nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Meski Mematikan, Bukan Kanker yang Membuat Kita Mati!

Muhammad Nazri, Jurnalis · Minggu 14 Juli 2019 12:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 14 481 2078666 meski-mematikan-bukan-kanker-yang-membuat-kita-mati-V3ao3JWtwo.jpg Penderita kanker membutuhkan dukungan moral (Foto: Flex Jobs)

Kanker rahim adalah kanker yang menyerang rahim atau sistem reproduksi wanita. Kanker ini umumnya menyerang sel-sel yang membentuk dinding rahim. Selain itu, kanker ini juga dapat menyerang otot-otot di sekitar rahim sehingga membentuk sarkoma uteri, tetapi hal tesebut sangat jarang terjadi.

 Kanker

(Foto: On Health)

Febria Silaen, seorang penyintas kanker yang didiagnosis menderita kanker rahim sejak Mei 2016 lalu. Ibu dengan satu anak ini sudah menjalani beberapa proses pengobatan untuk menyembuhkan penyakitnya.

“Jadi pada Mei 2016 saya hamil anak kedua. Usia kandungan ketika itu masih enam mingguan. Tapi ketika menginjak usia tujuh minggu saya harus dikuret karena ternyata kehamilan saya adalah hamil anggur. Setelah seminggu dikuret tidak ada gejala medis yang mengganggu hingga lepas sepekan kuret, saya mengalami pendarahan cukup hebat dan saya kembali kontrol,” jelas Febria kepada Okezone, Minggu (14/7/2019).

Setelah menjalani sejumlah pemeriksaan, Febria dinyatakan kehamilan masih di atas normal bahkan cenderung tinggi sehingga dokter kandungan pada saat itu merujuk Febria untuk ke dokter onkologi kebidanan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Ketika itu diketahui kehamilan anggur saya disebut dengan PTG alias penyakit troblast ganas sehingga saya diminta untuk kemoterapi suntik dengan MTX. Siklus kemoterapi Senin-Jumat. Namun, ternyata kemoterapi MTX tidak membawa hasil yang signifikan, saya malah pernah pendarahan hebat sekali hingga menyebabkan saya jatuh pingsan. Dan saya pun harus operasi angkat rahim karena keganasan pada hamil anggur yang saya alami.”

Setelah operasi angkat rahim, hasil patologi menyatakan tentang PTG yang serius. Ia harus melakukan CT Scan tiga bagian tubuhnya, yaitu kepala, perut, dan paru-paru. Dari hasil patologi, ternyata paru-parunya sudah metastatis atau penyebaran kanker dari sumber awal mulanya ke tempat yang lain. Hal tersebut mengharuskan Febria menjalani kemoterapi selama enam bulan

Mengetahui diagnosis dokter, membuat Febria sedih. Ia sedih bukan karena kanker yang ia idap. Tetapi lebih kepada soal ia yang tidak bisa hamil lagi setelah ia dinyatakan untuk melakukan operasi angkat rahim.

Menjadi pengidap kanker tidak membuat Febria putus asa. Ia sudah mendapatkan dukungan dari keluarga dan temannya sejak awal didiagnosis kanker. Febria yang berprofesi sebagai wartawan ini merasa mental seorang wartawan membantu dirinya untuk tidak mudah putus asa apabila dihadapi sebuah masalah.

“Beberapa temen sesama wartawan pun ada yang mengidap kanker juga. Mereka yang menjadi penyemangat saya.”

Febria kini menambah aktivitasnya dengan mengikuti komunitas kanker, yaitu Paguyuban Pelangi. Melalui komunitas tersebut, Febria banyak sekali dibantu secara psikis karena berada dan didukung oleh sesama pasien dan penyintas kanker. Ia juga menjadi semangat dalam menjalani pengobatan dan belajar banyak dari pasien lainnya dalam mengatasi rasa sakit saat kemoterapi.

Febria juga mengatakan untuk sesama pasien kanker, "Rasa kaget dan tidak terima itu jangan dilawan. Memang itu yang akan kita rasakan. Namun jangan berlarut-larut. Karena sakit itu bukan hanya membuat kita si pasien menderita, namun juga anak, suami, keluarga bahkan teman pun ikut merasakan penderitaan kita. Jadi memang kita harus melawan rasa sakit itu dan menerima bahwa kita sakit kanker.

Terima sakit kanker sebagai proses atau bagian dari kehidupan. Siapa pun bisa mengalami, mungkin saat ini saya, mungkin saja saat mendatang teman atau keluarga. Jadi jangan menolak tapi harus dijalani semua dengan ikhlas. Tetaplah pada jalur medis.

Usahakan berteman dengan sesama pasien, agar pengetahun kita bertambah dan tahu efek samping dari treatment yang dijalani dan bagaimana mengatasinya. "Setidaknya carilah informasi yang benar dan orang yang memang mengalami sakit kanker.”

“Kanker memang bisa mematikan kehidupan. Tapi bukan kanker yang membuat kita mati. Jadi tetaplah berjuang untuk menikmati hidup dan bahagia bersama keluarga dan teman tercinta. Jangan takuti kanker. Berjuanglah sampai akhir,” begitulan pesan Febria kepada sesama pasien kanker.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini