nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini yang Terjadi pada Lambung dan Kerongkongan saat Kita Puasa

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 27 Mei 2019 05:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 27 481 2060670 ini-yang-terjadi-pada-lambung-dan-kerongkongan-saat-kita-puasa-xSBTIGSxbp.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Berpuasa Ramadan sebulan lamanya akan membawa pengaruh besar pada kondisi tubuh manusia. Jika dilakukan dengan benar, banyak ilmu medis membenarkan kalau puasa ini akan membuat tubuh jauh lebih sehat.

Tapi, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan selama puasa. Khususnya dalam hal pemilihan makanan dan minuman saat berbuka dan sahur. Anda juga harus tahu kalau saat berpuasa, dua organ tubuh ini mengalami kondisi yang tak biasa.

Seperti yang dikatakan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, saat berpuasa, terjadi peningkatan asam lambung yang dapat menyebabkan gejala gangguan maag. Keadaan ini biasanya berlangsung hanya pada satu pekan puasa pertama dan gejala ini kemungkinan tidak dirasakan lagi pada minggu-minggu berikutnya. Itu karena tubuh mulai menyesuaikan dengan perubahan.

Pada orang yang sehat, keadaan ini dapat diatasi dengan pilihan makanan yang tepat pada saat berbuka dan sahur, serta kegiatan yang tidak menyebabkan terjadinya peningkatan udara di dalam lambung, serta peningkatan asam lambung.

 Makanan dan minuman

"Adapun pada orang yang memang terdapat gangguan lambung sebelumnya, puasa akan memperberat kondisi sakit lambungnya jika tidak diobati dengan tepat. Namun, jika sakit lambungnya diobati, mereka yang mempunyai sakit lambung tadi dapat melakukan ibadah puasa seperti orang normal umumnya," kata dokter Ari pada Okezone melalui pesan singkat belum lama ini.

Selama berpuasa, asupan makanan dan minuman juga harus menjadi perhatian, terutama pada penderita pencernaan sebelumnya. Mereka yang memiliki kondisi ini sebaiknya menghindarkan diri dari makanan yang menyebabkan atau memperberat gejala sakit maag.

Makanan tersebut antara lain: makanan yang banyak mengandung gas dan terlalu banyak serat, seperti sawi, kol; buah-buahan tertentu misal nangka, pisang ambon; dan makanan berserat tertentu seperti kedondong atau buah yang dikeringkan.

"Minuman yang mengandung gas seperti minuman bersoda juga mesti dihindari. Lalu, hindari minuman yang merangsang pengeluaran asam lambung antara lain kopi, sari buah sitrus, atau susu full cream," jelasnya.

Tidak hanya itu, Anda juga disarankan untuk menghindari makanan yang sulit dicerna yang dapat memperlambat pengosongan lambung. Karena hal ini dapat menyebabkan peningkatan peregangan di lambung yang akhirnya dapat meningkatkan asam lambung.

 Sambal

Makanan tersebut antara lain makanan berlemak, kue tar, coklat, dan keju. Selama Ramadan Anda juga disarakan untuk menghindari makanan yang secara langsung merusak dinding lambung, yaitu makanan yang mengandung cuka dan pedas, merica, dan bumbu yang merangsang.

Dokter Ari menambahkan, makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah sehingga menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan juga mesti dihindari. Makanan ini seperti alkohol, cokelat, makanan tinggi lemak, dan gorengan.

Selain makanan dan minuman di atas, ada beberapa sumber karbohidrat yang harus dihindari bagi penderita sakit maag saat puasa, antara lain beras ketan, mi, bihun, bulgur, jagung, ubi, singkong, tales, dan dodol.

Aktivitas fisik dan makanan harus diperhatikan

Bukan hanya makanan yang mesti diperhatikan, tapi juga aktivitas fisik. Kegiatan yang meningkatkan gas di dalam lambung juga harus dihindarkan, antara lain makan permen khususnya permen karet dan rokok. Rokok sudah terbukti dapat menyebabkan pelemahan klep bawah kerongkongan dan memperlambat pengosongan lambung serta memperburuk luka yang terjadi pada lambung.

Selain itu yang perlu diperhatikan, sambung dokter Ari, saat berbuka cukup dengan minuman yang manis dan 3-5 buah kurma setelah salat Maghrib dan setelah salat bisa mengonsumsi makanan besar dengan tetap memberhatikan jumlah makanan dan macam makanan yang dikonsumsi.

 

"Kita musti ingat, puasa membuat asupan makanan dibatasi dan ini terbukti malah membuat tubuh jauh lebih sehat," tegasnya.

Oleh karena itu, jumlah makan malam mesti tetap sama seperti kita makan malam dan bukan menggeser jumlah makan siang dikonsumi saat malam saat setelah kita berbuka puasa. Begitu pula saat sahur hindari makanan yang sulit dicerna dan yang terpenting juga kualitas makanan yang dikonsumsi saat sahur.

"Kadang kala, karena terburu-buru, kita hanya menghangatkan makanan saat berbuka tanpa memperhatikan kualitas makanan tersebut. Ini yang bakal menjadi salah satu pencetus masalah kesehatan selama puasa," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini