nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Kafa'ah Tradisi Pernikahan ala Arab

Gurais Alhaddad, Jurnalis · Minggu 12 Mei 2019 14:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 12 612 2054682 mengenal-kafa-ah-tradisi-pernikahan-ala-arab-RkGOAHIDIe.jpg Ilustrasi orang Arab. (Foto: Alaraby)

TRADISI pernikahan di berbagai memang berbeda satu sama lain. Tapi, karena percampuran budaya yang dibawa oleh para pelancong, membuat budaya pernikahan tersebut diterapkan di tempat lain.

Salah satu budaya pernikahan yang sampai ke Indonesia adalah budaya Arab. Sebagai negara yang memiliki umat Islam terbanyak di dunia. Bukan tak mungkin di Indonesia mempunyai Kaum Alawiyin, kaum atau sekelompok orang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad.

Bagi para laki-laki dan perempuan yang mempunyai Marga seperti Alaydrus, Al-Qadri, As-Sagaf, Al-Hinduan, Bahsin, Al-Habsyi, As-Shahab, Al-Kaff, Al-Attas, Al-Haddad dan sebagainya biasanya disebut Syarif dan Syarifah, karena mereka merupakan keturunan dari Nabi Muhammad.

BacaJuga:  Menikah dengan Bule, Apa Enaknya?

Bagi mereka yang keturunan Arab, ketika Menikah biasanya memperhatikan Kafa’ah. Kafa’ah adalah keseimbangan dan keserasian dalam sebuah pernikahan antara calon suami dan istri baik dalam kedudukan, Ahlak, Status sosial maupun kekayaan.

Mungkin bagi orang awam sering mendengar bahwa Syarifah atau perempuan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki yang bukan dari keturunan rasul atau yang tidak mempunyai marga. Sedangkan laki-laki Arab boleh menikahi wanita ya bukan dari keturunan rasul. Mari kita ulas.

Dikutip dari berbagai sumber, orang Arab memang menggunakan Kafa’ah dalam tradisi pernikahan mereka. Sebagai contoh, perempuan anak raja atau anak orang yang sangat kaya, tidak boleh menikah dengan laki-laki yang bukan dari keluarga kerajaan atau orang miskin.

Lantas, mengapa Syarifah atau perempuan Arab yang mempunyai marga dari Nabi Muhammad tidak diperbolehkan menikah dengan orang awam? Menurut ajaran terdahulunya, marga atau keturunan Nabi Muhammad bisa terputus, dan akan menjadi bencana bagi keluarganya bila mereka melakukan pernikahan dengan laki-laki yang bukan dari kaumnya.

Selain itu, menurut kafa’ah, bila perempuan derajatnya lebih tinggi dari laki-laki dikhawatirkan perempuan itu akan kurang ajar pada suaminya. Tetapi di zaman yang semakin berubah, pandangan semakin terbuka, tidak sedikit perempuan-perempuan Arab ini memilih belahan jiwanya sendiri tanpa mementingkan hal-hal tersebut.

Sedangkan laki-laki Arab boleh menikahi perempuan yang bukan dari golongannya, Mengapa? karena perempuan yang di nikahi oleh laki-laki Arab akan diangkat derajatnya.

Menurut Kafaah Seorang perempuan biasa, akan terangkat derajatnya ketika dinikahi oleh seorang laki-laki yang memiliki status sosial yang tinggi, pendidikan yang mapan, dan derajat keagamaan yang lebih.

Tujuan utama bangsa Arab memegang teguh Kafa’ah adalah ketenteraman dan kelanggengan sebuah rumah tangga. Karena jika rumah tangga didasari dengan kesamaan persepsi, kesesuaian pandangan, dan saling pengertian, maka niscaya rumah tangga itu akan tenteram, bahagia dan selalu dinaungi rahmat Allah SWT.

Sebaliknya, jika rumah tangga sama sekali tidak didasari dengan kecocokan antar pasangan, maka kemelut dan permasalahan yang kelak akan selalu dihadapi mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini