nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gara-Gara Penyakit Ini BPJS Kesehatan Terus Defisit

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 26 Juni 2019 19:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 26 481 2071295 gara-gara-penyakit-ini-bpjs-kesehatan-terus-defisit-PERk8fhMrR.jpg Penyakit katastropik sebabkan BPJS Kesehatan defisit (Foto : Haaretz)

Akibat rokok pasien penyakit tidak menular semakin bertambah banyak. Hal itu berpengaruh pada pengeluaran BPJS Kesehatan yang menjadi defisit.

Pada Mei 2019, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengumumkan hasil audit terhadap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan atas temuan defisit anggaran sebesar Rp9,1 Triliun. Penyebab defisit ditengarai karena tingginya jumlah peserta BPJS Kesehatan, yang menderita penyakit tidak menular. Seperti jantung, stroke, dan kanker.

Selama tahun 2018 saja, tercatat Rp20,4 Triliun telah dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membiayai penyakit katastropik. Bahkan kanker paru saja masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia dengan 1,8 juta jiwa.

rumah sakit

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengatakan, data World Health Organization (WHO) tahin 2018 memperlihatkan, rokok merupakan penyebab utama dari kanker paru-paru. Kontribusinya bisa lebih dari 2/3 kematian secara global.

"Perokok akan terekspos ancaman kanker 13 kali lipat lebih tinggi dibandingkan non-perokok," tutur Dr Agus di Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Sementara itu, Pakar Kesehatan Publik dan Ketua Perkumpulan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia (PAMJAKI) dr Rosa Christiana Ginting, Betr.med, MHP, HIA, AAK, menyayangkan ironi banyaknya perokok di Indonesia. Padahal rokok bisa jadi salah satu faktor risiko kanker paru-paru.

"Kita juga harus mempertimbangkan bahwa perokok sering menghadapi gejala withdrawal yang merupakan akibat dari proses berhenti merokok," ucap dr Rosa.

Berdasarkan pengalaman perokok yang gagal berhenti, biasanya mengalami gejala seperti tremor, kecemasan, berkeringat secara berlebihan, hiperaktif, peningkatan detak jantung, bahkan mual dan muntah dapat dialami. Ini merupakan variasi dari gejala withdrawal. Maka sangat penting untuk melihat alternatif, yang tepat guna membantu seseorang berhenti merokok.

Pada 2018 saja, WHO melaporkan bahwa terdapat 30,4% perokok Indonesia, yang berusaha berhenti merokok. Namun hanya 9,4% di antaranya yang berhasil.

Visiting Professor dari Lee Kuan Yew School of Public Policy National University of SingaporenTikki Pangestu menjelaskan, pakar kesehatan dan dokter perlu lebih terbuka akan pendekatan lain demi berhenti merokok. Banyak cara yang sudah diimplementasikan di negara maju.

Salah satunya dengan Electronic Nicotine Delivery System (ENDS), yang dapat membantu perokok yang ingin berhenti atau beralih ke produk alternatif. Bukti-bukti ini sudah cukup untuk dijadikan petunjuk bagi para pemegang kebijakan.

berhenti merook

Lembaga penelitian kesehatan Public Health England melaporkan, pada paruh pertama 2017, tercatat lebih dari 20.000 perokok dewasa di Inggris berhenti merokok sepenuhnya. Hal ini merupakan tingkat kesuksesan tertinggi dalam sejarah.

"Laporan ini juga menyebutkan bahwa ENDS memiliki peran yang signifikan dalam mengurangi jumlah perokok di Inggris," kata Tikki.

Dalam laporan lain, riset peer-review yang dipublikasikan di Journal of Addiction Mei 2019 berjudul “Moderators of real‐world effectiveness of smoking cessation aids: a population study” menunjukkan bahwa penggunaan ENDS diasosiasikan dengan tingkat berhenti merokok yang cukup tinggi.

Juga berdasarkan data Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia, sekira 1,2 jiwa menggunakan vape sebagai pengganti kebiasaan merokok. Namun banyak penelitian yang pro dan kontra terhadap vape.

"Sekarang waktu yang tepat bagi Indonesia untuk memulai penelitian lokal secara komprehensif dan berkualitas. Karena bisa jadi solusi untuk mengurangi angka perokok di Indonesia,” tutup Rosa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini