nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Masa Depan, Medsos Akan Digunakan untuk Diagnosis Penyakit Loh!

Senin 24 Juni 2019 15:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 24 481 2070213 di-masa-depan-medsos-akan-digunakan-untuk-diagnosis-penyakit-loh-1iGeTn4hni.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JANGAN kaget jika di masa depan dokter bisa mendeteksi penyakit apa yang ada di tubuh Anda dari postingan media sosial. Hal ini sejalan dengan kebiasaan manusia sekarang yang tak bisa lepas dari ponsel dan media sosial.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Pennsylvania mengatakan, kalau postingan media sosial dapat membantu para profesional medis mengidentifikasi dan mengelola berbagai kondisi kesehatan, termasuk diabetes, kecemasan, depresi, dan psikosis.

Para peneliti dari Penn Medicine dan Stony Brook University menganalisis postingan Facebook dan percaya kalau bahasa dalam postingan itu dapat menjadi indikator sebuah penyakit tertentu.

Selain itu, jika seseorang memberikan persetujuan, postingan tersebut dapat dipantau untuk melihat perkembangan sejauh mana penyakit ada di dalam diri seseorang. Studi ini diterbitkan di PLOS ONE.

Informasi tersebut dapat memberikan data tambahan tentang manajeman penyakit dan eksaserbasi dalam penentuan tindakan medis.

"Studi ini masih sangat awal, tetapi harapan kami adalah wawasan yang diperoleh dari postingan tersebut dapat digunakan untuk memberi informasi yang lebih baik kepada pasien dan penyedia layanan kesehatan," kata pemimpin penulis Raina Merchant, MD, MS, sekaligus direktur Pusat Kesehatan Digital Penn Medicine dan juga seorang profesor Kedokteran Darurat, seperti dikutip Okezone dari Psychcentral.

Menurut peneliti, postingan media sosial sering menampilkan curhatan asli si netizen dan bagaimana dia menjelaskan pengalaman gaya hidup mereka pun menjadi landasan utama yang bisa dipercaya. Informasi tersebut dapat memberikan data tambahan tentang manajeman penyakit dan eksaserbasi dalam penentuan tindakan medis.

Dengan menggunakan teknik pengumpulan data otomatis, para peneliti menganalisa seluruh riwayat postingan Facebook dari hampir 1.000 pasien yang setuju untuk memiliki data rekam medis elektronik terkait dengan profil media sosial mereka.

Peneliti kemudian membangun tiga model untuk menganalisis daya prediksi mereka untuk pasien; satu model hanya menganalisis bahasa postingan di Facebook, yang lain menggunakan demografi seperti usia dan jenis kelamin, dan yang terakhir menggabungkan dua set data tersebut.

Melihat ke 21 kondisi yang berbeda, para peneliti menemukan kalau Facebook dianggap cukup akurat dalam mendiagnosis pasien. Bahkan, 10 kondisi lebih baik diprediksi melalui data Facebook daripada informasi demografis.

Beberapa data Facebook yang ditemukan lebih prediktif daripada data demografis tampaknya intuitif. Misalnya penggunaan kata "minum" dan "botol", terbukti lebih prediktif terhadap penyalahgunaan alkohol.

  Bahkan, 10 kondisi lebih baik diprediksi melalui data Facebook daripada informasi demografis.

Namun, yang lain tidak semudah itu. Sebagai contoh, orang-orang yang paling sering menyebut bahasa agama seperti "Tuhan" atau "berdoa" di pos mereka 15 kali lebih mungkin menderita diabetes daripada mereka yang paling sedikit menggunakan istilah ini.

Selain itu, kata-kata yang mengungkapkan permusuhan, seperti "bodoh" dan beberapa kata-kata kasar lainnya, berfungsi sebagai indikator penyalahgunaan narkoba dan psikosis.

"Bahasa digital kami menangkap aspek-aspek kuat dari kehidupan pasien yang kemungkinan sangat berbeda dari apa yang ditangkap melalui data medis tradisional," kata penulis senior studi itu Andrew Schwartz, PhD.

Tahun lalu, banyak anggota tim peneliti ini dapat menunjukkan kalau analisis postingan Facebook dapat memprediksi diagnosis depresi sebanyak tiga bulan lebih awal daripada diagnosis di klinik.

Pekerjaan ini dibangun berdasarkan penelitian itu dan menunjukkan, mungkin ada potensi untuk mengembangkan sistem opt-in untuk pasien yang dapat menganalisis posting media sosial mereka dan memberikan informasi tambahan bagi dokter untuk memperbaiki pengiriman perawatan.

Akhir tahun ini, Merchant akan melakukan uji coba besar di mana pasien akan diminta untuk langsung berbagi konten media sosial dengan penyedia layanan kesehatan mereka.

Ini akan memberikan pandangan apakah mengelola data ini dan menerapkannya benar layak, serta berapa banyak pasien yang benar-benar setuju dengan akses postingan media sosial yang akhirnya dipantau ahli medis mereka.

Merchant akan melakukan uji coba besar di mana pasien akan diminta untuk langsung berbagi konten media sosial

“Satu tantangan dengan ini adalah ada begitu banyak data dan kami, sebagai penyedia, tidak dilatih untuk menafsirkannya sendiri - atau membuat keputusan klinis berdasarkan itu,” jelas Merchant.

"Untuk mengatasinya, kami akan mengeksplorasi cara menyingkat dan meringkas data media sosial," tambahnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini