nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Garam Jadi Penyebab Darah Tinggi, Mitos atau Fakta?

Agregasi Hellosehat.com, Jurnalis · Senin 13 Mei 2019 10:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 13 481 2054905 garam-jadi-penyebab-darah-tinggi-mitos-atau-fakta-dY1AgVZdC8.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

GARAM yang juga dikenal sebagai natrium klorida adalah senyawa yang tersusun atas 40% natrium dan 60% klorida. Keduanya adalah elektrolit yang memegang peranan penting dalam kesehatan.

Elektrolit dalam garam adalah atom dengan muatan listrik yang berada dalam cairan tubuh. Pengaruhnya dalam kerja tubuh manusia ada banyak. Natrium, misalnya, berperan dalam kontraksi otot, fungsi saraf, dan mengatur volume serta tekanan darah.

Kekurangan natrium karena berkeringat atau kehilangan cairan bisa menyebabkan kram otot. Sementara itu, klorida membantu menjaga keseimbangan cairan pada sel agar volume dan tekanan darah tetap stabil.

Jadi kalau kedua mineral ini sebetulnya penting, mengapa banyak yang bilang bahwa garam menyebabkan hipertensi alias tekanan darah tinggi?

Baca Juga: Ingin Punya Istri Cantik? Menikahlah dengan Wanita dari 6 Daerah Ini

Nah, sekira 95 persen orang hipertensi didiagnosis hipertensi primer, yaitu ketika penyebab kondisi ini tidak diketahui. Sedangkan hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain dan masih bisa disembuhkan.

Pada hipertensi primer, ada banyak faktor yang disebut-sebut bisa meningkatkan risiko hipertensi, termasuk asupan garam. Ya, banyak yang bilang bahwa garam menyebabkan hipertensi. Padahal, kenyataannya tak sesimpel itu.

Pembuangan cairan sisa dalam tubuh oleh organ ginjal tergantung pada keseimbangan natrium dan kalium untuk mengikat air dan mengantarnya ke kandung kemih.

Kebanyakan asupan garam akan merusak keseimbangan natrium dan kalium, sehingga menyulitkan ginjal bekerja dengan baik. Yang lantas terjadi adalah retensi (penumpukan) cairan diikuti dengan naiknya tekanan darah.

Kebanyakan asupan garam juga menyebabkan tekanan yang melemahkan dinding arteri. Arteri yang sudah tertekan ini akan menebal dan jadi semakin sempit, sehingga tekanan darah pun makin naik. Pada akhirnya, arteri akan pecah atau tersumbat.

Organ tubuh yang terhubung pada arteri yang rusak tersebut kemudian kekurangan oksigen. Kurang oksigen bisa sebabkan kerusakan organ. Bila ini terjadi pada arteri koroner yang menyuplai jantung, Anda bisa mengalami serangan jantung.

Baca Juga: Terungkap, Ternyata Meghan Markle Menamai Anaknya Sama dengan Kucingnya

Meski penelitian telah membuktikan bahwa garam dapur adalah salah satu faktor utama pemicu hipertensi dari segi gaya hidup, risikonya berbeda-beda pada setiap orang. Para ahli menemukan bahwa beberapa orang mungkin baik-baik saja meski pola makannya tinggi garam.

Namun, ada juga yang mengalami tekanan darah tinggi atau perut kembung kalau kebanyakan garam. Kondisi yang disebut sensitif terhadap garam ini bisa dialami siapa pun, baik punya hipertensi atau tidak.

Sensitif terhadap garam adalah kondisi yang diwariskan dari keluarga. Orang dengan kondisi ini perlu memantau asupan garamnya secara cermat. Selain faktor keturunan, ada lagi hal-hal yang menentukan bagaimana tekanan darah Anda bereaksi terhadap garam.

Hasil penelitian juga menemukan, perempuan lebih banyak mengalami sensitivitas pada garam dibanding laki-laki, dengan usia di atas 45 tahun mungkin lebih sensitif terhadap garam.

Mereka yang memiliki obesitas dan punya kondisi medis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit ginjal kronis bisa meningkatkan risiko Anda sensitif terhadap garam.

Menurut American Heart Association, kira-kira lebih dari 50 persen orang hipertensi sensitif terhadap garam. Bahkan, 1 dari 4 orang dengan tekanan darah normal sebetulnya sensitif terhadap garam dan berisiko mengalami hipertensi akibat pola makan zaman sekarang yang tinggi garam.

Meski membatasi asupan garam itu baik, kekurangan garam juga bisa membahayakan. Maka, Anda tidak perlu sampai pantang garam sama sekali karena takut garam menyebabkan hipertensi. Yang sangat dianjurkan untuk mengurangi garam terutama orang yang sensitif terhadap garam.

Cara terbaik untuk mulai membatasi garam yaitu dengan mengurangi konsumsi makanan instan dalam kemasan. Pasalnya, sekitar 77% dari natrium harian biasanya didapatkan dari makanan kemasan (daging beku, bumbu masak yang sudah diproses, dan makanan kalengan).

Mengurangi makanan kemasan juga akan mendorong Anda agar mengonsumsi makanan tinggi vitamin, mineral, serat, dan nutrisi penting lainnya. Apalagi bila dibarengi asupan magnesium dan kalium yang seimbang, Anda tak perlu terlalu memusingkan apakah garam menyebabkan darah tinggi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini