nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polemik Ikan Asin Galih Ginanjar, Psikolog Ungkap Alasan Pria Bongkar Aib Mantan Istri

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 02 Juli 2019 11:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 02 196 2073541 polemik-ikan-asin-galih-ginanjar-psikolog-ungkap-alasan-pria-bongkar-aib-mantan-istri-lF8mnbpMbj.jpg Komentar ikan asin Galih Ginanjar jadi polemik (Foto : Youtube)

Kasus Ikan Asin yang dimulai Galih Ginanjar akhirnya sampai ke meja hukum. Fairuz A Rafiq gugat mantan suaminya itu ke Polda Metro Jaya karena pernyataan kontroversial tersebut.

Kasus ini bermula saat Galih Ginanjar diwawancarai dalam konten Youtube Rey Utami dan Pablo Benua. Video tersebut diunggah pada 16 Juni 2019. Di sana Galih menyatakan kalau bau Miss V Fairuz seperti aroma ikan asin.

Terlepas dari "pelecehan secara verbal"  ikan asin yang dilakukan Galih terhadap mantan istrinya tersebut, Psikolog Meity Arianty coba memberikan pernyataan terkait kenapa seorang suami bisa membeberkan aib istri atau mantan istrinya.

Galih Ginanjar

(Foto : Youtube)

Pada Okezone, Psikolog yang biasa disapa Mei itu coba menjelaskan di awal dengan kutipan hadis di mana dijelaskan, sesungguhnya manusia yang paling rendah kedudukannya di hari kiamat adalah seorang laki-laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) dengan istrinya, kemudian membeberkan rahasia istrinya tersebut (HR Muslim).

"Bahkan, Rasulullah melabeli suami atau istri yang membuka aib pasangannya sebagai manusia paling jelek di sisi Allah SWT, karena mereka sudah mengingkari amanah yang seharusnya dipegang. Jelas juga dalam kasus ini, di mana membuka aib pasangan sama dengan membuka aib sendiri," katanya melalui pesan singkat, Selasa (2/7/2019).

Sementara itu, sambung Psikolog Mei, dalam kacamata hukum, orang tersebut bisa dijerat UU ITE. Sebab, pernyataannya direkam dan disebarkan di media sosial sehingga semua orang bisa mengakses pernyataan tersebut.

Lantas, bagaimana kacamata psikologis melihat perseteruan Galih Ginanjar-Fairuz dengan kata ikan asin tersebut? 

Psikolog Mei menuturkan, secara psikologis, tentu hal ini juga dampaknya besar baik bagi korban (yang disebarluaskan aibnya), keluarga yang bersangkutan (korban), dan orang-orang yang melihat tayangan atau mendengar aib tersebut, dalam konteks ini masyarakat. Bagi korban dan masyarakat yang turut merasakan hal tersebut akan memiliki perasaan marah, kesal, benci, malu, tertekan, dan lain-lain.

"Mengumbar masalah pernikahan baik yang masih bersama atau sudah bercerai apalagi ke media sosial dampaknya sangat luas dan bisa berdampak buruk. Hal itu juga akan menjadi perguncingan banyak orang seolah menelanjangi pasangan itu dan dirinya sendiri, sehingga bisa dilihat seperti apa kualitas seseorang yang melakukan hal tersebut (mengumbar aib pasangan) apalagi untuk hal yang sangat sensitif," kata Psikolog Mei.

rey utami dan galih

(Foto : Youtube)

Pelaku pengumbar aib tidak bahagia dengan dirinya sendiri!

Psikolog Mei melanjutkan, biasanya orang yang melakukan tindakan ceroboh seperti mengumbar aib pasangan itu bermasalah dengan dirinya sendiri, sehingga ada ketidakpuasan pada dirinya dan hidupnya atau mungkin pikirannya sehingga dia melakukan tindakan yang tidak dipikirkan secara matang.

"Hal yang diperoleh mungkin kepuasan, kesenangan sesaat, atau hal lain yang diinginkannya. Namun, harusnya hal tersebut tidak akan bertahan lama, karena menurut saya cepat atau lambat pelaku akan menyesali perbuatannya. Tapi, sebenarnya buat apa penyesalan di belakang ketika dampaknya sudah besar dan tidak dapat ditarik kembali," ungkap Psikolog Mei.

Maaf saja rasanya tidak cukup untuk menebus perbuatan menyakiti orang lain terlebih hal itu (membuka aib) dilakukan dengan sengaja. Meski begitu, menurut Psikolog Mei, seseorang yang melakukan pembongkaran aib pasangan, patut dikasihani karena mungkin dia tidak bahagia dengan dirinya atau hidupnya sehingga dengan sengaja atau tidak, dia sudah menyakiti orang lain, baik yang diceritakan aibnya atau orang lain yang merasakan hal sama, dalam hal ini masyarakat yang melihat dan mendengar aib tersebut.

Karena kita tahu kalau orang yang melakukan hal tersebut biasanya adalah orang yang tidak bahagia dengan hidupnya, mungkin ada pengaruh dari pengalaman masa lalu di sini.

"Maka, sebagai korban, dapat membantu dirinya untuk menyadari kalau "orang yang menyulitkan" dalam hal ini pelaku, dapat membawanya ke pemahaman yang lebih baik, kalau orang yang melakukan keburukan ke kita tentu jauh lebih menderita dibanding kita sebagai korban," paparnya.

Galih Ginanjar ikan asin

Kalau dengan memaafkan membuat korban menjadi lebih baik, sambung Psikolog Mei, hal itu tentu akan sangat baik dilakukan. Sebab, balasan tidak harus dari korban.

"Seperti kita percaya kalau apa yang dilakukan seseorang di dunia ini akan kembali ke dirinya sendiri atau yang biasa kita sebut dengan hukum karma," tambahnya.

Lapor ke polisi adalah upaya memberi efek jera

Apa yang dilakukan Fairuz ke mantan suaminya, Galih Ginanjar, dengan melaporkannya ke pihak kepolisian menurut Psikolog Mei bukan didasari rasa amarah, melainkan memberi efek jera.

"Menurut aku, awalnya si mantan istri itu tidak berpikir untuk melakukan pelaporan ke pihak kepolisian. Sebab, di awal pemberitaan, sepertinya Fairuz berusaha menerima dan memilih buat tidak merespon berlebih, agar tidak berkepanjangan," kata Psikolog Mei.

Fairuz dan Hotman

(Foto : Vania/Okezone)

Dia melanjutkan, namun kalau dilihat lagi apa yang dilakukan Galih, sepertinya dia tidak meminta maaf dan merasa tidak pernah merasa bersalah. Jadi, kemungkinan mantan istrinya itu merasa harus ada efek jera agar hal tersebut tidak dilakukan pihak lain.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini