nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kurayakan Ulang Tahunmu dengan Akad

Sabtu 29 Juni 2019 00:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 28 196 2072319 kurayakan-ulang-tahunmu-dengan-akad-FE6xljyFOR.jpg Susi Fatimah dan Shulhan

Awalnya, kisah ini ingin kuwakilkan pada gemericik puisi Hujan Bulan Juni, yang setiap kali kubaca, menjadi basah hatiku, luber air mata melewati parit-parit kecil di wajahku. Aku tak kuasa atas derasnya rindu dendam yang coba kuhalau. Tapi begitulah bah perasaan, ia menggerus logika yang mengadang. Sudah, aku pasrah. Kuceritakan saja kisah ini, agar aku bisa tabah seperti hujan yang disyairkan Sapardi.

Tepat 5 tahun lalu, di bulan Juni, langit Ciputat teramat cerah. Dugaanku, matahari tengah berseri-seri menyambut tanggal pernikahan gadis yang paling kucintai. Teman-teman seperkuliahan kami dulu, sibuk berbagi undangan kebahagiaannya lewat media sosial. Tapi, kabar bahagia itu, justru tak pernah dialamatkan padaku. Sabar menanti iktikad baik, barangkali ada sapa darinya yang datang terlambat, dan sungguh aku siap menghadiri pernikahannya.

Malang dinanti, yang kulihat keesokan, wajahnya berseri. Disampingnya, berdiri seorang pria berwajah alim yang membersamainya melayani sesi foto pernikahan. Tanganku gemetar, hatiku diterpa badai kepiluan, hingga kedua lututku jatuh menopang badanku yang ambruk. Aku menangis sejadinya di dalam kamar berukuran 3x4 dengan warna cat senada senja.

Ini bukan kehilangan biasa, sebab sejak ia memintaku mengajari Bahasa Arab di salah satu perpustakaan fakultas di kampus hijau Ciputat, aku pun langsung jatuh hati. Bukan pada parasnya, bukan pula pada cara ia mengenakan busana muslimahnya. Aku menaruh hati pada semangat belajarnya, yang hingga akhir perkuliahan, ia memang menjadi ketua kelas terbaik bagi teman-teman sekelas dulu.

Tak terhitung sudah, bagaimana aku dan dia menikmati kegemaran jurnalistik dengan mengikuti begitu banyak pelatihan jurnalistik media, berburu peluang magang di sela-sela libur kuliah, mengejar beasiswa, hingga mencari pekerjaan serabutan demi tambahan uang jajan. Tak cuma itu, masih segar dalam ingatan, betapa kami saling meladeni amarah, menyikapi kekecewaan, dan menopang perkuliahan hingga masing-masing kami lulus dengan predikat terbaik.

Tapi, semua itu tak cukup. Aku melihat benih perpecahan di antara kami. Aku yang waktu itu lulus lebih lama setahun darinya, mulai kehilangan tenaga untuk terus mengimbangi semangatnya. Sedangkan di luar sana, di dunia jurnalistik yang mulai digelutinya, mulai memberi banyak alternatif masa depan, tentu saja termasuk dengan pria mana ia akan mengikat janji pernikahan.

Katanya, aku tak pasti dan lambat. Ia butuh pria yang lebih “sejati”, yang datang memintanya pada orangtuanya. Masih kuingat, ceritanya tentang seloroh bapaknya; kalau kamu menikah dengan Shulhan, bapak tidak akan keberatan. Optimismeku masih bisa terjaga, setidaknya, bapak-ibunya masih di pihakku, sekalipun waktu itu kami sudah sulit berkomunikasi dan bertemu. Terlebih, ada pria yang waktu itu begitu ngotot ingin mempersuntingnya.

Lalu, pada suatu malam yang purnamanya tertutup awan kelabu, aku mendengar kata maaf darinya. Sebuah maaf yang membuatku meminta hujan turun secepatnya biar tangisku dapat tersamarkan. Katanya, “Maaf, aku akan menikah”. Tak lama, undangan pernikahannya pun sampai ke gawai pintarku untuk melipatgandakan dukaku. Riwayatnya, ada pria yang tanpa permisi telah merencanakan pernikahan, yang mau tak mau, tak sanggup ia tolak.

Aku masih menahan isak di kamar 3x4 itu, menunggu solidaritas perasaan kawan-kawan seperjuangan, yang setidaknya mau memintaku untuk tabah dan sabar. Tak lama, sebuah pesan singkat menyapaku: “Sabar Shulhan. Saya turut merasakan sakitmu. Saya dan teman-teman masih berdiri di samping kamu,” nasihat seorang dosen yang memang tahu betul kisah kasih kita di kampus dan beliaulah pembimbing skripsi kami berdua.

Singkat cerita, aku mengalami depresi panjang, kurang lebih setahun. Tapi tenang, tak sampai membuatku gila, apalagi berpikir gantung diri. No! Aku justru membeli sebanyak mungkin buku untuk kulahap sendirian, termasuk buku-buku dan video terapi. Masih kuat dalam ingatan, buku karya mentalis Indonesia Romy Rafael “Hypnotherapy” dan “After The Affair” karya Janis Abrahms menjadi buku andalanku. Aku yakin, hanya pikiran sehatlah yang mampu meminimalisir beban emosional yang selama ini kubawa.

Tapi, sama saja. Seperti kataku di awal cerita, bagai bah, cinta dan rinduku tak kunjung surut. Sempat kupikir ini kutukan atau mungkin efek salah niat dalam hidupku selama ini. Bahkan, teman sekamarku pernah mendapati aku menangis ketika tidur, dan saat aku terjaga, ada air yang menggenangi mataku. Akhirnya, aku berinisiatif untuk memaafkan diriku yang mungkin terlalu mencintai mahluk-Nya. Mungkin Tuhan cemburu, begitu hiburku. Sejak itu, aku niatkan untuk mendoakan dirinya pada setiap sujud akhirku. Dan aku yakin, cinta memang tak mesti memiliki, justru cinta harus siap kehilangan.

Alhamdulillah… Sejak itu, aku tak lagi gusar pada hujan yang turun membawa rindu tentangnya. Aku menikmati semua romantisme yang pernah kita lalui dulu. Dan bagiku, hujan berikutnya adalah momentum tuk menyuburkan kemesraan. Dan kalaupun ada kenangan yang bertunas kembali, itulah berkahnya.

Kataku pada air langit itu; Aduhai hujan yang menyuburkan kebijaksanaan, datanglah sekali waktu saat aku tak butuh. Supaya aku tahu, ia merinduiku. Hujan yang menumbuhkan syukur, aku sudah mulai malu berterimakasih lantaran banyak menerima. Dan hujan yang menyemai Juni ini, datanglah saja di lain waktu, biar aku tak berdosa menunggunya.

Selang setahun yang mendamaikan hatiku di penghujung 2014, di saat aku tengah memandu perasaan pada perempuan yang sungguh amat baik hatinya. Tetiba aku disuguhi mimpi-mimpi aneh, hampir tiga kali dalam sebulan. Aku memimpikannya lagi. Kali ini, ia datang dengan kaos pink dan kerudung pink yang dahulu kerap dipakainya sewaktu kuliah. Tapi, ada yang aneh, senyum tertahan, tak lagi presisi seperti gadis yang kucintai dulu.

Hingga 5 tahun berikutnya, ia rutin mendatangi mimpiku, kadang dengan isak tangis, kadang pula dengan genggaman yang enggan ia lepaskan, namun terlepas jua. Di situlah aku kembali bersedih, dan semakin kuat doa-doaku melangit. Bahkan, ingin sekali kubacakan sendiri doa-doa itu di pintu langit agar diprioritaskan Tuhan demi kebaikannya.

Lima tahun berlalu, pembimbing skripsi kami dulu, yang kini masih mejadi mentor akademikku, mulai memberi isyarat baru. Katanya, ada hati yang dulu sempat luput dari peta masa depanku, tengah membutuhkan seseorang yang bisa menopang pundaknya. Tapi aku tak ambil pusing. Aku sedang fokus mengejar mimpi-mimpi yang pernah kubisikkan padanya dulu, tentang Amerika, tentang New York.

Aku tengah berada di ruang wawancara Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Beasiswa Indonesia Timur (BIT), menjalani tes pamungkas dari sejumlah rangkaian tes yang tentu saja tak mudah. Aku dikelilingi 4 pewawancara; seorang pakar politik sesuai background akademikku, psikolog, TNI, dan perwakilan pemerintah Maluku. Kami berdialog dan berdebat cukup sengit mengenai NKRI yang dirongrongrong radikalisme juga tentang kutub liberal di Indonesia.

Di tengah semua ketegangan itu, tetiba aku dikejutkan dengan pertanyaan dari psikolog perempuan yang sedari awal sudah membaca mataku. “Apa kesedihan terberatmu?” Sontak kujawab, aku kehilangan kakek dan teman-teman nonmuslimku saat Ambon bergejolak konflik sosial dalam rentang 2000-2004 silam.

Katanya lagi, “Tapi, saya melihat ada beban yang lebih dari itu”. Jawabku sedikit pelan, aku terpisah jauh dari orangtua lantaran harus melanjutkan studi ke Jawa Barat sejak usia 11 tahun. “Ah, tidak. Mata kamu masih menyimpan duka. Saya yakin ada yang lebih berat lagi,” desak psikolog itu.

Dengan nada berat dan sedikit emosional, aku menjawab datar; kesedihan terdalam dan terberat dalam hidupku hingga saat ini adalah (sedikit menjeda bicara), adalah putus cinta. “Hahahahahaha” sontak pecah tawa dalam ruangan dan mencairkan suasana. Tapi, baik aku maupun sang spikolog, tetap berwajah datar. “Sudah, jangan hiraukan perempuan itu. No heart feelings,” saran pewawancara lainnya.

Lalu aku buru-buru menyambarnya; selagi ada sedikit cinta di hati, aku takkan mengatakan TIDAK (aku tahu, saran itu hanya jebakan psikologis). Alhasil, saat pengumunan hasil tes seleksi LPDP, aku berhasil menyabet beasiswa LPDP BIT dengan negara tujuan studi Amerika Serikat. Seketika dalam pikiranku hanya ada satu nasihat, “Tak ada jalan lain untuk meraih sukses, kecuali Kerja Keras”. Dan dialah pemilik nasihat itu, yang saban hari selalu bilang begitu, disaat aku mulai bosan dengan kuliah.

Kini beasiswa sudah di tangan, dan orangtuaku meminta segera datangkan calon mantu. Mulai dari teman, kawan kerja, sampai para dosen yang mengenalku, sibuk menyuguhkan jodoh. Lalu datang pesan WA dari seorang dosen perempuan; Shulhan, Bismillah. Lamar Susi.” Hah, aku kaget. Bertanya kenapa sang dosen menyarankan Susi Fatimah, perempuan yang menjadi tambatan hatiku dulu, padahal ia masih berumah tangga setahuku. Lalu dosen itu menjelaskan, Susi sudah bercerai. Pernikahannya dulu tak harmonis, terlalu banyak derita yang ia terima dari lelaki yang mendahuluimu dulu. Dan cerita tentangnya, tentang doa-doanya, tentang doa orangtuanya di depan Ka’bah, juga tentang harapan akan satu nama; Shulhan Rumaru.

Aku tak lantas menerima keadaan itu. Beban di masa lalu masih terngiang. Lalu kuberanikan diri, bertanya pada orangtua tentang siapa yang layak. Tak lupa kuselipkan namanya, sekadar ingin memastikan bahwa pilihanku yang sekarang lebih baik dari dirinya yang datang dari masa lalu. Apalagi, ia juga sudah punya seorang anak lelaki yang Juni ini akan genap 6 tahun. Tapi aku tersentak akhirnya, kata ibuku, “Ada Susi dalam doa-doa Mama.” Bapak yang juga baru kembali dari tanah Suci Makkah pun bilang; “Bapak yakin Susi akan menjadi yang terbaik buatmu. Sebab itu, foto-foto Susi yang kamu simpan di lemari rumah sejak kuliah dulu, tak bergeser seincipun.” Allahu Akbar, hatiku basah, lebih deras dari hujan kapanpun. Pikiranku penuh tanya, skenario apa ini ya Allah?

Waktu melaju tanpa mempedulikan kegusaranku, seperti mengajakku move on, beranjak dari kisah lalu dan mulai menulis kembali romantisme baru. Hari-hariku dipenuhi istikhara, sebab aku tak ingin berlayar dengan perahu yang salah, aku tak ingin putar haluan dan kembali ke dermaga jika suda mengucap akad.

Lantas, semakin kemari, alam seperti menyuguhkan cerita anyar dengan lakon lama. Tak ada jalan untukku menjauh. Keluarga, sahabat, dosen dan orang-orang di sekelilingku mengiyakan bahwa aku mesti kembali dengan Susi Fatimah, perempuanku dulu. Herannya lagi, dari tatap, sikap, dan senyum anaknya, semua terpancar cinta. Aku seperti terpapar sihir lelaki kecil itu. Jadilah aku dipanggil Papa Donat dan tentu dia anak donat. Iya, ini tentang keluguan anaknya yang bahagia saat kusuguhkan jajanan kesukaannya, donat.

“Ah, sudahlah, mantan jadi manten ini,” selorohku pada sahabat baikku yang dibalasnya dengan sedikit ‘berkhutbah’, “Jalani saja, Han. Kalau Allah yang takdirkan, pastilah baik.” Ya, sudah, memang begini takdirnya, mungkin. Dan aku mencoba berkomunikasi dengan kedua orangtua dan meminta mereka melamar Susi sesuai saran dosenku tadi.

Hingga tiba waktunya, dengan segala kekurangan yang aku punya, kuberikan tulisan kecil ini padanya:

Sebenarnya, aku tak tahu bagaimana bersikap mesra di hari ulang tahunmu. Dalam hati dan pikiranku, hanya ada satu inisiatif, mengucap AKAD. Dan memang aku tak punya kemewahan untuk diberikan, kecuali janji suci itu.

Aku hanya lelaki biasa, tak bisa merayumu dengan bait-bait cinta layaknya Gibran, tak juga seperti Imam Albusyiri yang memuja "Cintanya" dengan syair-syair Qashidah Al-Burdah, apalagi seperti Sulaiman sang Nabi yang memindahkan singgasana Ratu Bilqis kedalam Istananya yang megah nan indah.

Aku hanya bisa menyapamu tulus, tanpa kepalsuan, dan penuh kesederhanaan. Meminjam ide-ide biasa dalam benakku untuk menyatakan kehangatan.

Barangkali, dari banyak kataku yang paling manis juga semua sikap beraniku, inilah yang paling ternekat. Sebab pikirku, setelah semua yang kita lewati, pahit, manis, dan segala yang membumbui kisah kita, cukup sudah untuk disia-siakan.

Aku hanya ingin menerima semua takdir ini dengan hati bersih, juga berlapang dada atas semua kisah yang berlalu. Mungkin nanti kau mulai menelisik ke dalam hatiku; tentang maafku, rinduku, sayangku, dan semua tentang kasih. Semoga kau terbiasa, tahu bagaimana sakit juga bahagianya aku.

Maafkan juga diriku, bukan baru sekarang kutunaikan niatan baik ini. Tapi Tuhan-lah yang telah membuat kisah ini sebegitu dramatis. Bersama, pergi, lalu kembali disatukan, tanpa rencana, tanpa sengaja, tanpa prasangka apapun sebelumnya, "kun fayakun" - Jadi, maka jadilah. Begitulah romantisme kita. Percaya saja, sebab Dia-lah sebaik-baiknya penulis cerita.

Insya Allah, akulah yang akan (paling) bertanggungjawab atas semua resolusi hidup kita nanti, dan apapun yang Allah tetapkan atas itu. Pun aku ingin mewujudkan apa yang ayahmu rindukan; berangkat ke masjid bersama menantu idamannya.

Dan di sinilah aku sekarang, beritikad mengucap AKAD di hari lahirmu (15 Juni), sekali saja untuk selamanya, juga menghadiahimu bacaan Surah Arrahman seperti yang kau impikan sejak awal kita jumpa. Selamat ulang tahun, Cinta. Bismillah!

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini