nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wow! Peneliti Ungkap Anjing Bisa Deteksi Orang yang Depresi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 17 Juni 2019 12:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 17 612 2067264 wow-peneliti-ungkap-anjing-bisa-deteksi-orang-yang-depresi-AGxZgV0nKj.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MEMELIHARA anjing terbukti bisa mengurangi depresi seseorang. Di berbagai negara, anjing disebut sebagai sahabat terbaik manusia. Bahkan, saking dekatnya anjing dengan manusia, mereka dikabarkan bisa mendeteksi apabila seseorang mengalami depresi.

Dalam sebuah penelitian, diketahui kalau anjing dapat merasakan tekanan yang dialami majikannya. Bahkan, depresi yang dialami pemilik anjing dapat menular ke hewan berbulu itu. Laporan ini dipublikasi dalam Scientific Reports dan ditulis dalam HuffPost.

Penelitian yang dilakukan di Swedia ini melibatkan 58 orang pemilik anjing ras border collies atau anjing gembala Shetland. Mereka memeriksa rambut dari pemilik anjing dan si anjing dan melihat konsentrasi hormon yang disebut kortisol, zat kimia yang dilepaskan ke aliran darah dan diserap oleh folikel rambut sebagai respons terhadap stres.

Lina Roth dari Linkoping University di Swedia, menyebut depresi, latihan fisik yang berlebihan, dan pengangguran hanyalah beberapa contoh stres yang dapat memengaruhi jumlah kortisol yang ditemukan di rambut para responden.

Upacara Pensiun Anjing-Anjing Polisi di Quito Ekuador

Roth dan timnya menemukan kalau pola tingkat kortisol pada rambut pemilik anjing sangat cocok dengan yang ditemukan pada anjing mereka di bulan-bulan musim dingin dan musim panas, dan ini menunjukkan tingkat stres mereka dalam sinkronisasi. Mereka pun berpikir kalau pemilik mempengaruhi anjing, karena beberapa sifat kepribadian manusia tampaknya mempengaruhi tingkat kortisol anjing.

Meski demikian, para peneliti tidak tahu apa yang menyebabkan sinkronisasi level kortisol antara manusia dan anak-anaknya. Tapi petunjuk mungkin terletak pada kenyataan kalau tautannya lebih kuat dengan anjing pesaing daripada anjing peliharaan.

Ikatan yang terbentuk antara pemilik dan anjing kompetitif selama pelatihan dapat meningkatkan ketergantungan emosional anjing terhadap pemiliknya, katanya. Itu pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat sinkronisasi.

Tetapi mengapa orang lebih memengaruhi anjing mereka daripada sebaliknya?

"Mungkin manusia adalah bagian yang lebih sentral dari kehidupan anjing, sedangkan manusia juga memiliki jejaring sosial lainnya," kata Roth pada Huffpost yang dilansir Okezone.

Hasil studi ini tidak mengejutkan, kata Alicia Buttner, direktur perilaku hewan dengan Nebraska Humane Society di Omaha. "Bukti baru terus muncul, menunjukkan kalau manusia dan anjing mereka memiliki ikatan yang sangat dekat yang menyerupai orangtua yang berbagi dengan anak-anak mereka," ungkapnya.

Tetapi dia mengatakan tidak ada cukup bukti untuk menganggap kalau pengaruhnya hanya satu arah; mungkin berjalan dua arah. "Ini tidak hanya sesederhana pemilik stres, anjing menjadi stres," singkatnya.

Zoe Man Salah Satu Anjing yang Diperbolehkan Menaiki Pesawat

Banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat stres seseorang atau anjing dan bahkan mungkin meredamnya, katanya.

Buttner mengatakan kadar kortisol tidak selalu menunjukkan stres "buruk". Mereka malah bisa menunjukkan pengalaman yang baik seperti liburan bersama, katanya. Roth dan timnya berencana untuk menyelidiki apakah ras anjing lain akan bereaksi terhadap pemiliknya dengan cara yang sama.

Sementara itu, dia menawarkan saran untuk meminimalkan seberapa banyak pemilik anjing yang mengalami stres menularkan kondisinya ke hewan peliharaan mereka. Anjing yang bermain lebih banyak menunjukkan lebih sedikit tanda-tanda stres, katanya. Roth menambahkan, mulai sekarang perbanyaklah bersenang-senang dengan hewan peliharaan Anda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini