nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penderita Diabetes di Indonesia Terus Meningkat, Mengapa?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 01 Juli 2019 17:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 01 481 2073157 penderita-diabetes-di-indonesia-terus-meningkat-mengapa-5QvY5vcGr8.jpg Penderita diabetes terus meningkat (Foto: Huffingtonpost)

PENYAKIT diabetes di Indonesia masih terbilang tinggi. Kurangnya kesadaran akan penyakit ini membuat masyarakat kerap menyepelekan diabetes. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa berakibat fatal karena adanya komplikasi.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan hasil survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Riskesdas 2007, penyakit tidak menular seperti stroke, hipertensi, diabetes mellitus, tumor dan jantung terus meningkat setiap tahunnya.

Pada 1995 tercatat 41,7 persen masyarakat meninggal karena penyakit ini. Pada 2001 naik menjadi 49,9 persen dan 2007 menjadi 59,5 persen. Pada 2017 Indonesia menduduki peringkat ke-enam dengan jumlah pasien diabetes terbanyak sebesar 10,3 juta.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 prevalensi masyarakat yang mengalami diabetes mellitus diperkirakan sebesar 10,9 persen.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum PB PERKENI, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD. Ia sangat prihatin dengan kasus penanganan penyakit diabetes di Tanah Air. Ia pun membandingkannya dengan Mesir yang notabene memiliki angka diabetes yang jauh lebih rendah dari Indonesia.

 Diabetes

“Mesir pun yang jumlah diabetesnya lebih kecil tapi biayanya lebih besar. Saat ini Indonesia bersaing dengan Pakistan. Obesitas paling dekat dengan diabetes. Negara maju pola hidup berubah. Obesitas disebabkan karena makan terlalu banyak tapi olahraganya kurang,” terang Prof. Ketut, dalam acara Peluncuran Aplikasi Deep, Senin (1/7/2019).

Lebih lanjut, Prof. Ketut menjelaskan bahwa di kawasan Legian dekat Ubud, Bali memiliki angka diabetes yang sangat tinggi sekali. Peningkatan tersebut berjalan dengan sangat cepat dan sebagian besar dari mereka justru tidak menyadari kalau sudah mengidap diabetes.

“Peningkatan diabetes sangat cepat sekali dan para pasien tidak menyadari dirinya mengalami diabetes. Jadi dia kalau gak tau, maka tidak berobat dan pada akhirnya mereka sakit jantung dan ginjal yang berujung pada habisnya anggaran BPJS,” lanjutnya.

Ia pun menjelaskan rendahnya pengetahuan para masyarakat akan penyakit ini sebagai salah satu akibatnya. Kebanyakan orang masih menggunakan pil dah jarang yang mau menggunakan insulin. Selain itu mereka juga kerap berhenti berobat ketika tubuhnya merasa sudah agak membaik.

“Pengobatan diabetes di Indonesia masih menggunakan pil, lima persen menggunakan insulin dan sisanya menggunakan campuran pil. Sebagian dari mereka akan berenti beribat saat merasa sudah enak. Dan berenti berobat akan menyebabkan gula darah naik dan menyebabkan komplikasi,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini