nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wacana Pemisahan Pendaki Non Muhrim Gunung Rinjani, Kadispar NTB: Tidak Mungkin!

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Kamis 20 Juni 2019 15:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 20 406 2068750 wacana-pemisahan-pendaki-non-muhrim-gunung-rinjani-kadispar-ntb-tidak-mungkin-KaH9aRFBRi.jpg Gunung Rinjani (Foto: haraldeikerberg/Instagram)

Baru-baru ini muncul wacana pendaki laki-laki dan perempuan di Gunung Rinjani akan dipisah. Artinya, laki-laki dan perempuan harus mendirikan tenda di area yang berbeda ketika kemping.

Isu pemisahan pendaki di Gunung Rinjani ini muncul seiring dengan pengembangan wisata halal yang diterapkan di Nusa Tenggara Barat. Namun kemudian menjadi pro kontra di kalangan masyarakat.

Saat dimintai keterangan terkait hal ini, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, H. Lalu Mohammad Faozal mengatakan pemisahan pendaki non muhrim tersebut tidak akan diterapkan.

 Gunung

"Tidak ada. Cuma yang kita sepakati Rinjani itu pada hari Jumat aja tidak ada pendakian. Kalau pemisahan (pendaki) tidak ada," ujar Faozal saat dihubungi Okezone melalui sambungan telefon, Kamis (20/6/2019).

Ia mengakui, awalnya ide tersebut muncul dari masyarakat di sekitar Gunung Rinjani. Namun akan sulit menerapkan menerapkan hal tersebut kepada para pendaki.

"Permintaan itu datang dari sebagian masyarakat di Sembalun saja. Sekarang tidak ada. Permintaan begitu tapi kan tidak mungkin kita pisah," tandasnya.

Kemunculan wacana pemisahan pendaki Gunung Rinjani

Sebelumnya muncul isu pendaki Gunung Rinjani akan dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai TN Gunung Rinjani, Sudiyono.

Ia menyampaikan tengah mendisukusikan wacana pemisahan tersebut, area bagian kanan untuk tenda laki-laki, dan area kiri untuk tenda perempuan. Pemisahan ini dilakukan untuk para pendaki laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Sementara untuk pasangan yang sudah menikah, mereka bisa tidur di dalam tenda yang sama.

Rencananya, kebijakan itu akan diumumkan kepada publik bulan depan. Ia juga mengatakan ide itu datang dari masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Rinjani, mereka percaya gempa bumi yang terjadi tahun lalu adalah akibat dari aktivitas pendaki yang tidak sopan.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini