nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menyesap Kopi Susu Sembari Belajar Bahasa Isyarat di Sunyi House of Coffee and Hope

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 19 Juni 2019 08:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 18 406 2068018 menyesap-kopi-susu-sembari-belajar-bahasa-isyarat-di-sunyi-house-of-coffee-and-hope-UzyJAJVTdj.jpeg Kedai Kopi Sunyi House of Coffee and Hope (Foto: Dimas Andhika Fikri/Okezone)

Perkembangan industri kopi di Indonesia terus menunjukkan geliatnya. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, kopi menjadi primadona di kalangan kaum urban, termasuk generasi milenial.

Istilah kopi dan senja pun kerap menghiasi lini masa di berbagai platform media sosial. Ya, meski sekarang istilah tersebut sering dijadikan bahan olok-olokkan para netizen, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kopi benar-benar digandrungi oleh semua kalangan, tidak hanya dinikmati oleh para pencinta senja dan puisi.

Alhasil, dampak dari tren tersebut mendorong tumbuhnya usaha-usaha baru di kalangan pengusaha muda. Hal ini bisa dilihat dari kemunculan kedai kopi baru yang menjamur di seluruh penjuru ibu kota.

 Es kopi susu

(Foto: Dimas Andhika Fikri/Okezone)

Sebagian besar di antaranya memang cenderung mengusung konsep kekinian guna menarik perhatian para konsumen muda. Tapi jangan salah, ternyata ada satu kedai kopi unik yang mempekerjakan kaum difabel sebagai baristanya. Kedai kopi itu bernama Sunyi House of Coffee and Hope.

Ide awal

Saat ditemui Okezone di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Almas Nizar selaku Co Founder Sunyi House of Coffee and Hope menjelaskan bahwa kedai kopi ini didirikan atas inisiatif salah satu temannya bernama Mario Gultom.

"Kebetulan Mario itu memang senang mengikuti social work. Dia sudah mengikuti kegiatan sosial di Indonesia mulai dari Jawa, Sumatera, NTT, hingga Papua. Namun saat berkunjung ke Singapura, dia merasa terkejut melihat pengembangan teman-teman difabel di sana itu ternyata jauh lebih baik," tutur Almas.

 Pria berkacamata

(Almas Nizar, Co Founder, Foto: Dimas/Okezone)

Berawal dari pengalaman tersebut, Mario akhirnya mengajak empat orang temannya termasuk Almas, untuk mencoba menyediakan lapangan kerja yang layak bagi kaum difabel di Indonesia.

Setelah melewati diskusi panjang, akhirnya diputuskan untuk mendirikan sebuah kedai kopi di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Pemilihan model usaha ini bukan tanpa alasan. Almas menerangkan bahwa profesi baristalah yang dinilai sangat pas bagi kaum difabel. Pasalnya, profesi tersebut tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang selama ini mereka lakukan.

"Kalau ditelisik lebih dalam, kopi itu sangat identuk dengan art atau seni. Ada teknik-teknik khusus untuk meracik sajian kopi yang berkualitas dan nikmat. Jadi sebetulnya sangat cocok untuk kaum difabel. Selama ini, lapangan pekerjaan yang terbuka untuk mereka itu berkaitan dengan seni seperti menari, melukis, atau memahat patung," terangnya.

 

Belajar bahasa isyarat

Sebelum mendirikan Sunyi House of Coffee and Hope, Almas dan teman-temannya sepakat untuk mempelajari bahasa isyarat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah komunikasi dengan para karyawannya kelak. Mereka pun memutuskan untuk mengambil kursus singkat di Universitas Indonesia selama kurang lebih lima bulan.

"Sambil menunggu kedai selesai dibangun, kami membekali diri dengan belajar isyarat hingga akhir tahun 2018," terangnya.

 Penjual dan pembeli

Barulah pada awal 2019, Almas dan Mario mulai berani membuka lowongan pekerjaan di sejumlah komunitas, dan situs rekrutmen khusus bagi kaum difabel. Proses rekrutmen memakan waktu selama kurang lebih 1 bulan. Dalam rentang waktu tersebut, Almas menerima 62 lamaran.

"Yang kami interview cuman 17 orang, dan akhirnya 4 orang yang lolos. Seminggu yang lalu baru nambah satu barista lagi," tambahnya.

Toleransi pengunjung sangat tinggi

Tepat pada 3 April 2019, Sunyi House Coffee and Hope resmi beroperasi. Setelah 2 bulan berjalan, Almas mengaku mendapat banyak respons positif dari para pengunjung yang datang ke kedai kopi miliknya.

Tidak hanya itu, sejumlah influencers juga bersedia membantu mempromosikan Sunyi secara cuma-cuma. Tapi ternyata ia juga menerima beberapa keluhan konsumen seperti ketika makanan atau minuman yang diantarkan tidak sesuai dengan pesanan, atau masalah waktu penyajian yang terlalu lama.

 Pria

"Alhamdulillah, orang-orang Indonesia punya toleransi yang sangat tinggi. Jadi sebagai permintaan maaf, biasanya kita kasih cookie. Nah, dari keluhan tersebut, habitnya sudah mulai kebentuk. Lambat laun barista kami pun mulai meningkatkan performanya," papar Almas.

Keunikan lain dari kedai kopi ini adalah konsep full service yang dilakukan oleh para barista.

"Sempat kepikiran pakai konsep self service. Caranya diakali dengan nomor antrian, atau bunyi-bunyian khusus seperti bel. Tapi kami rasa lebih pas full service, karena pengunjung bisa berinteraksi dengan barista kami saat makanan diantar," beber Almas.

Menu dan desain interior yang unik

Untuk urusan menu, varian kopi yang ditawarkan oleh Sunyi House of Coffee and Hope terbilang lengkap. Setidaknya ada 38 menu makanan dan minuman yang bisa dipesan para pengunjung.

Selain itu, teknik penyeduhan kopinya pun sangat beragam. Mulai dari manual brew, vietnam drip, lalu ada V60, kopi tubruk, espresso, dan masih banyak lagi.

 Kedai Kopi

"Untuk biji kopinya kita ada kopi dari Wamena, Gayo, Jawa Barat, dan Flores. Tapi yang paling favorit disini itu Kopi Susu Sunyi dan Lemon Zist Cold Brew," kata Andika, salah satu barista yang memiliki gangguan gerak (tunadaksa).

Benar saja, saat Okezone cicipi, olahan Es Kopi Susu Sunyi menyuguhkan sensasi rasa pahit dan manis yang sangat pas, tidak terlalu milky, dan ada after taste yang sangat khas. Harganya pun terbilang terjangkau, hanya Rp18 ribu per gelas.

Sementara untuk desain tempatnya sendiri, Almas menjelaskan bahwa kedai kopi Sunyi memadukan tiga konsep sekaligus, solitude, temple, dan meditation. Konsep ini diusung untuk menghadirkan suasana yang nyaman, dan bisa menjadi tempat bagi pengunjung untuk merefleksi diri.

 Kedai Kopi

"Desain interior kedai ini berkaitan dengan nama tempatnya 'House of Hope' yang berarti, semua orang bisa duduk bareng. Kita memang sengaja mengosongkan bagian tengah ruang, agar bisa dilalui kursi roda," kata Almas.

"Setiap malam ada komunitas difabel juga yang ngumpul di sini. Jadi kalau ada pengunjung yang tertarik, mereka bisa berinteraksi dan belajar bahasa isyarat," tutupnya.

Nah, bagi Okezoners yang tertarik mengunjungi Sunyi House of Coffee and Hope, alamat lengkapnya berada di Jl. RS Fatmawati no.14, Cilandak, Jakarta Selatan. Buka dari Selasa - Minggu, mulai pukul 10.00-22.00 WIB.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini