nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Susahnya Narapidana Membesarkan Anak di Penjara

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 04 Juli 2019 11:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 04 612 2074489 susahnya-narapidana-membesarkan-anak-di-penjara-IVdLhuXdUH.jpg Narapidana membesarkan anak di penjara (Foto: BBC)

Sebanyak 12 anak di bawah usia dua tahun tinggal di balik jeruji Lapas Perempuan Malang, Jawa Timur. Mereka tinggal bersama ibu mereka yang menjadi narapidana.

Namun penjara jelas bukan tempat yang ideal untuk membesarkan anak. Sebab di sana tempat narapidana mendapatkan hukuman untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

 narapidana

(Foto: BBC)

Bocah laki-laki itu berdiri di samping pintu berjeruji, berusaha untuk keluar. Di belakangnya tampak petugas perempuan sigap membimbing. Sementara di belakang mereka, seorang perempuan sedang menggendong bayi, tampak melongok dari balik pintu, ingin tahu dengan apa yang terjadi di dunia luar.

Pada saat-saat tertentu, pintu berterali besi ini dibuka agar anak-anak yang tinggal di balik jeruji, bisa menikmati udara segar dan bermain layaknya anak-anak kebanyakan.

Damar (bukan nama sebenarnya), bocah laki-laki berusia 17 bulan itu, sejak lahir tinggal di dalam Lapas Wanita Kelas IIA Sukun di Malang, Jawa Timur. Bocah itu bersama ibunya yang menjadi narapidana karena terjerat kasus narkoba.

Dia dan 11 anak lainnya di bawah usia dua tahun terpaksa tinggal dengan ibu mereka di penjara. Oleh negara, mereka disebut sebagai 'anak bawaan'.

Ibu Damar, YS, yang sudah menjalani 20 bulan masa tahanannya di penjara, mengaku terpaksa mengasuh Damar di balik jeruji.

Menurutnya, pilihan membesarkan anak di penjara jauh lebih baik ketimbang menitipkan anak kepada keluarga. "Memang kasihan kalau anak tinggal di sini. Tapi dengan kebutuhan khusus anak, seperti ASI, diasuh di sini, biar ada temannya buat mainan, ada yang jagain," ujar YS kepada BBC News Indonesia.

Sehari-harinya, perempuan berusia 21 tahun itu tinggal bersama Damar dan ibu-ibu lain yang juga terpaksa harus mengasuh anak mereka di dalam penjara.

Ruang ibu dan anak yang terletak di blok satu hanya memiliki daya tampung maksimal 10 ibu dan anak.

Namun kini, terdapat 12 anak yang tinggal dengan ibu mereka di Lapas Perempuan Malang, jumlah terbanyak sepanjang sejarah lapas khusus perempuan itu mulai beroperasi sejak 1969.

Salah satu teman bermain Damar adalah Upik (bukan nama sebenarnya). Bocah perempuan itu sudah delapan bulan menghabiskan waktu di dalam penjara.

Ibunya, KF, yang berasal dari Sidoarjo, mengatakan dia mengetahui dirinya hamil ketika ditahan oleh polisi karena kasus narkoba. Pada saat itu, dia sudah hamil dua bulan. Dia lantas divonis penjara empat tahun satu bulan.

"Kita jalani di [Lapas] Medaeng dan akhirnya ketika hamil besar di Medaeng nggak ada fasilitas ibu dan anak, jadi kita ditaruh di sini, di Malang," jelasnya.

Selama ini, Lapas Perempuan Malang memang menjadi rujukan bagi tahanan dan napi perempuan yang hamil dan membesarkan anaknya di penjara.

Kepala Lapas Kelas IIA Malang, Ika Yusanti mengatakan, saat ini Lapas Perempuan Kelas IIA Malang yang berdaya tampung 164 orang, diisi 668 orang, atau lima kali lipat dari kapasitasnya.

"Memang tidak semuanya warga Malang. Sebenarnya warga Malang itu hanya sekitar 150-an, tapi karena ini satu-satunya lapas perempuan di Jawa Timur maka penghuni kami adalah rujukan lapas-lapas yang ada di Jawa Timur," ujar Ika.

Kementerian Hukum dan HAM mencatat, saat ini ada 67 'anak bawaan' yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Kesehariannya seperti biasa. Kalau bangun subuh gitu anak dimandiin. Kadang habis itu kita kasih makan, kita ajak main-main. Seperti biasa lah di luar lah gimana kalau kita merawat anak. Sama aja kok di sini," jawab YS ketika ditanya bagaimana mengasuh anaknya di dalam penjara sehari-hari.

Dari 12 anak, Damar adalah anak yang paling lama menjalani hari-harinya di bui. Kini, saat usianya menginjak 17 bulan, dia selalu penasaran dengan dunia luar.

Di dalam penjara, dia pun tidak familiar dengan figur ayah yang jarang ditemuinya. Imbasnya, tiap kali dia melihat pengunjung atau petugas pria, selalu memanggil mereka dengan sebutan 'bapak'.

"Terus kalau ada sesuatu yang mungkin dia nggak tahu, ditanya, walaupun pakai isyarat bahasa bayi," kata YS.

Tak bisa dipungkiri, tutur YS, membesarkan anak di dalam penjara tidaklah mudah. Apalagi, dirinya harus berbagi dengan ibu-ibu lain yang juga mengasuh anak mereka dalam satu ruangan.

"Ya kalau ramai sih iya, mungkin biasa kalau bayi kecil-kecil sebab di sini yang paling besar cuma Damar. Itu mungkin dia sering usil sama adik-adiknya, ngejailin," kata dia.

 

Keberadaan mereka melebihi kapasitas ruang ibu dan anak. Sebagian terpaksa tinggal sementara di poliklinik yang letaknya tak jauh dari ruang ibu dan anak.

1
2

Berita Terkait

Lifehack

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini