nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelestarian Hutan Mangrove untuk Lingkungan dan Tingkatkan Potensi Wisata Alam

Dinno Baskoro, Jurnalis · Jum'at 24 Mei 2019 22:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 24 406 2060142 pelestarian-hutan-mangrove-untuk-lingkungan-dan-tingkatkan-potensi-wisata-alam-cfSsYkvVEa.jpg Pelestarian hutan mangrove untuk lingkungan dan wisata (Foto: Pesona.Travel)

RESTORASI hutan mangrove harus dilakukan demi menjaga lingkungan dan alam. Ekosistemnya harus terjaga dengan baik supaya hutan mangrove sendiri ada fungsinya. 

Ekosistem hutan mangrove di kawasan pesisir menjadi hal penting harus harus dikembangkan. Selain dapat menjadi destinasi wisata alam yang menarik. 

Di samping itu, akar mangrove yang rapat dan lingkungan vegetasi di sekitarnya berperan penting. Biasanya untuk menyaring air dari kotoran dan polutan lainnya untuk menghasilkan air bersih.   

Dengan luas yang hampir setara dengan hutan tropis, hutan mangrove juga mampu menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak. Sebagai gambaran, hutan mangrove seluas satu hektar mampu menyerap 1.000 ton karbon per hektar. Itu sebabnya, menyelamatkan hutan mangrove menjadi krusial dalam memerangi perubahan iklim. 

Sayangnya, menurut Ketua Yayasan Konservasi Alam Nusantara Rizal Algamar, kondisi hutan mangrove di Indonesia saat ini kritis. Dalam tiga dekade terakhir, lebih dari 50% hutan mangrove di Indonesia hilang. 

Bahkan sebagian besar akibat konversi lahan untuk budidaya perikanan dan pembangunan. Hal ini juga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan mangrove tercepat di dunia.

"Kami mengingatkan pentingnya mangrove untuk kehidupan masyarakat terutama yang tinggal di daerah pesisir. Namun, untuk melestarikan dan menjaga keberlangsungan tanaman mangrove," ucap Rizal lewat keterangannya, Jumat (24/5/2019). 

Dia menjelaskan, Data KLHK tahun 2019 menyebutkan,Indonesia sebelumnya dikenal sebagai negara dengan lahan mangrove terbesar di dunia yang memiliki hutan mangrove seluas 3,556 juta hektar. Saat ini menjadi 33,55% atau 1,193 juta lahan mangrove di Indoensia dalam kondisi kritis. 

Rizal mengatakan, usaha penyelamatan dan pelestarian hutan mangrove ini pun menjadi salah satu tugas bersama bagi seluruh pihak, baik pemerintah, perusahaan BUMN dan swasta, maupun lembaga kemasyarakatan. 

Ditambahkan Kepala BKSDA Jakarta Ahmad Munawir, pemerintah mengapresiasi program Mangrove Ecosystem Restoration Alliances (MERA). Apalagi rencana restorasi kawasan harus didasari analisa ilmiah yang kuat. 

Saat ini MERA sedang dalam tahap menyelesaikan master plan pengelolaan kawasan. Detail design enginering untuk pembangunan infrastruktur pun harus sesuai kaidah-kaidah konservasi dan juga sudah menjalin mitra dengan Asia Pulp & Paper (APP/Sinar Mas), Indofood Sukses Makmur, serta Chevron Pacific Indonesia.

"Setelah ini selesai, dapat segera memulai kegiatan restorasi ekosistemnya. Karena titik-titik yang akan direstorasi sudah dipetakan," ucap Ahmad. 

Head of Corporate Communications Indofood Stefanus Indrayana mengatakan, telah dilakukan penanaman bibit mangrove di beberapa pantai di Jakarta yang termasuk ke dalam Taman Wisata Alam. Kini Jakarta sendiri kini hanya tersisa sekitar 300 hektar hutan mangrove, yang berada di kawasan Angke Kapuk, Jakarta Utara . Sebanyak 25 hektar berada di dalam area Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA).

"Kami memandang penting untuk meyelamatkan hutan mangrove terakhir di Jakarta. Langkah kecil ini akan menyelamatkan lingkungan demi masa depan dan tentunya jadi objek wisata baru yang menarik di Ibu Kota,” katanya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini