nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Cara Kerja Gas Air Mata di Demo 22 Mei, Apa Saja Sih Isinya?

Agregasi Hellosehat.com, Jurnalis · Rabu 22 Mei 2019 12:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 22 481 2058865 mengenal-cara-kerja-gas-air-mata-di-demo-22-mei-apa-saja-sih-isinya-qYiWWNSoqm.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

AKSI demo 22 Mei terpantau ricuh di beberapa tempat. Bentrok yang terjadi pun memaksa pihak Kepolisian melepaskan gas air mata kepada para pendemo yang rusuh.

Memang, gas air mata sering digunakan oleh penegak hukum ketika mereka dihadapkan dengan kerumunan agresif, sebagai pengontrol kerusuhan dan sebagai senjata kimia. Nah, pada demo 22 Mei ini pun Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Bentuk awal dari gas air mata pertama kali digunakan dalam Perang Dunia I oleh Prancis dan Jerman. Lantas, bahan aktif apa saja yang terkandung dalam gas air mata?

Baca Juga: Pria Ini Dihujat karena Mengunggah Pesan dari Mantan untuk Setiap Calon Pacarnya


sumbu akan menyulut bara: Ketika dikombinasikan dengan kalium nitrat, arang mudah terbakar.

Arang

Biasanya terbuat dari kayu yang dipanaskan sampai hampir murni karbon. Ketika pin kaleng/granat ditarik, sumbu akan menyulut bara: Ketika dikombinasikan dengan kalium nitrat, arang mudah terbakar.

Potasium nitrat

Potasium nitrat melepaskan sejumlah besar oksigen saat terbakar, yang akan semakin menyulut nyala api. Tanaman membutuhkan kalium dan nitrogen sehingga KNO3 telah digunakan dalam pupuk selama berabad-abad. Pupuk dulunya berasal dari feses atau urin hewan ternak, namun sekarang dapat dibuat dari ammonia.

Silikon

Selagi arang dan potasium nitrat terbakar, unsur silikon diubah menjadi tetesan kecil silikon dioksida bersuhu 1371 derajat celcius (alias kaca super panas) yang kemudian bercampur dengan senyawa lain dalam kaleng tersebut.

Baca Juga: Pasar Tanah Abang Tutup Karena Aksi 22 Mei, Emak-Emak Kecewa Gagal Belanja
Potasium klorat juga terurai menjadi kalium klorida yang memproduksi asap dari granat.

Sukrosa

Sukrosa adalah bahan bakar api. Gula meleleh pada suhu 185 derajat celcius, suhu yang relatif rendah untuk memanaskan dan menguapkan senyawa kimia pembuat tangis tanpa merusaknya. Oksidator akan membantu menjaga pembakaran terus terjadi.

Potasium klorat

Potasium klorat adalah oksidator. Saat dipanaskan, KClO3 melepaskan oksigen murni dalam jumlah yang sangat dahsyat. Potasium klorat juga terurai menjadi kalium klorida yang memproduksi asap dari gas air mata.

Magnesium karbonat

Potasium klorat tidak bisa akur dengan asam (campuran ini mudah meledak). Magnesium karbonat, umum ditemukan dalam obat pencahar, alat pemadam kebakaran, dan kapur kolam renang, berfungsi untuk menjaga tingkat pH gas air mata sedikit basa, menetralisir semua senyawa asam disebabkan oleh kotoran kimia atau uap air.

Ketika dipanaskan, senyawa ini melepaskan karbon dioksida yang membantu menyebarkan gas air mata dalam jangkauan yang semakin luas.

O-Chlorobenzalmalononitrile

O-Chlorobenzalmalononitrile adalah lachrymator, yaitu agen penghasil air mata. Senyawa ini juga menghasilkan sensasi terbakar di hidung, tenggorokan, dan kulit.

Setidaknya 4 miligram O-Chlorobenzalmalononitrile per meter kubik ampuh membubarkan kerumunan orang. O-Chlorobenzalmalononitrile dapat berubah mematikan saat dosisnya mencapai 25 mg/m².

Terlepas dari namanya, gas air mata tidak benar-benar berupa gas yang terdiri dari satu bahan kimia spesifik.

Bagaimana cara kerja gas air mata?

Terlepas dari namanya, gas air mata tidak benar-benar berupa gas yang terdiri dari satu bahan kimia spesifik. Ada sejumlah senyawa yang berbeda yang digunakan dalam “agen tangisan” ini yang berbentuk padat di suhu kamar.

Begitu akan digunakan sebagai senjata untuk menjinakkan massa agresif, senyawa ini bercampur dengan agen pelarut (cairan atau gas), dirancang untuk mengaktifkan saraf-saraf sensorik.

Gas air mata memicu peradangan pada selaput lendir mata, hidung, mulut, dan paru-paru. Gas air mata umumnya non-mematikan, namun beberapa agennya beracun. Biasanya, efek akan mulai timbul sekitar 30 detik setelah kontak pertama dengan gas.

Gejala termasuk sensasi panas terbakar di mata, produksi air mata berlebihan, penglihatan kabur, kesulitan bernapas, nyeri dada, air liur berlebihan, iritasi kulit, bersin, batuk, hidung berair, perasaan tercekik, kebingungan dan disorientasi.

Akibatnya, hal ini memicu kepanikan, kemarahan intens. Mereka yang menghadapi kontaminasi berat juga dapat menderita muntah dan diare.

Iritasi dapat disebabkan oleh reaksi kimia dengan kelompok sulfhidril enzim, meskipun mekanisme lain juga terjadi. Disorientasi dan kebingungan mungkin tidak sepenuhnya psikologis.

Dalam beberapa kasus, pelarut yang digunakan untuk menyiapkan gas air mata dapat berperan terhadap reaksi ini dan mungkin lebih beracun dari agen lachrymatory itu sendiri.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini