nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lewat FGD, Kemenpar Sosialisasikan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja di Danau Toba

Jum'at 24 Mei 2019 10:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 24 406 2059795 lewat-fgd-kemenpar-sosialisasikan-pengembangan-wisata-kuliner-dan-belanja-di-danau-toba-hXt2T6OYly.jpg Foto: dok.Humas Kemenpar

BRASTAGI – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) benar-benar ingin memaksimalkan seluruh potensi yang ada di Danau Toba, Sumatera Utara (Sumut). Kali ini lewat Focus Group Disscusion (FGD) disosialisasikan cara pengembangan potensi wisata kuliner dan belanja di sana.

FGD bertajuk Sosiaslisasi Kesepahaman Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja tersebut digelar pada Kamis (23/5/2019) di Grand Mutiara Hotel Brastagi. Jumlah peserta acara itu mencapai 35 orang yang berasal dari unsur pemerintah daerah setempat, pelaku usaha kuliner, Asita, PHRI, akademisi, perusahaan travel, dan komunitas di Danau Toba.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kemenpar karena sudah memfasilitasi FGD di sini. Pasti ada banyak ilmu yang didapat peserta. Dari situ, wawasan berkembang untuk menciptakan inovasi. FGD ini memetakan semua potensi di sini. Lalu, disusunya menjadi road map, disoroti juga kemasan, promosi, hingga pelayanannya. Semua harus optimal,” ujar Kepala Bidang Bina Obyek Usaha Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumut Maike Moganai Ritonga mengatakan, FGD ini.

Lebih lanjut ada 4 hal yang dibahas dalam diskusi tersebut, yakni Kebijakan Pengembangan Wisata Budaya, Potensi Wisata Kuliner dan Belanja Kabupaten Karo, Program Kerja BODT yang Mendukung Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja, dan Strategi dan Kebijakan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja.

“Karo masuk dalam 7 kabupaten yang berada di Kawasan Danau Toba. Potensi yang dimilikinya sangat besar. Yang jelas, setelah FGD ini, keberlanjutan program pariwisata akan semakin optimal. Sumut, Karo dan Medan akan mendapat banyak value dari industri wisata kuliner dan belanjanya,” timpal Asisten Deputi Pengembangan Wisata Budaya Kemenpar Oneng Setya Harini.

Menurutnya sebanyak 60% wisatawan datang ke Indonesia karena budaya, kemudian 35% karena alam, dan 5% karena manmade. Dari budaya, spending 45% mengalir di wisata belanja dan kuliner. Sekitar 20% spending dialirkan menuju heritage, lalu 35% masuk wisata kota dan pedesaan.

Melalui FGD, wisata kuliner dan belanja di Kawasan Danau Toba diarahkan menjadi atraksi lengkap dengan storytelling.

Atraksi kuliner dikemas dari penyiapan bahan baku, pengolahan, penyajian, hingga cara menikmatinya. Konsep tersebut lalu dikuatkan dengan storytelling dan sejarah kulinernya.

“Kemasan tersebut untuk memunculkan aktivitas dan kreativitasnya. Untuk itu, pelaku industri wiskulja (wisata kuliner dan belanja) dikumpulkan di FGD. Setelah ini, tahap berikutnya menyusun pola perjalanannya,” papar Oneng lagi.

Rangkaian FGD pun memunculkan deklarasi berupa kesepahaman. Ada 4 point yang menjadi rujukan. Isinya seperti, bentuk komitmen dan pertanggungjawaban untuk tetap menyelenggarakan industri pariwisata. Lalu optimalsiasi berbagai potensi daerah untuk kelestarian dan manfaat ekonomi. Kemudian peserta FGD juga sepakat untuk terus melestarian berbagai kekayaan daerah.

“Kesepahaman sudah didapat untuk optimalisasi Kawasan Danau Toba. FGD sudah menghasilkan point ideal. Kami harap semua stakeholder bisa langsung mengaplikasikan apa yang sudah disepakati. Sebab, potensi Kawasan Danau Besar. Kalau dioptimalkan pasti akan mendatangkan manfaat ekonomi,” tegas Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani.

Pergerakan wisatawan menuju Kawasan Danau Toba memang positif, termasuk di Karo. Mengacu arus wisatawan mancanegara (wisman) di Sumatera Utara, warga Malaysia yang berkunjung sekitar 30.003 orang. Angka di triwulan pertama 2019, jumlahnya mencapai 59,9% dari total wisman yang hadir. Singapura berada di peringkat kedua dengan angka 4.098 orang wisatawan atau 8,97%.

“Kami yakin pelaku pariwisata di sana (Danau Toba) akan mendapatkan input ekonomi maksimal. Potensi bisnis yang ditawarkannya sangat menjanjikan. Dengan sinergi bagus maka sebaran bisnisnya semakin besar, dan masyarakat umum bahkan berpotensi mendapatkan pendapatan dari aktivitas pariwisata,” komentar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini