nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal LSD, Narkoba yang Diduga Digunakan Hanbin iKON

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 12 Juni 2019 16:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 12 481 2065660 mengenal-lsd-narkoba-yang-diduga-digunakan-hanbin-ikon-siRuEQ3wP2.jpg Hanbin diduga menggunakan LSD (Foto : Allkpop)

Personil iKON, Kim Hanbin alias B.I, tengah tersandung kasus jual beli narkoba. Hanbin diduga membeli narkoba jenis LSD (Lysergic acid diethylamide) pada 2016 silam.

Kasus ini tiba-tiba mencuat ke publik setelah beredar percakapan Hanbin dengan seorang pengedar berinisial A melalui aplikasi percakapan Kakao Talk. Sekadar informasi, LSD sendiri merupakan narkoba sintetis yang terbuat dari sari jamur kering yang tumbuh di rumput gandum dan biji-bijian. Kandungan asam lysergic dari jamur ergot inilah yang kemudian diolah menjadi LSD.

Mengutip laman resmi Badan Narkotika Nasional (BNN), LSD yang beredar di Indoensia selama ini umumnya mengandung zat lisergida. Namun, pada 2013 lalu, UPT Uji Laboratorium BNN menemukan tiga zat baru yang terdapat pada LSD yakni, 25C-NBOMe, 25BNBOMe, dan 251-NBOM.

Senyawa 25C-NBOMe dan 25I-NBOMe merupakan turunan dari fenetilamine dan memiliki efek psychedelic (reaksi menenangkan yang jika berlebihan dapat mengakibatkan seseorang tidak sadarkan diri) bagi tubuh manusia. Sedangkan 25B-NBOMe memiliki efek halusinogen saat dikonsumsi. Zat ini juga merupakan pengembangan/turunan dari fenetilamine (2CB).

Hanbin iKon

Penggunaan narkoba jenis LSD juga sempat menghebohkan masyarakat Indonesia, saat seorang pengemudi bernama Christopher Daniel Sjarief, 23 tahun, terlibat dalam sebuah kecelakaan beruntun pada 2015 lalu. Mengutip laman news Okezone, mobil Mitsubishi Outlander milik Daniel menabrak sembilan kendaraan di Jalan Iskandar Muda, Kebayoran lama, Jakarta Selatan. Hasil investigasi membuktikan Daniel positif menggunakan LSD saat sedang berkendara.

Asal usul LSD

Situs drugfreeworld.org menyebut bahwa narkoba yang diduga digunakan oleh Hanbin ini pertama kali diracik oleh seorang ahli kimia bernama Albert Hofmann. Kala itu, Hoffman yang tengah bekerja di Pabrik Farmasi Sandoz, Basel, Swiss, tengah mencari stimulan untuk darah dengan cara meneliti lysergic acid. Pada awalnya, ia tidak menyadari dampak halusinogen yang disebabkan oleh penggunaan LSD.

Sampai pada tahun 1943 ia secara tidak sengaja menggunakan obat itu sendiri. Hoffman tiba-tiba merasakan sensasi luar biasa meski hanya menggunakan dengan dosis yang sangat ringan sekitar 25 mikrogram (kira-kira sama dengan berat beberapa butir garam).

Dalam perkembangannya, LSD sempat digunakan dalam penelitian oleh para psikater dari tahun 1940-an – 1960-an. Kandungan zat kimia yang terdapat pada obat ini diklaim memiliki kesamaan dengan zat kimia yang ada di otak. LSD kemudian dipopulerkan pada tahun 1960-an oleh sejumlah orang seperti Timothy Leary yang mempromosikan penggunaan obat ini kepada para pelajar Amerika.

Tindakan Leary memicu penyalahgunaan narkoba hingga menyebar ke sejumlah negara Eropa dan bagian lain dunia. Namun di tahun 1980-an, penggunaan LSD diklaim mengalami penurunan dan kembali meningkat pada tahun 1990-an. Barulah pada tahun 1998, LSD mulai digunakan di kelab-kelab malam dan pesta oleh para anak muda.

Efek samping halusinogen

National Institute on Drug Abuse menebut bahwa halusinogen merupakan kelompok obat-obatan yang dapat mengubah kesadaran, pikiran, dan perasaan seseorang. Halusinogen umumnya dibagi menjadi dua kategori yakni, halusinogen klasik (seperti LSD) dan obat disosiatif (seperti PCP).

Kedua jenis halusinogen ini dapat menyebabkan halusinasi atau sensasi tertentu hingga membuat gambar tampak nyata meskipun sebenarnya tidak. Tidak hanya itu, efek samping halusinogen klasik juga dapat mengganggu sistem komunikasi antara zat kimia otak dan sumsum tulang belakang. Sehingga akan memengaruhi kerja serotonin yang selama ini diketahui mengatur suasana hati, rasa lapar, suhu tubuh, perilaku seksual, hingga persepsi sensorik.

Perlu digaris bawahi bahwa pengaruh LSD ini tidak dapat diduga dan tergantung pada jumlah yang digunakan, suasana hati, dan kepribadian pemakainya serta lingkungan.

Kemudian ada juga istilah bad trips yang menimbulkan efek delusi (penilaian yang salah tentang diri sendiri atau lingkungan). Oleh karena itu, bila digunakan secara berlebihan atau sudah ketergantungan akan menyebabkan kebingungan, cemas, merasa tak berdaya, putus asa, skizofrenia (gangguan jiwa), meningkatkan risiko kegagalan pernapasan, hilangnya kendali diri, hingga melakukan kekerasan pada diri sendiri dan orang lain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini