nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Tradisi Tak Biasa di Indonesia, Nikah Sedarah hingga Kepala Manusia Jadi Mas Kawin

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 12 Mei 2019 17:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 12 196 2054555 5-tradisi-tak-biasa-di-indonesia-nikah-sedarah-hingga-kepala-manusia-jadi-mas-kawin-51AsOETpqr.jpg Tradisi kerik gigi di Mentawai (Foto : Corbis)

Di beberapa wilayah di Indonesia, ada budaya dan tradisi yang masih dipegang uat masyarakat. Tentu, ini berkaitan dengan warisan leluhur dan keyakinan penduduk untuk terus menjalankan tradisi ini sekali pun terbilang aneh, unik atau juga ekstrem.

Di kesempatan ini, Okezone coba memberikan paparan mengenai tradisi unik atau aneh tersebut, semoga jadi bahan bacaan dan referensi yang menarik untuk Anda smeua. So, apa saja?

1. Kerik Gigi di Mentawai

Persepsi kecantikan seseorang itu relatif adalah kebenaran! Masyarakat Mentawai membuktikannya. Mereka tidak mempercayai yang namanya gigi indah itu yang putih seperti permen atau dengan pola yang rata pun gigi kelinci yang banyak dipalsukan publik.

Bagi perempuan Mentawai, tepatnya di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, kecantikan paripurna itu didapat dengan meruncingkan gigi. Untuk bisa mendapatkan bentuk seperti itu, mereka rela sakit dengan dikerik giginya atau dikenal sebagai tradisi kerik gigi. Pada banyak kasus, gigi yang dikerik berjumlah 23 buah. Sakit? Jangan ditanya!

tradisi

(Foto : Corbis)

2. Nikah Sedarah

Dunia medis sepakat kalau pernikahan sedarah adalah tindakan yang tidak boleh dilakukan. Ini berkaitan dengan memperkuat gejala abnormal yang malah bisa terbentuk karena pernikahan sedarah.

Tapi, Suku Polahi di pedalaman hutan Humohulo, Gorontalo, tidak mempercayai hal tersebut. Mereka malah menjalani pernikahan sedarah dengan tujuan untuk menghindari kepunahan. Apakah banyak manusia cacat di sana? Diterangkan beberapa sumber, masyarakat di sana normal dan ini seperti membantah persepsi medis. Ya, percaya tidak percaya, begitulah yang terjadi di sana.

ilustrasi

(Foto: Ilustrasi)

3. Penggal Kepala untuk Mas Kawin

Terdengar mengerikan? Begitulah yang dilakukan masyarakat di Pulau Seram, Maluku. Suku Naulu ini percaya kalau memenggal kepala manusia itu merupakan cara persembahan kepada nenek moyang. Cara ini dilakukan agar masyarakat Suku Naulu terhindari dari mala petaka atau musibah. Beberapa orang juga percaya tradisi ini dilakukan sebagai bentuk kebanggaan dan simbol kekuasaan.

Selain itu, suku Naulu juga memenggal kepala manusia untuk dijadikan sebagai mas kawin ketika seseorang dari suku ini ingin menikah. Dalam sejarahnya, raja suku Naulu menggunakan cara ini untuk memilih seorang menantu laki-laki. Tradisi ini dilakukan untuk pembuktian juga seberapa jantan calon mempelai pria.

4. Duel Keris atau Sigajeng laleng lipa

Tradisi ini juga terdengar sangat menyeramkan. Bagaimana tidak, dalam melangsungkan tradisi ini, dua pria dibiarkan beradu di dalam sarung dengan berbekal keris sebagai senjata. Tak jarang, pertempuran selesai dengan dua nyawa hilang.

Tradisi ini juga biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah di antara dua pihak. Masalah diselesaikan dengan pertarungan dan ini berkaitan dengan harga diri yang diamini suku Bugis, Makassar.

Namun, tradisi ini sudah ditinggalkan masyarakat Bugis. Mereka tetapi tetap mengamini filosofi dari tradisi ini dan itu kenapa sekarang masih bisa Anda lihat aksi ini tapi dalam bentuk pertunjukan. Jadi, nggak benar-benar saling membunuh.

duel

(Foto : @nasar_rimba/Instagram)

5. Ritual Pemakaman di 'Waruga'

Hal terakhir tentu berkaitan dengan kematian. Di Indonesia, orang mati saja ada tradisinya. Salah satunya yang ada di Minahasa ini. Di sana, mayat diperlakukan tidak sama dengan yang banyak dilakukan.

Jadi, mayat akan dimakamkan dengan posisi duduk sembari memeluk lutut. Spesifiknya, tumit mayat menempel pada pantat dan mulut mencium lutut. Selain itu, posisi mayat harus menghadap ke utara, ini berkaitan dengan nenek moyang Minahasa yang dikatakan berasal dari utara.

Setelah ritual itu selesai, mayat kemudian diletakkan di dalam kuburan batu yang biasa disebut dengan Waruga. Kata ini merujuk pada dua suku kata; waru artinya rumah, dan ruga adalah badan.

tradisi

(Foto : Deketin)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini