nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sering Malas Gerak, Awas Bisa Kena Parkinson di Masa Tua

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 28 Juni 2019 16:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 28 481 2072168 sering-malas-gerak-awas-bisa-kena-parkinson-di-masa-tua-f7zSAomg5X.jpg Ilustrasi (Foto: Verywell)

Munculnya gejala tremor saat istirahat menjadi salah satu gejala parkinson yang bisa dialami oleh siapa saja. Ini merupakan satu penyakit degeneratif yang menyerang saraf dan harus segera diatasi.

Parkinson saat ini bisa diderita oleh siapa saja, tak memandang jenis kelamin, usia dan ras. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, 1 dari 250 orang berusia 40 tahun ke atas, bisa kena parkinson. Sementara 1 dari 600 orang di atas 65 tahun bisa mengidap penyakit tersebut.

Pada awalnya, seorang pasien akan mengeluh sulit gerak dan otot kaku. Selain itu, tremor juga jadi salah satu gejala yang patut dicurigai.

Adapun penyebab terjadinya parkinson ternyata dari hal sepele. Anda yang sering malas gerak atau malas olahraga dalam kehidupan sehari-hari bisa memperlambat kerja sel dopamin.

 Tangan dua orang

"Nah parkinson itu terjadi karena kekurangan dopamin, biasanya orang sering mager (malas gerak). Akibatnya pasien mengalami kekakuan, tangan atau kaki tiba-tiba bergetar, serta mengalami gangguan keseimbangan," tutur Spesialis Saraf dr Frandy Susatia, SpS di Siloam Hospital Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (28/6/2019).

Dokter Frandy menambahkan, untuk menghilangkan gejala tersebut, pasien akan melakukan beberapa tahap pengobatan. Langkah awal yakni diberikan obat oral setelah konsultasi dengan dokter saraf, pasien juga bisa disuntik botox ke dalam otot, sampai nantinya disarankan untuk operasi stimulasi otak.

Dalam jangka panjang, ketiga jenis pengobatan tersebut memang ada kurang dan lebihnya. Misalnya saja jika pasien diberikan obat-obatan tapi tidak efektif, harus dilakukan operasi stimulasi otak.

Operasi tersebut menjadi standar baku penyembuhan parkinson yang mempermudah kesembuhan pasien. Bahkan tindakan ini sudah diakui Food Drug Administration Amerika Serikat sejak lama.

Dijelaskan Spesialis Bedah Saraf Dr dr Made Agus Mahendra Inggas, SpBS, ketika pasien parkinson menjalani operasi stimulasi otak, sangat memungkinkan sel dopamin terangsang dengan baik. Setelah sel itu bekerja optimal, pengobatan dilanjutkan dengan obat-obatan agar lebih efektif.

"Pasien parkinson banyak yang berhasil melakukan operasi. Gejala-gejala seperti tremor, kekakuan otot, sampai sulit gerak itu hilang setelah dioperasi," terang dr Made.

Cukup rumit memang metode dari operasi stimulasi otak tersebut. Nantinya di dalam tubuh pasien akan dilakukan penanaman elektroda atau chip di salah satu bagian dalam otak. Kemudian alat tersebut dihubungkan dengan kabel dan baterai atau dikenal dengan istilah neurostimulator, yang akan dipasang di area dada. Meski dipasang chip, tingkat keamanannya sudahlah terjamin.

Saat dipasang alat tersebut, sambung dr Made, pasien harus dalam keadaan sadar. Setelah itu, dokter memprogram alat tersebut agar pasien bisa kembali mampu bergerak sesaat setelah operasi.

"Operasi ini dianggap dapat memperbaiki kualitas hidup pasien. Yang tadinya merasa enggak enak karena tremor atau berbaring tahunan di ranjang, setelah melakukan tindakan bisa langsung beraktivitas normal," pungkas dr Made.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini