nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Membahas Pro dan Kontra Peran Ganja di Dunia Medis

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 26 Juni 2019 20:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 26 481 2071324 membahas-pro-dan-kontra-peran-ganja-di-dunia-medis-PKVgmPq6D3.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BICARA mengenai daun ganja, maka kita akan dihadapkan dengan dua sisi yang berbeda. Sebagian pihak menilai kalau daun ini memberi manfaat, sedangkan sisi lain menilai ganja adalah barang haram.

Lantas, bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal ini? Lalu, apakah dunia medis Indonesia sudah terbuka itu dengan ganja seperti di beberapa negara maju?

Di beberapa tempat, misal di Florida, ada sekira 30 klinik di Florida sudah menjual es krim bernama Heavenly Hash ini yang dibuat dari CBD, atau senyawa non-psikoaktif utama yang ditemukan dalam ganja. Menurut Daily Mail, senyawa ini diyakini tidak membuat Anda "high" seperti yang dikhawatirkan banyak orang.

Several Florida doctor have begun selling their patients a cannabis-infused ice cream called Heavenly Has The ice cream was the idea of an oncology nurse who wanted to create a high-fat and high-protein ice cream containing CBD to make sure cancer patients were eating while reducing the side effects of chemotherapy treatments

Para dokter mengatakan, sejak pasien mereka mulai mengonsumsi produk ini, mereka telah melihat ada efek berkurangnya pasien akan ketergantungan resep obat, untuk mengelola efek samping dari kondisi kronis yang mereka alami.

Adapun ide awal es krim ganja ini, adalah untuk memastikan pasien kanker makan dengan benar selama perawatan kemoterapi, sekaligus mengurangi efek samping seperti mual, muntah dan nyeri neuropatik, serta perasaan depresi, dan kecemasan yang biasanya timbul karena kemoterapi.

Bahkan, di negara maju, penggunaan ganja untuk para pasien dengan kemoterapi pun sudah dilakukan. Dilansir Okezone dari Cancer.org, ganja diketahui sudah dipakai sebagai obat herbal berabad-abad yang lalu.

Para ilmuwan pun mengidentifikasi kalau banyak komponen aktif biologis dalam daun ini. Mereka menyebutnya 'cannabinoids'. Dua komponen terbaik yang ada di dalam ganja adalah bahan kimia delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBC).

Pada saat ini, US Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat mendaftarkan ganja dan cannabinoid sebagai zat yang dikendalikan oleh Schedule I. Ini berarti daun tersebut tidak dapat secara hukum diresepkan, dimiliki, atau dijual di bawah hukum federal.

daun tersebut tidak dapat secara hukum diresepkan, dimiliki, atau dijual di bawah hukum federal.

Sementara ganja utuh atau mentah, termasuk minyak ganja atau minyak rami, tidak disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk penggunaan medis apapun. Tetapi, penggunaan ganja untuk mengobati beberapa kondisi medis masih legal menurut hukum negara di banyak negara.

Salah satu yang terbaru adalah Thailand. Negara ini akhirnya melegalkan ganja untuk alasan medis. Keputusan ini bahkan dianggap sebagai hadiah tahun baru untuk masyarakat Thailand.

Lantas, apa manfaat fungsi ganja ini untuk penderita kanker? Benarkah bisa meminimalisir efek samping obat kemoterapi?

Sejumlah penelitian menemukan bahwa daun ini dapat menghilangkan pusing dan mual-mual akibat menjalani kemoterapi. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa ganja yang dihisap atau diuapkan, dapat membantu pengobatan nyeri neuropatik, nyeri yang disebabkan oleh saraf yang rusak.

Dalam penelitian lain, ganja yang dihisap juga diketahui dapat membantu meningkatkan asupan makanan pada pasien HIV.

Okezone coba membahas hal tersebut dengan Praktisi Medis dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, dan menurutnya, untuk Indonesia, ganja masih dinilai sebagai barang haram. Tapi, dia tidak menampik kalau beberapa negara sudah melakukan penelitian lebih lanjut terkait daun tersebut.

dia tidak menampik kalau beberapa negara sudah melakukan penelitian lebih lanjut terkait daun tersebut.

"Saat ini memang sudah ada penelitian di luar negeri yang membuktikan bahwa ganja bermanfaat bagi dunia Cannabis atau ganja memang bisa digunakan sebagai obat dengan cara dimakan, bukan diisap," paparnya melalui pesan singkat.

Di luar negeri, sambung dr Ari, penggunaan ganja dibatasi hanya ekstrak atau mengonsumsi daunnya saja. Manfaat ganja dari hasil penelitian di luar bermanfaat untuk nyeri, hubungan otot saraf, kemudian dalam keadaan mual bisa meningkatkan nafsu makan.

Meski penelitian di luar negeri sudah menyatakan ada manfaat di balik daun ganja, dr Ari menegaskan kalau ganja adalah barang haram di Indonesia dan ada yang dapat digunakan sebagai obat pengganti selain ganja yang bisa digunakan dalam dunia medis.

"Ganja termasuk golongan obat yang memengaruhi kesadaran seseorang, termasuk obat keras, dan juga suatu kelompok yang menyebabkan adiksi atas ketagihan. Ini alasan tegas kenapa daun tersebut masih dinilai haram di negara ini," tegasnya.

Dokter Ari menambahkan, meski di luar negeri produk-produk dari ganja ini sudah bisa ditemukan dengan "bebas", tapi pengawasan terkait penggunaannya masih diawasi dengan sangat ketat oleh pemerintah. Sebab, tidak bisa sembarangan juga menggunakan ganja sekali pun dengan alasan medis.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini