nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Larangan Nikah Beda Suku, Apa Sih Penyebabnya?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 12 Mei 2019 21:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 12 612 2054785 larangan-nikah-beda-suku-apa-sih-penyebabnya-dk9iSeXCcc.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SETIAP pasangan tentu menginginkan hubungan mereka berakhir di pelaminan. Tapi terkadang, ada saja tantangan dan kendala yang dihadapi hingga akhirnya mereka gagal menikah, entah karena perbedaan tradisi, atau kepercayaan yang dianut oleh keluarga masing-masing.

Salah satunya adalah mitos orang Sunda yang dilarang menikah dengan orang Jawa. Mitos ini pertama kali berkembang sejak peristiwa Perang Bubat. Perang ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citaresmi dari Negeri Sundan.

Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri Dyah karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman bernama Sungging Prabangkara.

Tapi, adapula yang mengatakan, alasan utama Hayam Wuruk berniat memperistri Dyah Pitaloka karena didorong oleh kepentingan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda.

Baca Juga: Ingin Punya Istri Cantik? Menikahlah dengan Wanita dari 6 Daerah Ini


Peristiwa yang dikenal dengan sebutan Perang Bubat ini berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, dan para pejabat kerajaan beserta segenap keluarga Kerajaan Sunda. Konon katanya, Putri Dyah Pitaloka memutuskan untuk melakukan bela pati (bunuh diri) untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya.

Dari sinilah mitos orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa bermula. Bahkan, jika ada yang nekat melakukannya, dipercaya bahwa rumah tangga mereka tidak akan berlangsung lama.

Mitos serupa juga berkembang di tengah-tengah suku Batak dan Jawa. Konon katanya, kedua suku ini juga tidak cocok untuk dipersatukan dalam sebuah pernikahan.

Hal ini karena suku Batak dikenal memiliki watak yang cukup keras dan blak-blakan, sementara suku Jawa cenderung lembut dan 'manut'. Di samping itu, banyak orang yang sudah tersugesti bahwa setiap suku memiliki kepercayaan yang berbeda.

Ditambah lagi, adat istiadat kedua suku ini yang dianggap sangat kompleks dan rumit. Misalnya orang Batak yang masih menganggap penting marga dari garis ayah mereka.

Oleh karena itu, bila ada pria Batak yang menikahi perempuan di luar sukunya, maka mereka harus mengadakan pesta adat untuk memberikan marga pada istri non Batak, agar keturunan mereka kelak dapat berperan dalam adat.

Tapi jika melihat kondisi di lapangan, pernikahan Boby Nasution dan Ahiyang Ayu menjadi bukti bahwa sebetulnya perbedaan suku tidak menjadi hambatan besar bagi mereka. Demikian dilansir dari berbagai sumber, Minggu (12/5/2019).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini