nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS yang Lama Menanti Anak

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 18 Mei 2019 03:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 17 612 2057173 kisah-nabi-ibrahim-as-dan-nabi-zakaria-as-yang-lama-menanti-anak-CGdI0HUwQn.jpg Kisah para nabi yang lama menanti anak (Foto: Reference)

TIDAK semua pasangan suami-istri langsung dikarunia anak dengan cepat. Hal ini bahkan sudah terjadi sejak zaman Nabi, dalam sejarah Islam ada 2 orang Nabi pilihan Allah SWT yang memiliki kisah lama diberi keturunan.

Ialah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS. Kedua Nabi ini diketahui sama-sama baru mendapatkan momongan setelah puluhan tahun menanti dan berdoa pada Allah SWT.

Pertama ada Nabi Ibrahim, seperti yang pernah dijelaskan oleh Ustadz Fauzan, salah seorang pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Dalam kehidupan pernikahannya dengan Siti Hajar, Nabi Ibrahim membutuhkan waktu yang lama sekali untuk dikaruniai seorang buah hati.

Ustadz Fauzan menambahkan, kisah Nabi Ibrahmi dan istrinya, Siti Hajar yang lama dikarunia anak sebetulnya tidak ada kisah pasti te terkait berapa tahun lamanya. Hal ini kemungkinan, disebabkan karena standar umum pada masa Nabi berbeda dengan zaman sekarang.

“Hal tersebut mungkin karena standar umur pada waktu itu dengan sekarang berbeda, yang jelas sangat lama sekali. Ketika beliau masih di Palestina sampai hijrah ke dataran jazirah Arab itu waktunya sangat lama, sehingga banyak sekali dalam Alquran ayat-ayat yang menjelaskan Nabi Ibrahim memohon pada Allah untuk segera diberi keturunan,”ujar Ustadz Fauzan kala itu kepada Okezone.

Sejarah menyebutkan selain berdoa, yang pasti berkah diberi anak oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim ini adalah hasil dari sikap mulia dari Nabi Ibrahim dan sang istri. Contohnya adalah bagaimana keduanya sangat memuliakan tamu. Nabi Ibrahim dan Siti Hajar kala itu sudah berusia sangat tua, kala itu kediaman Nabi didatangi oleh sekelompok tamu. Nabi Ibrahim yang sangat ramah bersikap sangat menghormati tamunya, ia disebutkan bahkan meminta sang istri untuk menyembelih seekor anak sapi yang gemuk untuk disajikan sebagai hidangan daging sapi panggang kepada para tamu.

Namun anehnya para tamu tersebut tak menyentuh sajian tersebut, hingga membuat Nabi Ibrahim dan sang istri merasa takut, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur`an. “Sesungguhnya kami takut kepada kalian” (QS. Al-hijr [15]: 52).

Tahukah kalian, ternyata tamu yang datang ke rumah Nabi Ibrahim bukanlah tamu biasa, melainkan para malaikat yang diutus oleh Allah SWT. Melihat Ibrahim AS dan sang istri yang merasa takut, malaikat berkata bahwa sesungguhnya mereka diutus kepada kaum Luth. Di sebutkan lebih lanjut, kala itu para malaikat tengah di perjalanan untuk mengabarkan pada Ibrahim AS untuk menghancurkan kaum Luth yang telah berdosa dan bersikap melampaui batas. Di saat itu pula, malaikat menyampaikan kabar baik bahwa sejatinya Nabi Ibrahim AS akan dikarunia anak oleh Allah SWT melalui sang istri.

Mendengar kabar bahagia ini, Siti Hajar tentu terkejut karena tidak menyangka bahwa di usia setua itu (sekira 90 tahun) ia akan bisa mengandung dan melahirkan anak. Di tengah keterkejutan dan keheranan Siti Hajar, malaikat berkata sesungguhnya Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar tidak perlu bingung akan ketetapan Allah SWT.

“Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan berkah-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah,”.

Hingga akhirnya, pasangan Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar resmi menjadi orangtua ketika masing-masing disebutkan sudah menginjak usia sekitar 100 dan 99 tahun.

Senada dengan kisah Nabi Ibrahim AS, kisah Nabi Zakaria AS dengan sang istri, Isya binti Faqudza. Kala itu dikatakan bahwa Isya bahkan sudah divonis mandul, alias perempuan yang secara biologis sudah tidak bisa mengandung dan melahirkan seorang anak oleh sejumlah ahli pada masa itu.

Hal ini tentu semakin memupuskan harapan Nabi Zakaria AS dan sang istri untuk bisa memiliki keturunan. Namun yang patut diteladani ialah, meski begitu Nabi Zakaria tidak pernah berhenti untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT, untuk bisa dikarunia anak yang kelak bisa meneruskan perjuangan dakwahnya.

Dikisahkan, suatu hari, Nabi Zakaria mendatangi kediaman sang sahabat yakni Siti Maryam. Zakaria AS merasa kaget ketika melihat ada makanan dan buah-buahan yang ada di mihrab Maryam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, “Setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maria, ia selalu menemukan makanan di sisi Maria”.

Nabi Zakaria yang bingung lalu bertanya, dari mana semua makanan itu berasal. Maryam menjawab bahwa semua itu adalah rezeki dan anugerah dari Allah. Jawaban singkat tersebut semakin memberi semangat kepada Nabi Zakaria untuk tidak lelah mengharap karunia dari Allah SWT.

Kemudian, Nabi Zakaria pun disebutkan meminjam mihrab Maria untuk berdoa. Dalam Al-Qur’an disebutkan, Nabi berdoa

 

رَبِّ هَبْ لى‏ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

Nabi Zakaria kala itu yang masih dalam posisi berdiri dalam salatnya, tiba-tiba didatangi oleh malaikat Jibril yang datang untuk menyaimpaikan kabar gembira. Malaikat Jibril membawa kabar bahwa Nabi Zakaria AS akan dikarunia oleh Allah SWT, seorang anak bernama Yahya yang mana sang anak tersebut akan menjadi panutan dan pembenar firman-firman Allah SWT, dan diangkat oleh Allah SWT menjadi seorang nabi seperti Nabi Zakaria AS.

Dari kisah dua Nabi, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS di atas kita sebagai umat Muslim, bisa meneladani kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan kepada Allah SWT. Di mana sejatinya jika Allah sudah berkehendak, maka ketetapan Allah akan terjadi, walaupun mungkin di luar nalar manusia. Demikian seperti dirangkum dari berbagai sumber, Sabtu (18/5/2019).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini