nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bunuh Diri Tidak Selalu Disebabkan oleh Depresi, Ini Faktor Lainnya

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 11 Juli 2019 21:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 11 196 2077798 bunuh-diri-tidak-selalu-disebabkan-oleh-depresi-ini-faktor-lainnya-DR6tCJGcx4.jpg Ilustrasi (Foto: Psycom)

Tuntutan hidup di zaman serba cepat seperti sekarang ini tak bisa dipungkiri bisa membuat seseorang merasa frustrasi. Belum lagi tingkat kompetisi juga semakin tinggi. Ditambah dengan adanya media sosial membuat banyak orang berlomba-lomba ingin menunjukkan eksistensi jika dirinya lebih baik dan sempurna dibanding orang lain. Tekanan-tekanan semacam ini tak jarang bisa membuat orang nekat melakukan percobaan bunuh diri, terlebih bila dirinya tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah.

Beberapa orang mungkin ada yang berpikir jika pelaku bunuh diri nekat melakukan tindakan tersebut karena pemahaman agamanya kurang kuat. Sebab semua agama menentang bunuh diri dan mengklasifikasikannnya sebagai dosa berat. Namun nyatanya tidak selalu demikian. Ada pula orang yang melakukan percobaan bunuh diri meski tahu tindakan itu salah.

“Setiap orang punya faktor risiko dan faktor protektif untuk bunuh diri. Faktor protektif di antaranya adalah agama. Mereka kalau ditanya, rata-rata tahu jika agamanya melarang untuk bunuh diri dan rata-rata mengatakan menghayati agama dari skala 1-10 mencapai skor 8 bahkan 10. Tapi kekuatan agama tidak menutup potensi seseorang untuk bunuh diri karena ada faktor lain,” ungkap dokter spesialis kejiwaan, Dr. dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ saat ditemui Okezone dalam sebuah acara, Kamis (11/7/2019) di kawasan Depok, Jawa Barat.

 Wanita duduk

Sedangkan untuk faktor risiko, dokter yang baru saja meraih gelar doktor di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu mengatakan jika depresi saja tidak cukup untuk memprediksi seseorang memiliki ide atau hendak bunuh diri. Dirinya mengembangkan instrumen penelitian untuk mendeteksi dini faktor risiko ide bunuh diri. Instrumen itu ada 4 dimensi yaitu burdensubness, belongingness, loneliness, dan hopelessness.

Dimensi burdensubness dimana seseorang merasa menjadi beban bagi orang lain. Lalu dimensi belongingness dimana seseorang merasa tidak menjadi bagian dari apapun yang penting. Dimensi loneliness dimana seseorang merasa kesepian. Dimensi hopelessness dimana seseorang merasa tidak berdaya.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, seseorang yang memiliki salah satu atau lebih dari keempat dimensi ini berpotensi untuk bunuh diri meskipun sebelumnya mereka tidak menunjukkan gejala depresi. Selain itu, ada warning sign yang harus diwaspadai oleh orang-orang sekitar untuk mencegah terjadinya bunuh diri.

“Warning sign sebelum orang melakukan percobaan bunuh diri antara lain seseorang yang merasa capek dengan kehidupan, mengatakan lelah, minta maaf tanpa ada masalah, dan terkadang izin pergi. Pokoknya ada sesuatu yang berbeda dan terasa tidak wajar. Memang orang-orang di sekitarnya harus lebih waspada dan memerhatikan,” jelas dokter yang akrab disapa Noriyu itu.

Dokter Noriyu mengatakan, terkadang banyak orang yang menyadari jika ada sesuatu yang terjadi pada orang di sekitarnya. Namun mereka memilih untuk tidak memerhatikan dan tidak memedulikan. Mereka cenderung enggan melihat tanda-tanda tersebut sebagai sesuatu yang tidak wajar. Hal ini dikarenakan mereka denial dan tidak mau mengakui.

“Oleh karenanya kita harus menjadi lebih sensitif terhadap orang-orang di sekitar atas peristiwa yang terjadi padanya. Sebab enggak semua orang punya masalah A tapi reaksinya B. Semua orang punya gaya penerimaan yang berbeda dan inilah yang harus bisa disikapi oleh keluarga, sensitif, memerhatikan agar tidak terjadi tindak bunuh diri,” tandas dr Noriyu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini