nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

16 Tahun Belum Dikaruniai Anak, Sempat Hamil tapi Saya Harus Ikhlas Mengembalikannya pada Tuhan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 18 Mei 2019 00:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 18 196 2057212 16-tahun-menikah-belum-dikaruniai-anak-sempat-hamil-tapi-saya-harus-ikhlas-mengembalikannya-pada-tuhan-dVh2LefncZ.jpg 16 tahun menikah belum dikaruniai anak, saya ikhlas (Foto : Mirror)

Usia saya sudah 40 tahun sekarang dan status menikah. Tapi, sampai detik ini Tuhan belum mengizinkan saya menimang seorang bayi dalam dekapan. Sedih sudah pasti, tapi keyakinan saya pada Tuhan ialah ada misi lain yang saya harus kerjakan selain mengasuh anak.

Bukan waktu yang sebentar untuk saya menanti seorang anak. Saya dan suami menikah pada 20 September 2003. Ya, sudah 16 tahun saya menunggu ada janin dalam rahim. Meski begitu rumah tangga saya dan suami tetap hangat hingga sekarang.

Jika waktu dimundurkan, saya teringat momen di mana saya menunda kehamilan selama 3 tahun. Ini karena saya harus menyelesaikan kuliah dan meniti karier. Usia saat menikah kala itu 24 tahun dan saya merasa masih ada mimpi yang ingin dikejar di momen itu. Punya momongan juga sepertinya saya belum siap. "Ngga ah, aku belum settle," kataku terkait dengan keinginan punya anak di 3 tahun pertama pernikahan.

Namun, waktu terus berjalan. Sampai akhirnya aku kenyang dengan omongan orang-orang di sekitar yang menanyakan di mana anakku, kenapa belum terlahir. Kesal sudah pasti, tapi kalau sekarang sudah santai. Saya sudah ikhlas. Ya, sesekali terlihat tegar di depan teman-teman, tapi pas masuk mobil, saya mewek juga.

menanti dikaruniai anak

Setiap tahun selalu ditanya perihal anak, membuat saya akhirnya yakin untuk punya. Pernyataan teman juga yang kemudian membuat saya dan suami yakin untuk memiliki momongan. "Jangan sampai masuk usia 30 tahun tapi belum punya anak," kata teman-temanku. Program kehamilan pun dilakukan.

Singkat cerita, saya pergi ke dokter kandungan. Seorang diri. Pemeriksaan dilakukan dan ternyata hasilnya menyatakan tidak ada masalah kesuburan yang saya miliki. Saya sehat. Namun, untuk memaksimalkan program kehamilan, dokter memberi saya vitamin.

Lalu, berjalannya waktu, tetap saja program ini tak memberi hasil. Saya akhirnya mencari dokter lain, banyak yang saya datangi. Sekali lagi, saya datang ke dokter tak ditemani suami. Sampai akhirnya dokter menyarankan untuk saya mengajak suami untuk dicek kesehatan dan kesuburannya.

Ini momen yang sulit buat saya. Kesibukan suami yang begitu padat membuat dia tak memiliki kesempatan untuk ikut dengan saya pergi ke dokter kandungan. Tapi, suatu ketika ada waktu, ya, kami berdua pergi bersama. Pemeriksaan pada suami pun dilakukan.

Dokter bilang kalau suami saya memiliki masalah! Ya, ekor sperma suami saya pendek, ini yang membuat sperma menjadi tak gesit, membuat pertemuan sperma dengan sel telur tak terjadi.

Selepas itu, selama 3 tahun saya stres. Pengobatan alternatif pun dilakukan untuk bisa mendapatkan harapan memiliki anak. Usia pernikahan pun masuk ke angka 10 tahun. Di momen itu, aku kadang suka iri sama pasangan suami istri yang punya anak. Saya pengin juga.

Tak bisa dipungkiri, karena kondisi ini ditambah dengan stres, hubungan saya dan suami sempat diterpa percikan api. Saya jadi lebih sensitif, apalagi saat suami menolak pergi periksa. Saya merasa, "Kok saya doang yang berusaha!".

Tapi, sikap ini tidak bertahan lama. Saya kembali teringat pada janji pernikahan saya dan dia di awal menikah. Di mana, saya akan setia bersama suami dalam suka mau pun duka. Saya berjanji untuk setia bersama suami dalam kondisi malang mau pun untung. Ini yang menguatkan saya.

Upaya Retno memiliki anak

Jika boleh jujur, saya pernah melakukan tindakan pijat kesuburan. Tapi, tindakan ini tidak saya teruskan karena ada suatu momen di mana saya merasa ada yang tidak benar dengan "si mbah" yang menangani saya.

Jadi, saya bertemu dengan sosok ini di Bantul. Lalu, setelah pijat saya mengajak dia untuk makan bersama di sebuah restoran. Kemudian, tanpa aba-aba, si mbah berkata ini pada saya, "Mbak mau nggak hamil bayi yang ada di dalam kandungan ibu itu?" ucap si mbah.

Setelah peristiwa itu terjadi, saya langsung pergi meninggalkan orang tersebut dan melupakannya. Saya yakini kalau si mbah ini melakukan ilmu hitam juga dalam praktiknya dan ini sudah di luar dari paham saya dan suami.

Bukan hanya upaya alternatif, tapi saya juga melakukan tindakan medis. Saya melakukan inseminasi. Namun, sebelum tindakan ini dilakukan, di tahun ke-7 pernikahan, saya mendapat vonis kalau saluran indung telur saya terhalang sesuatu. Makanya, upaya inseminasi pun dipilih.

Namun, setelah dicoba, ternyata tidak berhasil. Saya masih ingat benar, dokter kemudian menyarankan saya untuk bayi tabung. Ini dengan alasan sperma lambat dan saluran indung telur saya terhambat.

Program bayi tabung pun menjadi tujuan saya dan suami kala itu. Kita berdua ngumpulin duit sampai sekarang.

Dalam perjalanan ngumpulin duit untuk bayi tabung ini, Tuhan berkehendak lain. Di usia pernikahan saya yang ke-10 dan di fase di mana saya dan suami tak melakukan upaya apa pun selain menabung, saya dinyatakan hamil secara alamiah!

Perasaan ini luar biasa. Harapan yang selama ini dinantikan datang. Tuhan memberikannya di waktu yang tak pernah saya bayangkan sama sekali. Saya jaga betul janin tersebut.

Tapi, yang terjadi kemudian, bayi saya divonis tumbuh tidak di rahim, tetap i di saluran indung telur atau dalam bahasa keseharian disebut hamil di luar rahim. Kondisi ini saya coba terima dengan ikhlas dan berpasrah pada Tuhan.

Embrio yang tumbuh itu tersangkut karena saluran belum dibersihkan. Tapi, setiap harinya janin tersebut bertambah besar. Ini diketahui dari pemeriksaan rutin yang saya lakukan.

Jadi, saya cek ke dokter 2 minggu pertama, janinnya belum kelihatan ada di rahim, tapi penebalan rahim sudah ada. Saya kembali lagi 2 minggu kemudian, dan hasilnya pun sama, tak ada janin di dalam rahim. Namun, janin terus membesar di dalam saluran indung telur.

Saya bingung harus bagaimana. Sedih tentunya saya sedih. Doa saya dan suami yang selama ini diharapkan malah mengalami kondisi ini. Saya pun akhirnya cek ke beberapa dokter untuk memastikan apakah benar tak ada cara yang bisa menekan janin tersebut masuk ke rahim. Ternyata jawabannya nihil.

Saya dihadapkan pada kondisi di mana saya harus merelakan janin itu terus membesar tapi membahayakan tubuh saya atau saya mesti pasrah untuk melepaskan janin tersebut dari tubuh saya. Pilihan yang tak pernah saya bayangkan sama sekali.

Hal yang memberatkan saya ialah dari hasil pemeriksaan dokter, diketahui kalau detak jantung janin sudah muncul. Janin saya hidup di sana, tapi saya memilih untuk mengangkatnya. Saya merelakan manusia dalam tubuh saya kembali dalam dekapan Tuhan.

Hati yang ikhlas dan tetap percaya pada Tuhan adalah kunci

Saya dan suami percaya, setiap manusia yang terlahir di dunia ini punya misi masing-masing dan mungkin untuk saya, misi memberi perawatan, membesarkan anak, atau menjaga titipan Tuhan dari rahim seorang perempuan, saya tak rasakan.

Meski begitu, saya percaya kalau Tuhan punya misi lain yang bisa saya lakukan. Saya juga berupaya untuk tetap menjalankan misi tersebut dengan mengasuh dua anak yang tinggal di Magelang. Anak asuh saya ini laki-laki dan perempuan dan mereka berdua sekarang kelas 1 SD.

Ada perasaan bahagia yang saya rasakan dengan mengasuh mereka. Tuhan menitipkan mereka pada saya dan saya bersama suami sudah menganggap dua anak itu seperti anak kita sendiri. Tuhan mempercayai saya untuk menjaga manusia lain yang bukan dari rahim saya dan saya melakukannya dengan penuh syukur.

Terlepas dari saya yang masih pengin punya anak sementara suami lebih berpikir ke arah kesehatan saya pribadi, selama 15 tahun ini saya dan suami menikah, saya benar-benar bersyukur. Sebab, suami saya adalah sosok yang menerima kondisi saya bagaimana pun itu.

Suami saya tidak kemudian mendesak untuk harus punya anak. Dia support saya dan ini hal lain yang menguatkan saya menjalani hidup berdua dengan suami. Bagi saya, ini kebahagiaan lain yang patut saya syukuri pada Tuhan. Bagaimana pun, saya dan suami tetap percaya pada-Nya dan sekarang waktunya saya dan suami terus berbuat baik pada sesama. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini