nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kenapa Sih Menguap Itu Menular, Tanda-Tanda Penyakit Kah?

Agregasi Hellosehat.com, Jurnalis · Jum'at 05 Juli 2019 12:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 05 481 2074965 kenapa-sih-menguat-itu-menular-tanda-tanda-penyakit-kah-PKyabeoNas.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KETIKA seseorang menguap, tanpa sadar kita pun akan ikut menguap juga. Lantas, kenapa hal itu bisa terjadi padahal kita tidak mengantuk, apakah mungkin tanda-tanda kita tengah sakit?

Meski sering dianggap sebagai penanda rasa kantuk, menguap sebenarnya didesain untuk menjaga kita tetap terjaga, kata beberapa peneliti seperti dilansir BBC dalam sebuah penelitian yang dilaporkan pada tahun 2007 lalu.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa, lebih dari sekadar penanda waktunya tidur, alasan menguap adalah untuk mendinginkan otak, sehingga ia bekerja lebih efisien dan menjaga Anda tetap terbangun.

Namun, berbagai teori ini masih menyisakan banyak pertanyaan tentang kebiasaan manusia perihal menguap, dan salah satunya adalah mengapa orang cenderung ikut menguap ketika melihat orang lain menguap, atau bahkan ikut menguap saat sedang membaca tentang menguap atau memikirkan tentang menguap.

berbagai teori ini masih menyisakan banyak pertanyaan tentang kebiasaan manusia perihal menguap

Sedikit pencerahan dari ilmuwan asal University of Albany di New York, Dr. Gordon Gallup, yang melakukan penelitian tentang menguap ini: ikut-ikutan menguap bukan berarti kita “tertular” rasa kantuk orang lain.

“Kami pikir menularnya menguap ini dipicu oleh mekanisme empati pada manusia, yang fungsinya menjaga kewaspadaan otak,” ujar Dr. Gordon, yang memimpin para peneliti di universitas tersebut.

Dalam penelitian lainnya dilaporkan bahwa menguap merupakan salah satu kebiasaan yang memiliki kemampuan “menggiring” secara tidak sadar, sama seperti ketika burung terbang dan mengepakkan sayapnya secara bersama-sama.

Teori lain berhipotesis bahwa jika seseorang menguap karena “tertular” orang lain, ini bisa membantu seseorang mengomunikasikan tingkat kewaspadaan mereka sekaligus mengoordinasikan waktu tidur.

orang lain dengan menguap, dan akan dibalas dengan menguap juga sebagai sinyal bahwa mereka setuju.

Pada dasarnya, jika salah seorang memutuskan untuk tidur, mereka akan mengatakannya kepada orang lain dengan menguap, dan akan dibalas dengan menguap juga sebagai sinyal bahwa mereka setuju.

Molly Helt, peneliti dari psikologi klinis di University of Connecticut, Storrs, mengatakan, menguap dapat membantu dokter mendiagnosis perkembangan gangguan kesehatan pada seseorang. Menguap juga bisa membantu dokter untuk lebih memahami bagaimana seseorang berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain.

“Penularan emosional adalah insting alami yang dimiliki semua manusia. Menguap mungkin termasuk salah satunya,” kata Molly.

Inspirasi dari penelitian ini datang ketika ia mencoba untuk membersihkan telinga anaknya yang mengidap autisme. Ia berulang kali menguap di depan si anak, berharap anaknya juga menguap. Tapi anaknya tidak pernah menguap balik.

“Fakta bahwa anak autis tidak melakukannya bisa berarti mereka benar-benar tidak merespons hubungan emosi di sekitar mereka,” paparnya.

Selain itu Robert Provine, ahli saraf dari University of Maryland, Baltimore County mengatakan bahwa sebenarnya janin juga sudah bisa menguap. Janin menguap di dalam rahim kira-kira sejak 11 minggu setelah terbentuk.

Sayangnya, alasan ilmiah yang pasti tentang mengapa menguap bisa menular belum bisa dijelaskan oleh para peneliti. Sama seperti menularnya tawa dan tangis, para peneliti dan ilmuwan memiliki teori bahwa menguap yang menular merupakan pengalaman bersama yang meningkatkan hubungan sosial.

Janin menguap di dalam rahim kira-kira sejak 11 minggu setelah terbentuk.

Secara spesifik Helt mengatakan, menguap bisa mengurangi stres dan menebarkan rasa tenang dalam sebuah kelompok. Tapi, Usia adalah faktor utama yang secara signifikan mempengaruhi orang untuk tertular dan ikut menguap.

Pada orang yang lebih tua, mereka tidak mudah tertular untuk menguap saat menonton video orang lain yang sedang menguap. Namun, usia hanya menjelaskan 8% perbedaan dari seluruh peserta yang merespons video tersebut.

“Penelitian kami tidak menunjukkan cukup bukti bahwa ada hubungan antara menguap yang menular, dengan sugesti empati,” tutur Elizabeth Cirulli, asisten profesor kedokteran di Center for Human Genome Variation di Duke University School of Medicine.

Lantas, sudah berapa kali Anda menguap saat membaca?

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini