nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gadis Malaysia Bunuh Diri Setelah Buat Polling di Instagram, Ini Kata Psikolog

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 16 Mei 2019 20:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 16 196 2056655 gadis-malaysia-bunuh-diri-setelah-buat-polling-di-instagram-ini-kata-psikolog-IxSmIDXAiy.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Seorang gadis di Malaysia dikabarkan bunuh diri setelah mengajukan jajak pendapat (polling) di Instagram. Dari hasil pemungutan suara, sebagian besar responden mendukung dia untuk mengakhiri hidup.

Mengacu pada fakta di media sosialnya, gadis berusia 16 tahun itu membuat sebuah pernyataan, "Sangat penting, bantu aku memilih: D atau L". Pilihan D mengacu pada Death (Mati), dan L mengacu pada Live (Hidup). Selepas membagikan postingan itu, remaja tersebut dikabarkan bunuh diri. Kematian ini menjadi pusat perhatian publik.

Melihat kasus ini, Psikolog Meity Arianty menjelaskan kalau kasus percobaan bunuh diri sebetulnya sudah menjadi fenomena global. Percobaan bunuh diri berhubungan erat dengan aspek psikologis dan pengambilan keputusan ketika seseorang dihadapkan pada suatu permasalahan.

Pelaku bunuh diri biasanya dihadapkan pada dua pilihan yaitu menyelesaikan permasalahn dengan cara positif atau dengan cara negatif, yaitu bunuh diri. Di beberapa penelitian, percobaan bunuh diri dilakukan karena adanya rasa kehilangan dan sebagai sarana untuk mengekspresikan emosi-emosi negatif yang dirasakan. Hal ini disebabkan oleh depresi yang muncul namun tidak dapat direduksi ego.

 Gambar perempuan dari koran

(Foto: BalqisSidiqia/Twitter)

Pernyataan ini seperti teori Freud mengenai bunuh diri yaitu adanya pembalikan agresi pada diri sendiri akibat adanya rasa kehilangan objek cinta.

"Biasanya orang yang melakukan percobaan bunuh diri cenderung tidak berpikir jernih dan kurangnya kematangan logika berpikir. Bisa juga adanya tekanan dari lingkungan sosial dan pelaku tidak mampu menyesuaikan dirinya didukung faktor internal seperti ingin lari dari rasa sakit," kata Mei pada Okezone melalui pesan singkat, Kamis (16/5/2019).

Hal lainnya ialah yang bersangkutan memiliki pandangan negatif terhadap masa depan yang menimbulkan frustrasi dan cara paling mudah yang dapat dilakukannya adalah dengan bunuh diri.

Mei melanjutkan, pelaku bunuh diri digeneralisasikan sebagai orang yang memiliki kepribadian tertutup dan lemah iman sehingga mengambil jalan pintas ketika menghadapi persoalan atau beban hidup.

Dalam kasus bunuh diri remaja Malaysia ini, menurut Mei, apabila depresi menjadi penyebabnya, ini mesti diobservasi lebih lanjut karena bisa jadi bukan dipicu depresi.

"Banyak faktor yang menyebabkan seseorang memilih jalan pintas dengan bunuh diri. Misal karena putus asa, tidak berdaya, cemas, ketakutan, bingung, kecewa yang mendalam, kehilangan, merasa tertantang, atau karena hal lain," ujarnya.

Semua hal ini melahirkan rasa tidak berdaya yang menyebabkan seseorang memilih jalan pintas dengan bunuh diri. Lalu, bagaimana dengan kasus bunuh diri yang diunggah di media sosial?

Seperti kasus di atas, kata Mei, ini bisa jadi bukan hanya sekedar mencari perhatian, namun bisa karena hal lain.

"Tidak bisa juga dikatakan pelaku sengaja menggunakan media sosial untuk mendapatkan perhatian karena rasanya tidak 100 persen tepat. Sebab, apa yang dia peroleh saat faktanya dia sudah mati sementara saat seseorang mencari perhatian tentu yang diinginkan hanya menggertak tanpa benar-benar melakukan dari upaya mencari perhatian tersebut," katanya.

Jadi, dapat dikatakan, motif bunuh diri yang dilakukan setiap orang bisa beragam bahkan mungkin tumpang tindih seperti yang disampaikan Fredric di mana bunuh diri merupakan hasil dari pemikiran yang berbeda dan kadang-kadang bertentangan. Sebab, masalah ini memiliki latar belakangnya sendiri-sendiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini