Penyair Perempuan Dinilai Jauh Lebih Liar

Sabtu 22 Juni 2019 13:36 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 22 612 2069611 penyair-perempuan-dinilai-jauh-lebih-liar-d66oLeCKqX.jpg Indahnya puisi (Foto: Pixabay)

Penyair perempuan saat ini jauh lebih berani dalam menggunakan diksi yang liar juga dahsyat. Hal ini diungkapkan oleh Penyair Senior Remmy Novaris DM pada saat acara peluncuran buku Pengantin Puisi karya penyair perempuan Yoevita Soekotjo di Pusat Dokumentasi Sastra H.N. Jassin, Jakarta (20/6/2019).

Pendapat Remmy juga diamini oleh Sunu Wasono, Kaprodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, serta Mustari Irawan, Kepala Arsip Nasional RI yang juga seorang penyair.

Diskusi mambahas Buku Pengantin Puisi

(Foto:Istimewa)

Sunu Wasano mengatakan, “Jumlah penyair perempuan di Indonesia saat ini tidak hanya bertambah banyak jumlah atau kuantitasnya. Melainkan juga kualitasnya. Mereka berani merespon berbagai kejadian dengan diksi-diksi yang tajam, bahkan gejala ini juga terlihat pada penyair-penyair perempuan yang baru muncul di panggung sastra Indonesia”.

Pengamat Ekonomi Kreatif dan Digital Riri Satria yang membantu Yoevita menyusun buku Pengantin Puisi mengatakan, dari puisi-puisinya, penyair Yoevita ini sangat kental nuansa ekspresif, kontemplatif-spiritual, serta pemberontakan atau rebelian.

Semua ini dapat diamati dalam posting yang ditayangkan Yoevita di akun Facebook-nya. “Memang banyak diksi memberontak”, demikian lanjut Riri.

Pendapat Riri ini disetujui oleh sahabat Yoevita, Nunung Noor El Niel, seorang penyair asal Bali. Nunung mengatakan, dalam beberapa hal, karakter puisi Yoevita mirip dengan dirinya, terutama ekspresif, reaktif, dan pemberontakan.

Penyair Yoevita lahir di Blitar tanggal 10 Februari 1967, aktif menulis puisi dan bermain teater sejak SMA, pernah bermukim di Medan (2007-2014) dan terus aktif di komunitas sastra dan teater di Taman Budaya Sumata Utara. Usai kembali ke Jakarta pada tahun 2014, ia aktif bersastra di komunitas Dapur Sastra Jakarta.

Pengantin Puisi adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, berisi 96 puisi yang ditulis pada kurun tahun 2015-2019.

Pengamat Sastra Romo Wijaya mengatakan, kecenderungan sekarang orang menulis puisi sifatnya reaktif atau merespon suatu kejadian dengan cepat sehingga aspek perenungan berkurang. Akhirnya puisinya kurang menggigit.

Para penyair, ujar dia, perlu memperhatikan hal ini. Romo mengingatkan para penyair untuk merenung.

Dalam kesempatan yang sama, Penyair Yoevita menjelaskan, “Saya menulis puisi itu dengan spontan. Tidak selalu puisinya selesai saat itu juga, bisa jadi berhari-hari, dan ada yang direvisi. Satu hal yang pasti, menulis puisi itu ibarat dihipnotis untuk menuliskan kata dan kalimat, dan tentu saja sebagai respon terhadap suatu peristiwa."

Pemilihan diksi, lanjutnya, sangat ditentukan oleh rasa yang muncul saat menulisnya. "Itu bisa jadi lembut, tetapi juga keras, bahkan kasar buat sebagian orang.”

Acara peluncuran buku penyair Yoevita Soekotjo ini diselenggarakan oleh komunitas Dapur Sastra Jakarta didukung oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, yang dikemas dalam kegiatan Wisata Sastra. (MTA)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini