nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Posting Foto di Makam Ani Yudhoyono, Ibas dan Keluarga Dihujat Netizen

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 25 Juni 2019 14:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 25 196 2070665 posting-foto-berziarah-ke-makam-ani-yudhoyono-ibas-dan-keluarga-dihujat-netizen-COIzvuY6CV.jpg Keluarga Ibas ziarah ke makam Ani Yudhoyono (Foto : @ibasyudhoyono/Instagram)

Foto Ibas Yudhoyono dan keluarga berziarah ke makam Ani Yudhoyono jadi perbincangan hangat netizen di media sosial. Banyak dari netizen menghakimi keluarga ini.

Ya, perspektif yang muncul dari beberapa pernyataan netizen mengerucut pada beberapa pembahasan. Adalah penampilan keluarga Ibas saat datang ke makam, bagaimana mereka ini tampil keren di foto, hingga mempermasalahkan Siti Ruby Aliya Rajasa yang tak mengenakan hijab saat berziarah.

Berdasar penelusuran Okezone di lini media sosial, akun Twitter @ElgarLouee coba merangkum beberapa komentar netizen yang bisa dikatakan tidak enak dibaca itu.

keluarga ibas

Dalam postingannya, Edgar Ong menuliskan caption seperti ini :

"Wahai orang-orang Indonesia, kalian ini kenapa sih? Seriously, kenapa kalian gampang banget salty dan judging orang lain? Segitunya kah berharap surga sampai kalian jadikan dunia ini neraka bagi sekitar kalian?"

Salah satu komentar yang dapat dilihat ialah cuitan dari @linda.puspitasari.777, "Mbak kalau ke makam itu sebaiknya pakai kerudung, malu sama malaikat juga. Kamu ke makam kok nggak pakai kerudung," cuitnya di kolom komentar foto Ibas yang dibagikan pada 12 Juni 2019.

Ada juga komentar pedas dari akun @purnomo_ahmad402, "Astagfirullah ke kuburan ada adabnya. Ke kuburan itu mendoakan si mayit untuk mengingat kematian, bukan untuk selfie," tegasnya. Begitu juga dengan komentar @hanisahumairaaaa, "Ke makam kok bergaya, ya? Nggak perlu selfie-selfie, doakan orangtua. Al Fatihah," tulisnya.

Tidak hanya tiga komentar itu, tapi masih ada ribuan komentar lain yang menyatakan kalau apa yang dilakukan Ibas dan keluarga di makam ibunya adalah sesuatu yang keliru dan salah. Tapi, apakah menghakimi orang lain dengan komentar-komentar seperti itu patut dilakukan?

Psikolog Meity Arianty coba menjelaskan bagaimana kondisi mudah menghakimi ini bisa terjadi pada sebagian masyarakat Indonesia. Menurutnya, tindakan menghakimi ini ialah hal pertama yang paling mudah dan paling cepat dilakukan orang sebelum mencari penyebab.

Biasanya, akar dari sikap ini adalah ketidaktahuan terhadap hal tersebut, merasa diri paling benar, merasa diri paling baik, merasa lebih religius, atau kurang melakukan introspeksi diri.

"Kondisi yang demikian yang akhirnya membuat seseorang merasa lebih tahu, kurang dapat mengendalikan diri atau emosi saat seenaknya menghakimi orang lain, padahal manusia dibekali akal pikiran agar berpikir dulu sebelum bertindak," terangnya pada Okezone melalui pesan singkat, Selasa (25/6/2019).

Ibas ziarah

Psikolog Mei melanjutkan, tindakan menghakimi orang lain juga mudah dilakukan dan tidak merasa jera karena tidak ada hukuman yang dapat diberikan bagi pelaku. "Sangat jarang terjadi kan di mana setelah menghakimi, seseorang dihukum sehingga ada efek jera agar lebih hati-hati dalam memberikan penilaian bagi orang lain," sambungnya.

Sangat disayangkan, sejauh ini siklus yang bakal terjadi ialah si pelaku penghakiman melontarkan kalimat pedas, lalu ditegur, dan dia meminta maaf.

"Padahal, minta maaf saja sepertinya kurang, terlebih efek yang dialami mereka yang dihakimi biasanya jadi luar biasa, bahkan mengakibatkan trauma mendalam jika tidak ditangani dengan benar," papar Mei.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini