Salah satunya di Lamongan, Jawa Timur.

”Ini benar-benar bagai pepatah Lain ladang lain belalang, Lain lubuk lain ikannya, artinya di setiap daerah memiliki adat istiadat berbeda, satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lainnya," kata Luluk Oktavia, dikutip dari situs resmi Universitas Airlangga, Sabtu (10/5/2019).

Baca Juga: Potret Menggemaskan Lakeisha Dardak, Anak Arumi Bachsin yang Fasih Bahasa Jawa

Luluk menjelaskan, tradisi tersebut sudah ada sejak zaman kerajaan. Ada kisah Tumenggung Lamongan, yang punya dua anak laki-laki tampan, bernama Panji Laras Liris. Aura ketampanan dan kegagahan lelaki ini dilirik oleh banyak putri dari beberapa kerajaan.

Bahkan, ada dua putri dari Kerajaan Kediri jatuh hati kepada Panji Laras Liris. Mereka akhirnya sama-sama bertandang ke Lamongan untuk meminang anak raja.

Tapi, putri cantik itu ditolak karena melihat tubuhnya saja, Panji Laras Liris tiba-tiba jijik, melihat kaki sang putri yang mirip kaki kuda karena banyak bulunya. Tak ayal, para putri cantik itu pun akhirnya gagal menikah dengan sang pangeran.

Karena cerita lama itu, masyarakat pun mempercayai sampai menjadikan kegiatan tersebut menjadi tradisi kekal. Dalam tradisinya, proses lamarannya terbagi beberapa hal.

Prosesi yang tak pernah dilewatkan yakni njaluk (minta), ganjur (melamar), milih dino (memilih tanggal pernikahan), sampai mengikat calon suami sampai pernikahan berlangsung nanti.

"Biasanya orangtua pihak perempuan meminta kepada laki-laki untuk menjadi menantunya. Setelah itu, mereka melakukan ganjuran (lamaran) ke pihak pria, lalu pihak pria membalas ganjuran itu selang beberapa hari," terang Luluk.

Ketika semua sudah saling setuju, baru kedua keluarga menentukan tanggal yang baik sebagai hari pernikahannya. Sebagian masyarakat di sana masih menjalani tradisi unik ini, walau telah diwarnai oleh modernisasi.

Positifnya dalam menjalani tradisi ini terdapat nilai sosial yang tinggi. Keluarga perempuan dianggap sangat menghargai calon besan serta calon menantunya, sebelum nantinya mengarungi bahtera rumah tangga.

Pada dasarnya perempuan yang menikah kelak harus tunduk dan hormat kepada suaminya. Dari proses melamar saja, masyarakat Lamongan sudah mulai menerapkan.

Selain silaturahmi, keluarga perempuan membawa seserahan, baik itu dalam bentuk makanan atau barang. Tapi biasanya diikat oleh cincin yang sangat berharga. Setelah diterima, dalam pernikahan nanti keluarga lelaki wajib memberikan mahar yang nilainya lebih besar.

”Mahar yang lebih besar tersebut sebagai tanda bahwa calon kepala keluarga, haruslah mapan dan memiliki derajat lebih tinggi dari istrinya. Oleh karena itu, mereka menunjukkannya dari mahar yang diberikan kepada calon istrinya,” jelas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini