nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menelisik Biaya Hidup Para Perantau Sukses di Jakarta

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 15 Juni 2019 16:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 15 612 2066751 menelisik-biaya-hidup-para-perantau-sukses-di-jakarta-qBI7eHkldn.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KOTA Jakarta memang terkenal macet, padat, dan tidak pernah tidur. Terlepas dari kemacetan dan hiruk pikuk kota megapolitan, Jakarta memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia, tak terkecuali bagi para perantau.

Sebagai ibu kota negara, pergerakan ekonomi terbesar Indonesia terpusat di Jakarta. Peluang untuk mendapatkan pekerjaan layak, jauh lebih besar dibanding daerah-daerah lain di Indonesia. Hal inilah yang mendorong para perantau nekat mengadu nasib di ibu kota.

Padahal, mereka tahu betul bahwa kehidupan di kota ini tidak seindah kampung halamannya. Biaya hidup yang tinggi menjadi salah satu permasalahan utama yang sering dihadapi para perantau maupun penduduk lokal.

Hal inilah yang mendorong para perantau nekat mengadu nasib di ibu kota.

Pada artikel kali ini, Okezone mencoba membahas seputar gaya hidup hingga pengeluaran anak kos yang sedang berjuang melawan kerasnya kehidupan ibu kota.

Ada tiga responden yang berkenan membagikan pengalaman mereka selama hidup di Jakarta, dan semuanya adalah perantau.

Dimulai dari Dwi Anggrayni (Rara) yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan start up. Sebagian besar pengeluaran Rara digunakan untuk menikmati waktu berkualitas alias nongkrong cantik bersama sahabat dan rekan kerja.

"Kebetulan saya bukan tipe orang yang suka belanja. Kadang beli baju sama skincare kalau memang lagi butuh saja. Jadi biasanya pengeluaran terbesar dipakai untuk nongkrong sepulang kerja, hehe," ujar Rara saat ditemui Okezone via telepon, Sabtu (15/6/2019).

Gaya hidup seperti ini memang tidak terlepas dari kehidupan kaum urban Jakarta. Apalagi Rara termasuk dalam kategori generasi milenial.

Kebutuhan untuk bersosialisasi dengan rekan sejawat masih menjdi prioritas utama, meski dia sadar bahwa gaya hidup seperti ini memang harus dibatasi. Bila ada ajakan nongkrong, Rara setidaknya mengeluarkan uang sebesar Rp250 ribu per hari.

"Karena sudah kerja, sekarang intensitas ngumpul tidak sesering jaman kuliah. Dulu bisa setiap hari, sekarang paling 2-3 kali dalam seminggu, dan weekend itu pasti ngumpul. Lokasinya standar lah, paling sering di Union, William's, atau GIA restaurant," tutur wanita asal Makassar itu.

Bila ada ajakan nongkrong, Rara setidaknya mengeluarkan uang sebesar Rp250 ribu per hari.

Bila ditotalkan, Rara mengatakan biaya hidupnya bisa menyentuh angka Rp7 juta per bulan. Jumlah tersebut mencakup uang makan sehari-hari, nongkrong, transportasi, serta kebutuhan tambahan seperti, menyetok makanan di kulkas.

Untuk urusan kos, Rara ternyata memiliki beberapa pertimbangan khusus. Sebagai perantau, dia memilih tempat beristirahat yang nyaman dan terasa seperti di rumah sendiri.

Alhasil, dia pun menjatuhkan pilihan pada salah satu kos eksklusif di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan. Biaya kos di tempatnya dibanderol seharga Rp5 juta per bulan. Jumlah tersebut dinilai sangat layak mengingat fasilitas yang disediakan terbilang lengkap.

"Kembali ke preferensi dan gaya hidup masing-masing. Kalau saya pribadi, saya butuh tempat yang nyaman. Karena pada akhir pekan, saya menghabiskan banyak waktu di kos," ungkap Rara.

"Kos saya juga dekat dengan kantor dan strategis," paparnya.

Selanjutnya ada Putri Firdaus yang berprofesi sebagai tim kreatif di salah satu agensi periklanan. Dengan gaji berkisar Rp8 juta - Rp10 juta, pengeluaran Putri lebih banyak dihabiskan untuk makanan sehari-hari.

Bukan tanpa sebab, lokasi kantor wanita asal Padang itu rupanya berada di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Harga makanan di kawasan ini memang relatif lebih mahal dibanding daerah-daerah lain di ibu kota. Setidaknya dia harus merogoh kocek sebesar Rp100 ribu untuk biaya makan per hari.

Dengan demikian, Putri tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi.

Sementara biaya kos per bulan hanya berkisar Rp1,2 juta. Beruntung bagi Putri, dia berhasil menemukan kos yang berada tepat di samping kantornya. Dengan demikian, Putri tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi.

"Gaji gue paling habis buat makan, traveling, nabung, dan buat ngirim orang tua. Soalnya gue enggak doyan nongkrong. Paling nongkrong pas lagi liburan, itu juga mentok-mentok Rp150 ribu sekali nongkrong. Oh ya, satu lagi biaya laundry Rp150 ribu per bulan", kata Putri.

Terakhir ada Priza T Wieharto. Saat ini, dia bekerja sebagai senior consultant dengan gaji berkisar Rp12 juta-Rp15 juta. Sebagai seorang sneakers head, Priza mengaku menghabiskan sepertiga gajinya untuk membeli sepasang hingga dua pasang sneakers setiap bulan.

"Bisa dibilang gue 'bangkrutnya' gara-gara beli sepatu. Gue itu tipe orang yang kalau lagi ngebet gak bisa di tahan. Kebetulan sepatu yang gue koleksi (Nike Air Jordan) harganya juga lumayan. Jadi ya mau enggak mau gesek credit card kalau lagi ngidam," papar Priza.

Untuk biaya hidup sehari-hari, pengeluaran Priza relatif lebih sedikit dibanding dua responden sebelumnya. Paling banter dia harus mengeluarkan uang makan malam dan transportasi sebesar Rp70 ribu per hari. Priza juga menyediakan budget khusus untuk menikmati waktu berkualitas dengan sang tunangan.

 Priza juga menyediakan budget khusus untuk menikmati waktu berkualitas dengan sang tunangan.

"Gue tuh pasti keluar setiap Sabtu dan Minggu. Sekali keluar ya paling tidak habis Rp300 ribu. Bisa lebih kalau tunangan lagi main ke Jakarta. Biasanya kita nonton, makan di restoran, atau sekadar ngopi di coffee shop," jelas Priza.

Tagihan kosnya berkisar Rp2,5 juta per bulan, dan dia pun sedang rutin menabung untuk biaya nikah.

"Sekarang fokusnya nabung karena sudah ada prioritas. Kalau dulu kan gue kerja buat diri sendiri, jadi ya bebas-bebas aja," tutupnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini