nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengakuan Wanita Korea yang Memilih Tidak Mau Mempunyai Anak

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 19 Mei 2019 19:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 19 612 2057639 pengakuan-wanita-korea-yang-memilih-tidak-mau-mempunyai-anak-I4abUBki7I.jpg Jang Yun Wha Wanita Korea yang Enggan Punnya Anak (Foto: Ist)

DI luar kesuksesannya sebagai negara maju tak hanya di lingkup benua Asia, dan juga dunia. Sebagai negara, Korea Selatan tengah menghadapi masalah soal kependudukan.

Pasalnya, Korea Selatan diketahui sebagai negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia. Disebutkan dari untuk setiap 100 wanita, hanya 95 orang anak yang lahir. Pada akhirnya membuat populasi negara semakin menyusut.

Rendahnya tingkat kelahiran di negara yang menjadi pusat akan arus Hallyu Wave ini, salah satunya didorong karena semakin banyak wanita Korea yang memilih untuk tidak menikah dan tidak mempunyai anak, atau bahkan malah tidak berkeinginan untuk membina hubungan dengan kaum pria.

Faktor seperti adanya perubahan cukup drastis pada tubuh, rasa sakit saat melahirkan, hingga kekhawatiran akan menghambat karir muncul sebagai salah satu faktor yang mendorong sebagian wanita Korea tidak mau memiliki anak. Seperti pengakuan Jang Yun Hwa, wanita 24 tahun seorang wanita yang berprofesi sebagai seniman pembuat web-comic.

“Saya tidak berencana untuk pernah memiliki anak. Saya tidak ingin merasakan sakit fisik saat melahirkan, dan itu akan menganggu perjalanan karir saya,” aku Jang Yun Hwa.

Seperti banyak orang dewasa muda di pasar kerja yang sangat kompetitif di Korea Selatan, Yun-hwa, mengaku telah bekerja keras untuk mencapai posisi karirnya sekarang dan tidak siap untuk membiarkan semua usaha keras itu sia-sia.

“Alih-alih menjadi sebuah bagian dari keluarga, saya lebih suka menjadi mandiri dan hidup sendiri dan menggapai semua mimpi saya,” imbuhnya.

 

Di samping itu, Yun Hwa berpendapat bahwa kultur di Korea menjadikan peranan wanita dalam transformasi sering diabaikan.

"Keberhasilan ekonomi Korea juga sangat tergantung pada pekerja pabrik berupah rendah, yang sebagian besar perempuan dan juga bagaimana wanita harus menyediakan porsi besar dalam mengurus dan merawat dalam keluarga agar pria bisa keluar dan hanya fokus pada pekerjaan. Sekarang wanita semakin melakukan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh pria - dalam manajemen dan profesi. Namun terlepas dari perubahan sosial dan ekonomi yang cepat, sikap terhadap gender lambat untuk berubah. "Di negara ini, wanita diharapkan menjadi “cheerleader” para pria," pungkas Yun-Hwa

Kekhawatiran soal terhambatnya karir, sampai ketakutan saat menjadi orangtua ini nyatanya tak hanya dirasakan oleh para wanita lajang. Namun juga yang sudah menikah, seperti pengakuan dari Bae Jeong Been, wanita karir berusia 28 tahun.

Bekerja keras hingga bisa mencapai posisi di sebuah perusahaan retail besar, Jeong Been yang telah menikah kurang lebih selama tiga tahun mengaku masih ingin menunggu beberapa tahun lagi sampai memutuskan untuk benar-benar mempunyai anak. Mendengar segala hal positif dan negatif dari teman-teman di lingkungannya yang telah menjadi orangtua, menjadikan Jeong Been berpikir bahwa untuk ia dan sang suami, untuk sekarang yang namanya punya anak bukanlah prioritas utama mereka berdua.

“Suami saya dan saya sendiri masih ingin untuk bisa menikmati kehidupan pernikahan selama beberapa tahun awal menikah. Selain itu saja juga khawatir akan waktu yang tersedia untuk meningkatkan mengembangkan diri. Saya masih harus banyak belajar, tapi jika saya sudah punya bayi saya jadi tidak bisa melakukan hal-hal yang saya inginkan,” aku Jeong Been, Warga Korea Selatan. Demikian seperti dirangkum Okezone dari berbagai sumber, Minggu (19/5/2019).

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini