nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nestapa Baiq Nuril Melawan Pelecehan Seksual hingga Nasib sang Anak

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 09 Juli 2019 11:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 09 196 2076472 nestapa-baiq-nuril-melawan-pelecehan-seksual-hingga-nasib-sang-anak-YpaJopKDoW.jpg Nestapa Baiq Nuril mencari keadilan (Foto : New Straits Times)

Baiq Nuril meminta dengan sangat pada Presiden Jokowi untuk mengabulkan amnestinya. Jalan ini jadi upaya yang kini diharapkan dari ketidakadilan yang dia alami.

Belum lama ini Baiq Nuril dan rombongan pun menyambangi kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Kedatangannya ke sana untuk membahas amnesti yang dia pinta langsung ke Presiden Jokowi.

Di momen tersebut, Baiq meneteskan air mata. Dia tak tahu harus berbuat apalagi selain mengadu pada sang presiden. Dia mengibaratkan diri sebagai anak dan Jokowi adalah bapaknya dan karena itu dia sangat berharap permintaan amnestinya bisa dikabulkan. Demi penegakkan keadilan menurut Baiq.

"Harapannya, saya ingin Pak Presiden mengabulkan permohonan amnesti saya dan saya rasa sebagai seorang anak, ke mana lagi harus meminta selain berlindung pada Bapak Presiden," ucap Baiq teriring isak tangis.

Baiq Nuril bersama bisa

(Foto : Arie DS/Okezone)

Upaya Baiq melawan pelecehan seksual begitu terjal. Peninjauan Kembali (PK) yang dia ajukan ditolak Mahkamah Agung (MA). Dalam kasus ini, MA telah memutuskan menghukum Baiq Nuril dengan hukuman penjara 6 bulan dan denda Rp500 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Upaya melawan pelecehan seksual berbuah mala petaka

Kasus ini viral setelah Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), melaporkan adanya upaya perusakan nama baik yang dilakukan pegawai honorernya yang itu adalah Baiq Nuril.

Merasa tidak terima aibnya dibongkar dan diketahui banyak orang, alhasil Kepsek M melaporkan Baiq ke polisi atas dasar Pasal 27 Ayat (1) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Padahal, fakta yang terjadi sebenarnya, menurut pengakuan Baiq, dirinya mendapat pelecehan seksual berupa kalimat verbal yang diberikan Kepsek M melalui sambungan telepon. Beberapa sumber menjelaskan, kejadian itu terjadi berkali-kali dan sudah sejak 2012!

Baiq Nuril Harus Bebas

(Foto : Arie DS/Okezone)

Baiq melakukan perekaman telepon dengan alasan mendapatkan bukti kalau kepala sekolah itu benar melakukan pelecehan seksual verbal padanya. Rekaman didapat, Baiq tak lantas melapor ke pihak kepolisian demi pekerjaan.

Tak lapor ke polisi, tidak kemudian membuat Baiq diam diri. Dia malah 'curhat' ke rekan kerjanya yang bernama Iman Mudawin. Iman lantas melaporkan rekaman tersebut ke Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Mataram.

Dari sanalah akhirnya rekaman tersebut tersebar. Kepsek M lantas melaporkan Baiq ke polisi dengan dasar Pasal UU ITE. Padahal, yang diduga melakukan penyebaran ialah Iman. Kini, Baiq Nuril mesti menelan kepahitan hidup. Dia tetap dipenjara dan rela melepas pekerjaannya sebagai guru honorer di SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Surat sang anak untuk Presiden

Baiq Nuril dibui, tak berdaya di mata hukum. Baiq Nuril sangat berharap amnesti dari Presiden Jokowi terealisasi. Segala upaya dilakukan Baiq untuk bisa mendapatkan keadilan dan bisa kembali pulang ke rumah memeluk ketiga anaknya.

Selama proses hukum berlangsung, Baiq diketahui bilang ke anaknya kalau dia sekolah. Tak pulang-pulang, sang anak akhirnya membuat surat untuk Presiden Jokowi.

Surat tersebut sempat viral di media sosial. Akun Twitter @MuhadklyAcho yang membagikannya. Diketahui, anaknya selama ini taunya sang ibu sekolah selama di penjara. Seperti apa bunyi suratnya?

"Kepada bapak Jokowi

Jangan suruh ibu saya sekolah lagi.

Dari Rafi"

Surat untuk Presiden

(Foto : @MuhadklyAcho/Twitter)

Surat tersebut dibuat Rafi di atas secarik kertas putih. Mungkin itu di buku sekolahnya. Tulisan tangannya memang tak rapi, tapi harapan sang anak bisa memeluk ibunya itu sangat dalam. Bocah itu sangat berharap ibunya, Baiq Nuril, bisa kembali ke rumah. Bersama dia selamanya.

Tagar #SaveIbuNuril pun sempat viral di jagat media sosial. Banyak masyarakat yang mendukung Baiq Nuril mendapatkan keadilan. Netizen memeluk Baiq Nuril dengan kalimat dukungan dan tagar tersebut sempat menduduki trending topik. Bukti ada dukungan dari direnggutnya keadilan dari seorang korban pelecehan seksual.

Psikologis keluarga dan anak Baiq Nuril mesti diperhatikan

Okezone sempat menanyakan kasus ini pada Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi. Dia coba melihat sisi lain dari kasus ini yaitu sisi psikologis. "Saya tidak dapat membayangkan bagaimana sedihnya keluarga Nuril, bagaimana suaminya yang pasti merasa syok, malu, sedih, kecewa, bahkan mungkin marah mendengar kabar tersebut," ungkap Psikolog Mei kala itu.

Psikolog Mei sadar betul, kabar ini membuat hati banyak orang kecewa. "Mendengar istrinya dilecehkan saja pasti sudah sangat berat, apalagi sekarang harus menerima kenyataan kalau Baiq Nuril menjadi tersangka," sambungnya.

Bahkan, menurut Psikolog Mei, tidak sampai di situ saja. Hal yang paling menyedihkan adalah anak Baiq Nuril yang dikabarkan tidak mau bersekolah karena kasus ini. Anak-anak Baiq Nuril merasa malu, tentu juga sedih dengan adanya pemberitaan ini. "Mau marah, marah sama siapa? Dapat dibayangkan bagaimana keluarga Nuril harus menanggung rasa malu dan kesedihan itu," sambungnya.

Baiq Nuril sedih

(Foto : AFP)

Di sisi lain, Psikolog Mei merasa perlu melihat kasus ini dari sudut pandang si anak. Seperti diketahui, peran ibu sangat besar dalam mendidik anak, membentuk karakter, dan keberhasilan tumbuh kembang anak. Peran ibu dinilai lebih besar daripada ayah atau pun anggota keluarga lainnya.

Menurut Psikolog Mei, hal ini bukan tanpa dasar, karena dengan asumsi, ibu memiliki waktu tatap muka dengan anak relatif lebih banyak daripada anggota keluarga lainnya (ini mungkin akan berbeda apabila yang bekerja justru ibu bukan ayah).

Merujuk pada referensi psikologi, menurut Imama (2013) peran ibu untuk anak merupakan perilaku atau sikap yang diharapkan sesuai dengan posisi atau fungsi sosial yang diberikan. Sebagai ibu tentu diharapkan bisa berperan sebagai pendidik pertama dan utama dalam tumbuh kembang anak.

Dari kasus ini, Psikolog Mei berpandangan, diketahui Nuril ialah guru honorer yang tentu ekspektasi anak menjadi dua kali lipat. Namun, apa yang diharapkan anak ternyata belum sesuai dengan yang dihadapinya sekarang.

"Anak Nuril tentu tidak tahu harus bagaimana menghadapi kondisi tersebut. Saya rasa akan jauh lebih mudah memberikan pemahaman kepada suaminya ketimbang anak-anaknya," kata Psikolog Mei.

Aksi Bela Baiq

(Foto : Ist)

Nah, dengan begitu, upaya yang dapat dilakukan masyarakat atau orang terdekat Nuril ialah memberikan dukungan pada Nuril sehingga dengan demikian dia merasa lebih tenang.

"Anaknya pun akan merasakan dukungan ke ibunya sehingga kemarahan atau kekecewaannya sedikit berkurang, dan nanti pelan-pelan Nuril dapat memberikan pengertian tentang kasus yang menimpanya. Saya yakin anak-anaknya Nuril akan memahami dan lebih memercayai ibunya dibanding orang lain," ungkap Psikolog Mei.

Namun perlu diingat, sambung Psikolog Mei, kita sebagai masyarakat yang mendukung Nuril dalam mencari kebenaran bukan berarti membenci atau menyalahkan pihak yang satu, karena biarlah pengadilan yang memutuskan hal tersebut.

"Seperti yang sering kali saya sampaikan terutama kepada mahasiswa saat mengajar, usahakan saat Anda menyukai atau mendukung salah satu pihak, maka jangan menghadirkan kebencian pada saat yang sama ke pihak yang lain. Fokus dengan dukungan atau rasa suka atau rasa cinta saja," saran Psikolog Mei.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini