nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sudah Masuk Singapura, Kemenkes: Cacar Monyet Belum Sampai Indonesia

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 15 Mei 2019 10:13 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 15 481 2055862 sudah-masuk-singapura-kemenkes-cacar-monyet-belum-sampai-indonesia-lp8ev0hfmw.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PENYEBARAN penyakit monkeypox atau cacar monyet di Singapura, membuat sebagian masyarakat Indonesia khawatir. Meski demikian, penyebaran penyakit belum sampai ke Tanah Air, sehingga Anda tak usah panik.

Cacar monyet adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Biasanya terjadi karena kontak dengan monyet, tikus gambia dan tupai, atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi.

Sementara penularannya dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus.

Baca Juga: Kelewat Kreatif, Warung Ayam Geprek di Malang Bikin Netizen Emosi

penularannya dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada kulit

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Anung Sugihantono, MKes, mengatakan sebagian wilayah yang masih terjangkau cacar monyet secara global yaitu Afrika Tengah dan Barat. Seperti Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Ivory Coast, Liberia, Sierra Leone, Gabon dan Sudan Selatan).

"Sampai saat ini belum ditemukan kasus cacar monyet di Indonesia,” tegas Anung lewat siaran persnya, Rabu (15/5/2019).

cacar monyet pernah menjadi KLB di beberapa wilayah. Tahun 1970 terjadi kejadian luar biasa pada manusia pertama kali di Republik Demokratik Kongo.

Tahun 2003 dilaporkan kasus di Amerika Serikat, akibat riwayat kontak manusia dengan binatang peliharaan prairie dog yang terinfeksi oleh tikus Afrika yang masuk ke Amerika. Tahun 2017 terjadi kejadian luar biasa di Nigeria.

"Bulan Mei 2019 dilaporkan seorang warga negara Nigeria menderita cacar monyet, saat mengikuti lokakarya di Singapura. Saat ini pasien dan 23 orang yang kontak dekat dengannya diisolasi untuk mencegah penularan lebih lanjut,” jelas Anung.

Baca Juga: Viral Foto Bocah Menikah dengan Perempuan Dewasa, Ternyata Ini Faktanya!

 Tahun 2017 terjadi kejadian luar biasa di Nigeria.

Padahal pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit cacar monyet, wajib segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejalanya.

Seperti demam tinggi yang mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari tiga minggu setelah kepulangan, serta menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.

Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala), cacar monyet biasanya 6-16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5-21 hari. Gejala lain yang timbul berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.

Penderita cacar monyet juga akan mengalami ruam pada kulit muncul pada wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga tiga minggu sampai ruam tersebut menghilang.

Sayangnya, sebut Anung, tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus cacar monyet. Namun pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul.

"cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14-21 hari," tuturnya.

Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus cacar monyet.

Sementara itu, proses penularan penyakit ini dapat dicegah. Cara paling penting adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti tidak lupa cuci tangan dengan sabun. Hindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.

Selain itu, Anda juga harus menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi. Juga hindari kontak dengan hewan liar atau mengonsumsi daging yang diburu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini