nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Dead Vagina Syndrome, Fakta atau Hanya Urban Legend Internet?

Agregasi Hellosehat.com, Jurnalis · Senin 24 Juni 2019 00:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 23 485 2069966 mengenal-dead-vagina-syndrome-fakta-atau-hanya-urban-legend-internet-6hdex5VQat.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PENGGUNAAN vibrator memberikan manfaat bagi kehidupan seksual bersama pasangan. Namun, jika dipakai secara berlebihan justru diduga dapat mengakibatkan gangguan fungsi seksual yang disebut dead vagina syndrome. Benarkah demikian?

Dead vagina syndrome (DVS) adalah istilah yang merujuk pada penurunan tingkat sensitivitas vagina akibat penggunaan vibrator berlebihan. Istilah ini sempat begitu viral di dunia maya dan diyakini sebagai suatu kondisi medis nyata.

Banyak orang memercayai bahwa penggunaan vibrator secara terus-menerus dapat membuat saraf pada vagina menjadi mati rasa. Akibatnya, Anda mengalami DVS dan tidak lagi bisa mencapai orgasme saat berhubungan seksual.

Kabar baiknya, dead vagina syndrome bukanlah kondisi medis sungguhan. Nicole Prause, Ph.D., seorang ahli saraf sekaligus doktor dalam bidang seks, gender, dan reproduksi, menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah terhadap kondisi ini.

Akibatnya, Anda mengalami DVS dan tidak lagi bisa mencapai orgasme saat berhubungan seksual.

Hal yang sama diutarakan oleh Dr. Leah Millheiser, pimpinan dari program studi Kedokteran Reproduksi Wanita di Stanford University School of Medicine. DVS menurutnya, tidak lebih dari anggapan keliru yang beredar di internet tanpa bukti ilmiah.

Organ intim memang dapat mengalami rangsangan yang berlebihan atau disebut overstimulasi. Kondisi ini bisa terjadi saat masturbasi atau saat berhubungan seks bersama pasangan, dengan atau tanpa menggunakan vibrator.

Rangsangan terus-menerus selama berhubungan seksual dapat menurunkan tingkat sensitivitas organ intim Anda. Tidak hanya itu, tingkat sensitivitas organ intim juga bisa berkurang ketika Anda menurunkan daya getar vibrator dari tinggi ke rendah.

  organ intim juga bisa berkurang ketika Anda menurunkan daya getar vibrator dari tinggi ke rendah.

Meski demikian, kondisi ini hanya berlangsung sementara. Saraf-saraf di sekitar vagina akan kembali normal dan tingkat sensitivitas organ intim juga turut meningkat setelah Anda beristirahat selama beberapa menit,

Pada sebuah penelitian di Amerika Serikat, sebanyak 71,5% wanita tidak mengalami masalah terkait penggunaan vibrator.

Sisanya, hanya sekitar 0,05% wanita yang mengalami penurunan sensitivitas selama lebih dari satu hari setelah menggunakan vibrator.

Penurunan sensitivitas organ intim akibat menggunakan vibrator adalah hal yang lazim. Namun, kondisi ini juga tidak bersifat permanen seperti klaim orang-orang yang memercayai adanya dead vagina syndrome.

Selama dilakukan dengan intensitas yang wajar, penggunaan vibrator tidak akan menimbulkan bahaya bagi kesehatan, apalagi menyebabkan dead vagina syndrome.

Masturbasi bahkan dinilai memberikan manfaat bagi kesehatan seksual. Meski tak menimbulkan bahaya kesehatan, Anda harus memerhatikan seberapa sering Anda menggunakan alat bantu seks ini.

Pasalnya, penggunaan vibrator secara berlebihan dapat menimbulkan efek ketagihan, menurunkan produktivitas, serta mengganggu kehidupan seksual dengan pasangan.

penggunaan vibrator secara berlebihan dapat menimbulkan efek ketagihan, menurunkan produktivitas,

Orang-orang yang terlalu sering menggunakan vibrator cenderung merasa tidak puas saat berhubungan seksual bersama pasangan. Ini disebabkan karena orgasme saat berhubungan seksual tidak sebesar ketika menggunakan vibrator.

Rasa tidak puas tersebut lambat laun berubah menjadi rasa kecewa terhadap pasangan. Tidak hanya mengganggu kehidupan seksual, hal ini juga akan menurunkan kepercayaan diri dan kualitas hubungan intim bersama pasangan.

Penggunaan vibrator memang tidak menyebabkan dead vagina syndrome, tapi Anda tetap harus bijak dalam menggunakannya. Pada akhirnya, kedekatan emosional adalah faktor utama yang membuat hubungan seksual menjadi berkualitas, bukan seberapa kuat orgasme yang terjadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini