Memandang Nikah Siri dari Kacamata Anak Milenial, Setuju Gak Mereka?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 30 Juni 2019 08:25 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 30 612 2072689 memandang-nikah-siri-dari-kacamata-anak-milenial-setuju-gak-mereka-5qZk8ihfjo.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

FENOMENA nikah siri sempat booming di Indonesia. Bahkan, sederet selebriti Tanah Air dikabarkan telah melakukan nikah sirih tanpa sepengetahuan publik. Salah satunya pasangan Aura Kasih dan Eryck Amaral.

Sebelum menikah secara sah, Aura Kasih dan Eryck Amaral sempat menikah secara siri pada September 2018 lalu. Ia mengaku melakukan hal tersebut agar cepat memiliki momongan.

Kebetulan, pada saat itu, Eryck yang diketahui berkewarganegaraan asing masih harus mengurus sejumlah dokumen penting, dan menyelesaikan kontrak kerjanya hingga tidak memungkinkan untuk keduanya menikah di KUA.

menyelesaikan kontrak kerjanya hingga tidak memungkinkan untuk keduanya menikah di KUA.

Selain Aura Kasih, masih banyak selebriti maupun masyarakat umum yang memutuskan untuk menikah siri dengan berbagai alasan.

Pada artikel kali ini, Okezone akan mencoba mengulas fenomena tersebut dari sudut pandang milenial.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) praktik nikah siri ini masih banyak ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia, seperti di Cisarua, Jawa Barat.

Ada beberapa faktor pemicu yang melatarbelakangi seseorang melakukan praktik nikah siri, antara lain untuk meningkatkan ekonomi keluarga, rendahnya nilai sosial, keinginan berpoligami, menghindari diri dari perbuatan zina, kondisi sosial budaya atau adat istiadat, dan lain sebagainya.

Menurut Dennis Dwi Nugroho, salah seorang responden yang berhasil diwawancarai Okezone, tidak ada yang salah bila seseorang memilih untuk menikah siri. Apalagi praktik ini juga dianggap sah secara agama selama rukunnya terpenuhi.

Apalagi praktik ini juga dianggap sah secara agama selama rukunnya terpenuhi.

Sebagaimana diketahui, rukun pernikahan dalam Islam antara lain ada pengantin laki-laki, pengantin perempuan, wali, dua orang saksi laki-laki, mahar, serta ijab dan kabul.

"Menurut gue nikah siri itu sah-sah saja, bahkan dari sisi agama sekalipun. Ada sisi positifnya juga karena dapat mengantisipasi zinah dan terjadinya fitnah," tutur Dennis di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Minggu (30/6/2019).

Kendati demikian, Dennis mengimbau agar masyarakat Indonesia melangsungkan pernikahan secara resmi di KUA. Pertimbangannya adalah demi masa depan anak-anak mereka kelak.

"Kalau gue sih lebih baik menikah sewajarnya, nikah secara benar dan dengan orang yang kamu suka, dan di KUA. Nikah siri itu sah secara agama tapi tidak memiliki kekuatan hukum, dan tidak diakui negara," jelas Dennis.

"Nanti kasihan anaknya juga, dia jadi enggak punya akta, dan susah mau daftar sekolah. Kasihan buat pasangannya juga enggak punya buku nikah. Kalau tiba-tiba pihak prianya kabur, kan susah kalau mau meminta pertanggung jawaban," timpalnya.

Bagi yang beragama Islam, hal ini berarti pernikahan mereka juga harus dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA).

Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, disebutkan bahwa tiap-tiap perkawinan harus dicatat negara. Bagi yang beragama Islam, hal ini berarti pernikahan mereka juga harus dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA).

Bila dana yang menjadi kendala utama, negara sebetulnya telah mengantisipasi hal tersebut dengan menyediakan nikah gratis sesuai syarat dan ketentuan berlaku.

"Nikah di KUA pada hari biasa (Senin-Jumat) itu gratis. Tapi kalau weekend dikenakan biaya sebesar Rp600 ribu. Tinggal disesuaikan saja dengan kemampuan masing-masing," tutup Dennis.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini